Om Swastyastu
Arti : Sebagai wujud kesucian hati (menurut sumber sastra Hindu seperti Purana dan
lontar-lontar di Bali seperti Agastya Parwa dan Siwaratrikalpa, segala jenis bunga
yang memancarkan bau harum, segar dan bersih dapat persembahkan kepada-Nya
sebagai wujud kesucian hati para penyembah-Nya.
Fungsi: Sebagai persembahan dan dalam praktek keagAmaan Hindu di Bali (yang diwarnai
oleh ajaran Tantra, maka warna putih dari kamboja dikaitkan dengan dewa Ìúvara dan
kamboja dengan warna yang lain dikaitkan dengan devatà yang lain pula.
Alasan kenapa dipilih : Bunga apapun dapat dipersembahkan asal memenuhi ketentuan antara
lain memancarkan bau harum, tidak layu, jatuh tidak dipetik, berisi semut, dimakan ulat
dan tumbuh di kuburan. Kamboja dipilih dilihat dari segi keindahan dan keharumannya.
Dalam lontar Jayantaka ada informasi tentang pohon-pohon & bunga-bunga kesukaan
para devata dan roh suci leluhur serta para Rsi.
Filosofinya : sebagai wujud ketulusan hati, persembahan yang murni,cinta kasih sejati.
Om Santih Santih Santih Om
Showing posts with label Upakara. Show all posts
Showing posts with label Upakara. Show all posts
Friday, June 29, 2018
Friday, November 25, 2011
CUNTAKA – KECUNTAKAAN
Salam Kasih
Om Swastyastu.
Ada kecendrung banyak dari kita, yang salah kaprah dlm penerapan kata Cuntaka sehingga sering terjadi perbedaan persepsi serta implementasi dalam menanggapi cuntaka itu sendiri.
Pada dasarnya Hyang Maha Suci ( Hyang Widhi Wasa) hanya bisa didekati dengan kesucian, sehingga sudah sewajarnyalah kalau kita ingin mendekatkan diri kita kepadaNya seyogyanya memakai jalur khusus yaitu kesucian lahir dan bathin, sehingga itulah sebabnya di beberapa tempat suci khususnya Utamaning Mandala sebuah pura biasanya sangatlah dipertahankan / diusahakan untuk memposisikan Pura itu di tempat yang suci, atau disucikan.
Tempat suci dengan tempat yang disucikan ada sedikit berbeda :
* Tempat Suci = ada beberapa area yang sudah dianggap suci oleh umat hindu berdasarkan lokasi yang dimilikinya suatu contoh : Puncak gunung ( manara giri ) Telebutan air / campuan air ( Danau ) Telengin segara ( samudra ) pura segara.
* Sedangkan Tempat yang Disucikan = Tempat yang sebelumnya kita tidak tahu historynya seperti apa, bisa jadi kuburan, bisa jadi alun alun dan sebagainya, karena merupakan kebutuhan masyarakat untuk dijadikan rumah Ibadah maka lokasi itupun disucikan sehingga menjadi tempat suci.
Nah dari kedua tempat suci yang disucikan itu, agar tetap kesuciannya terjamin sehingga dirasakan vibrasinya sangat istimewa, sehingga perlulah dibuat Guide line atau tatanan acara / sesananning masuk pura. Sehingga sesananing masuk pura di suatu tempat terkadang tidak sama dengan di tempat yang lain, meskipun tujuannya sama sama untuk menjaga kesucian Pura, hal ini sangat banyak dipengaruhi oleh Dresta setempat pada saat awig-awig itu disepakati bersama. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yang dilarang dilakukan dipura adalah sebagai berikut :
A. Cuntaka lantaran kotor lahiriah ( sebel )
* Hindari Bedarah darah masuk pura, yang sedang Menstruasi, luka berdarah termasuk tukang paebat yang tangannya masih belepotan dengan darah.
* Hindari netekin / menyonyonin di pura.
Hindari badan yang masih kotor, belepotan masuk pura, sehingga menimbulkan nuansa yang tidak sreg untuk sembahyang bagi yang lainnya yang datang sembah.
* Hindari membuang kotoran di pura ( buang air besar / kecil ).
* Hindari rambut jatuh di pura, sehingga diusahakan untuk mepusungan ke pura bagi yang istri, bagi yang lanang jangan potong rambut, kumis, jenggot dipura.
* Hindari meninggalkan kotoran, daki, bagian dari tubuh kita di pura, misalnya potong kuku, gosok gigi, korek kuping dan sebagainya.
* Terkadang ada yang menerapkan bagi anak wanita yang sudah semestinya datang bulan, tetapi sudah tutug kelih bulannya tak kunjung datang.
B. Cuntaka lantaran manah Bathiniah ( sebet )
* Ada bagian keluarga yang meninggal ( Umumnya mereka yg tunggal sembah ) penerapan awig-awig ini sangat beraneka ragam : Area Sebelnya ada sebatas tunggal sembah, sebatas tembok kiri kanan depan belakang, ada sampai sebatas dusun dan juga terkadang ada sampai satu desa. Demikianpun durasi lama waktu cuntaka ini, sangat bervariasi, ada sebatas s/d Ngerorasin bagi yang meninggal, ada sebatas ngelinggihan dewa hyang tergantung dari commitment krama adat itu sendiri.
* Hilang ingatan ( dianggap mati ) mayat berjalan.
* Kelahiran Bayi ( puput puser batas cuntaka sang ayah), dan 42 hari batas cuntaka sang Ibu.
Pada umum cuntaka seperti d iatas ini penerapannya hampir sama, namun terkadang ada juga yang berbeda, tetapi perbedaannya tidak terlalu menjolok. Nah inilah biasanya di buatkan awig-awig dalam tatanan masuk pura yang bertujuan untuk menjaga kesucian pura yang merupakan milik orang banyak.
C. Unpredicable cuntaka.
Ada bebrapa cuntaka yang sangat sulit untuk dideteksi orang lain, malahan terkadang hanya orang yang bersangkutan saja mengetahui dirinya tak layak untuk ke pura misalnya:
* Telah melakukan perbuatan asusila, nyolong, memfitnah, berkelahi (tetapi orang lain belum tentu tau kondisinya).
* Gamya Gemana – kawin dengan cara yang tidak wajar ( dengan ibu kandung, anak, dengan binatang dan sebagainya).
* Marah-marah (Mojar gangsul, nangun kroda), sehingga kalau dipaksakan dirinya berada di pura bisa jadi akan mempengaruhi keheningan dalam sembahyang.
Banyak lagi contoh-contoh yang lainnya, sehingga yang seperti ini sangat sulit untuk di prediksi sehingga sulit untuk mengundang-undangkan.
Demikian sekilas tentang Cuntaka
Om Santih Santih Santih Om
Om Swastyastu.
Ada kecendrung banyak dari kita, yang salah kaprah dlm penerapan kata Cuntaka sehingga sering terjadi perbedaan persepsi serta implementasi dalam menanggapi cuntaka itu sendiri.
Pada dasarnya Hyang Maha Suci ( Hyang Widhi Wasa) hanya bisa didekati dengan kesucian, sehingga sudah sewajarnyalah kalau kita ingin mendekatkan diri kita kepadaNya seyogyanya memakai jalur khusus yaitu kesucian lahir dan bathin, sehingga itulah sebabnya di beberapa tempat suci khususnya Utamaning Mandala sebuah pura biasanya sangatlah dipertahankan / diusahakan untuk memposisikan Pura itu di tempat yang suci, atau disucikan.
Tempat suci dengan tempat yang disucikan ada sedikit berbeda :
* Tempat Suci = ada beberapa area yang sudah dianggap suci oleh umat hindu berdasarkan lokasi yang dimilikinya suatu contoh : Puncak gunung ( manara giri ) Telebutan air / campuan air ( Danau ) Telengin segara ( samudra ) pura segara.
* Sedangkan Tempat yang Disucikan = Tempat yang sebelumnya kita tidak tahu historynya seperti apa, bisa jadi kuburan, bisa jadi alun alun dan sebagainya, karena merupakan kebutuhan masyarakat untuk dijadikan rumah Ibadah maka lokasi itupun disucikan sehingga menjadi tempat suci.
Nah dari kedua tempat suci yang disucikan itu, agar tetap kesuciannya terjamin sehingga dirasakan vibrasinya sangat istimewa, sehingga perlulah dibuat Guide line atau tatanan acara / sesananning masuk pura. Sehingga sesananing masuk pura di suatu tempat terkadang tidak sama dengan di tempat yang lain, meskipun tujuannya sama sama untuk menjaga kesucian Pura, hal ini sangat banyak dipengaruhi oleh Dresta setempat pada saat awig-awig itu disepakati bersama. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yang dilarang dilakukan dipura adalah sebagai berikut :
A. Cuntaka lantaran kotor lahiriah ( sebel )
* Hindari Bedarah darah masuk pura, yang sedang Menstruasi, luka berdarah termasuk tukang paebat yang tangannya masih belepotan dengan darah.
* Hindari netekin / menyonyonin di pura.
Hindari badan yang masih kotor, belepotan masuk pura, sehingga menimbulkan nuansa yang tidak sreg untuk sembahyang bagi yang lainnya yang datang sembah.
* Hindari membuang kotoran di pura ( buang air besar / kecil ).
* Hindari rambut jatuh di pura, sehingga diusahakan untuk mepusungan ke pura bagi yang istri, bagi yang lanang jangan potong rambut, kumis, jenggot dipura.
* Hindari meninggalkan kotoran, daki, bagian dari tubuh kita di pura, misalnya potong kuku, gosok gigi, korek kuping dan sebagainya.
* Terkadang ada yang menerapkan bagi anak wanita yang sudah semestinya datang bulan, tetapi sudah tutug kelih bulannya tak kunjung datang.
B. Cuntaka lantaran manah Bathiniah ( sebet )
* Ada bagian keluarga yang meninggal ( Umumnya mereka yg tunggal sembah ) penerapan awig-awig ini sangat beraneka ragam : Area Sebelnya ada sebatas tunggal sembah, sebatas tembok kiri kanan depan belakang, ada sampai sebatas dusun dan juga terkadang ada sampai satu desa. Demikianpun durasi lama waktu cuntaka ini, sangat bervariasi, ada sebatas s/d Ngerorasin bagi yang meninggal, ada sebatas ngelinggihan dewa hyang tergantung dari commitment krama adat itu sendiri.
* Hilang ingatan ( dianggap mati ) mayat berjalan.
* Kelahiran Bayi ( puput puser batas cuntaka sang ayah), dan 42 hari batas cuntaka sang Ibu.
Pada umum cuntaka seperti d iatas ini penerapannya hampir sama, namun terkadang ada juga yang berbeda, tetapi perbedaannya tidak terlalu menjolok. Nah inilah biasanya di buatkan awig-awig dalam tatanan masuk pura yang bertujuan untuk menjaga kesucian pura yang merupakan milik orang banyak.
C. Unpredicable cuntaka.
Ada bebrapa cuntaka yang sangat sulit untuk dideteksi orang lain, malahan terkadang hanya orang yang bersangkutan saja mengetahui dirinya tak layak untuk ke pura misalnya:
* Telah melakukan perbuatan asusila, nyolong, memfitnah, berkelahi (tetapi orang lain belum tentu tau kondisinya).
* Gamya Gemana – kawin dengan cara yang tidak wajar ( dengan ibu kandung, anak, dengan binatang dan sebagainya).
* Marah-marah (Mojar gangsul, nangun kroda), sehingga kalau dipaksakan dirinya berada di pura bisa jadi akan mempengaruhi keheningan dalam sembahyang.
Banyak lagi contoh-contoh yang lainnya, sehingga yang seperti ini sangat sulit untuk di prediksi sehingga sulit untuk mengundang-undangkan.
Demikian sekilas tentang Cuntaka
Om Santih Santih Santih Om
Thursday, November 17, 2011
NAMAKARA SAMSKARA ( BAYI TIGA BULAN ) Sebuah Kajian Filosofis
Salam Kasih
Oleh : Tantrayana Gautama
Bayi adalah anugerah Tuhan, manusia adalah titipan Tuhan Yang Maha Esa, yang harus dirawat dan dipelihara sebaik-baiknya. Bukan dirawat raganya saja tetapi jiwanya pun harus ikut dirawat. Raga dan jiwa sudah menjadi tanggung jawab orang tua untuk merawatnya dengan segala macam usaha. Untuk perawatan raganya diperlukan makanan yang bergizi serta gerakan-gerakan yang menyehatkan raganya sehingga pertumbuhan badaniahnya dapat terjamin dengan baik. Hindu memandang pemenuhan syarat-syarat ini belumlah cukup jika menginginkan untuk mendapatkan manusia-manusia yag sempurna, untuk dapat menyumbangkan kepada masyarakat dan Negara manusia-manusia sempurna lahir-bathin.
Kesempurnaan rohaniah akan bisa dipupuk dengan jiwa yaitu agama yang berunsurkan Tattva (fisafat), Etika (Susila) dan Upacara (ritual). Tattva dan Susila dapat diberikan setelah umur manusia itu cukup dewasa untuk menerimanya. Tetapi untuk bayi sampai umur tertentu, unsur upacaralah yang lebih diperlukan untuk keselamatan, kelangsungan hidup bayi yang masih rawan kondisinya. Dengan pemikiran beginilah mengapa orang Hindu menyibukkan diri dengan upacara-upacara keagamaan mulai dari awal-awal kehidupan seorang bayai yang tumbuh menjadi manusia yang utuh lahir dan bathin. Upacara-upacara itu ialah wujud dari permohonan kehadapan Tuhan untuk keselamatan serta panjang umur sang bayi.
Setelah bayi berumur tiga bulan dikenal dengan uapacara Tigang Sasih. Kalau di India dinamakan upacara Niskarmana (bayi umur tiga bulan ) atau Namakara (upacara pengesahan nama si bayi). Dalam bahasa Inggris disebut First Outing ( membawa bayi ke luar untuk pertama kalinya). Untuk apa ? untuk melihat matahari. Sedangkan untuk boleh melihat bulan dilakukan setelah bayi berumur empat bulan. Jadi ada perbedaan antara melihat matahari dan melihat bulan. Ini adalah symbol dari kondisi bayi untuk beradaptasi dengan udara siang dan udara malam di luar rumah.
Upacara tiga bulan ini dilakukan di rumah atau pura keluarga, pemujaan dilakukan oleh Pandita atau Pinandita dengan mengucapkan mantra-mantra suci Veda memohon kehadapan Hyang Widhi dalam manifestasiNya sebagai Dewa Kumara (dewanya para bayi) agar berkenan melindungi dan menjaga kelangsungan hidup si bayi.
Untuk pertama kalinya pula sang bayi diperkenankan menyentuh tanah (pertiwi) dan boleh dipakaikan hiasan-hiasan seperi cincin, anting-anting, kalung atau gelang dari jenis logam, dengan maksud bayi telah siap terhadap perjalanan hidupnya di dunia ini . Demikian makna upacara tiga bulan (Namakara Samskara) pada agama Hindu.
Om Santih Santih Santih Om
Oleh : Tantrayana Gautama
Bayi adalah anugerah Tuhan, manusia adalah titipan Tuhan Yang Maha Esa, yang harus dirawat dan dipelihara sebaik-baiknya. Bukan dirawat raganya saja tetapi jiwanya pun harus ikut dirawat. Raga dan jiwa sudah menjadi tanggung jawab orang tua untuk merawatnya dengan segala macam usaha. Untuk perawatan raganya diperlukan makanan yang bergizi serta gerakan-gerakan yang menyehatkan raganya sehingga pertumbuhan badaniahnya dapat terjamin dengan baik. Hindu memandang pemenuhan syarat-syarat ini belumlah cukup jika menginginkan untuk mendapatkan manusia-manusia yag sempurna, untuk dapat menyumbangkan kepada masyarakat dan Negara manusia-manusia sempurna lahir-bathin.
Kesempurnaan rohaniah akan bisa dipupuk dengan jiwa yaitu agama yang berunsurkan Tattva (fisafat), Etika (Susila) dan Upacara (ritual). Tattva dan Susila dapat diberikan setelah umur manusia itu cukup dewasa untuk menerimanya. Tetapi untuk bayi sampai umur tertentu, unsur upacaralah yang lebih diperlukan untuk keselamatan, kelangsungan hidup bayi yang masih rawan kondisinya. Dengan pemikiran beginilah mengapa orang Hindu menyibukkan diri dengan upacara-upacara keagamaan mulai dari awal-awal kehidupan seorang bayai yang tumbuh menjadi manusia yang utuh lahir dan bathin. Upacara-upacara itu ialah wujud dari permohonan kehadapan Tuhan untuk keselamatan serta panjang umur sang bayi.
Setelah bayi berumur tiga bulan dikenal dengan uapacara Tigang Sasih. Kalau di India dinamakan upacara Niskarmana (bayi umur tiga bulan ) atau Namakara (upacara pengesahan nama si bayi). Dalam bahasa Inggris disebut First Outing ( membawa bayi ke luar untuk pertama kalinya). Untuk apa ? untuk melihat matahari. Sedangkan untuk boleh melihat bulan dilakukan setelah bayi berumur empat bulan. Jadi ada perbedaan antara melihat matahari dan melihat bulan. Ini adalah symbol dari kondisi bayi untuk beradaptasi dengan udara siang dan udara malam di luar rumah.
Upacara tiga bulan ini dilakukan di rumah atau pura keluarga, pemujaan dilakukan oleh Pandita atau Pinandita dengan mengucapkan mantra-mantra suci Veda memohon kehadapan Hyang Widhi dalam manifestasiNya sebagai Dewa Kumara (dewanya para bayi) agar berkenan melindungi dan menjaga kelangsungan hidup si bayi.
Untuk pertama kalinya pula sang bayi diperkenankan menyentuh tanah (pertiwi) dan boleh dipakaikan hiasan-hiasan seperi cincin, anting-anting, kalung atau gelang dari jenis logam, dengan maksud bayi telah siap terhadap perjalanan hidupnya di dunia ini . Demikian makna upacara tiga bulan (Namakara Samskara) pada agama Hindu.
Om Santih Santih Santih Om
SARASVATĪPŪJĀ PENDORONG SEMANGAT BELAJAR DAN CINTA ILMU PENGETAHUAN
Salam Kasih
Kavyaṁ vyākaraṇaṁ tarkam,
Veda śāstraṁ Puraṇakam.
Kalpaśiddhīni tantrāni,
Tvat prasadat samārabhet.
(Atas karunia Hyang Sarasvatī umat manusia mempelajari kitab suci Veda dan sastra, syair, tata-bahasa, logika, berbagai disiplin dan sejarah) Sarasvatīpūjā, 5.
1. Sarasvatī, dewi ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan
Di Indonesia, setiap hari Sabtu Umanis Wuku Watugunung, hari terakhir dari Wuku terakhir dan hari Minggu Pahing Wuku Sinta, hari pertama dari Wuku pertama merupakan hari pemujaan kehadapan dewi Sarasvatī, dewi ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Bagi umat Hindu, memuja berbagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa yang jumlahnya tidak terbatas itu adalah merupakan sarana untuk mendekatkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa. Di antara ribuan manifestasi atau Udbhava-Nya itu terdapat tiga manifestasi utama Sang Hyang Vidhi, Tuhan Yang Maha Esa, yakni Brahma, Viṣṇu dan Śiva sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur alam semesta dan segala isinya. Dalam sekala kecil, dalam setiap sel dari makhluk hidup terjadi proses pencipta, tumbuh dan terpelihara dan lebur dalam bentuk kematian. Kata Brahma dalam bahasa Sanskerta berarti: bertambah besar, meluap, mengembang dan sejenisnya. Brahma disebut Svayambhu, yang artinya tercipta dengan sendiri-Nya karena tidak ada yang menciptakan-Nya. Sakti Brahma adalah Sarasvatī yang artinya yang mengalir tiada hentinya, pencipta huruf, penganugrah ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, yang menurunkan kitab suci Veda, pemberi inspirasi, pendorong semangat belajar dan sejenisnya. Brahma yang disebut juga Caturmukha dan Caturbhuja menunjukkan bahwa Tuhan Yang Maha Esa menguasai seluruh alama semesta dengan kemahakuasaan(Cadu Śakti)-Nya yang sangat dahsyat. Kata Viṣṇu berarti: pekerja yang tekun, yang meresapoi segalanya, yang memelihara segala dan sejenisnya. Sakti Viṣṇu adalah Śrī dan Lakṣmī yang di Bali disebut Śrī Sādhanā dan Bhaṭārī Melanting. Kata Śrī berarti kebahagiaan, kemakmuran, keberuntungan, kekayaan, kebesaran, keagungan, kecantikan, kemuliaan dan sejenisnya dan Lakṣmī berarti kesejahtraan, kemakmuran, keberuntungan, kecantikan, keindahan, kenang-kenangan yang indah dan sejenis dengan itu. Sedang Sādhanā berarti merealisasikan, jadi Śrī Sādhanā dimaksudkan mewujudkan atau merealisasikan kesejahtraan dan kebahagiaan dalam diri, keluarga dan lingkungan masyarakat. Selanjutnya Śiva berarti: yang memberikan keberuntungan (kerahayuan), yang baik hati, yang ramah, suka memaafkan, menyenangkan, memberi banyak harapan, membahagiakan dan sejenisnya. Sakti Śiva adalah dewi Durgā dan Parvatī. Kata Durgā berarti yang sulit dilalui, yang sulit di atasi, dibendung dan yang tidak dapat ditentang. Segala kuasanya selalu terjadi, tidak pernah gagal dalam menjalankan missinya sedang Parvatī adalah dewi gunung yang juga bermakna menganugrahkan kemakmuran, sebab pada wilayah yang banyak terdapat gunung, di sanalah sungai-sungai mengalir dan pada wilayah-wilayah itu selalu merupakan daerah-daearh yang subur yang memberikan kemakmuran kepada umat manusia.
Berdasarkan tinjauan etimologis dan makna semantik nama-nama yang ditujukan kepada keagungan dan kemahakuasaan-Nya adalah hal-hal yang sangat didambakan oleh umat manusia. Demikian pula adalah merupakan kewajiban bagi umat manusia untuk mempersembahkan pūjā bhakti atas karunia yang telah dilimpahkan kepada umat-Nya itu. Bagi umat Hindu, perwujudan rasa syukur dan terima kasih yang tulus kepada-Nya dilakukan melalui pemujaan, mempersembahkan kesucian hatinya kepada-Nya melalui peringatan atau perayaan hari-hari besar agama, seperti halnya hari Sarasvatīpūjā yang kita rayakan bersama.
Kini timbul pertanyaan, mengapa hari Sarasvti jatuh pada pertemuan Wuku terakhir dan pertama dalam perhitungan kalender Bali-Jawa, apakah perayaan Sarasvatī di India juga jatuh pada hari yang sama, hari Sabtu Umanis Wuku Watugunung ? Sesuai dengan sejarah perkembangan agama Hindu di India dan di negara-negara lainnya. Kedatangan agama Hindu di daerah-daerah itu tidak mengubah atau menghapuskan pola budaya masyarakat setempat, justru mengangkat (mempermulia) unsur-unsur budaya-budaya setempat dengan memasukkan nilai-nilai ajaran agama Hindu di daerah yang memeluk agama Hindu yang dikenal dengan Sanatana Dharma, yakni ajaran yang beṛṣifat kekal abadi. Di India kita tidak mengenal sistem Wuku (Pawukon) seperti kalender Jawa-Bali (Nusantara) seperti yang kita waris kini. Oleh karena itu perayaan Sarasvatīpūjā di sana tidak bersamaan jatuhnya dengan perayaan Sarasvatīpūjā di Indonesia. Di India pemujaan kepada Hyang Sarasvatī umumnya dikaitkan dengan Durgāpūjā, Dīpavalī dan Rāmanavāmi, yang jatuhnya pada sekita awal bulan Nopember dan April setiap tahun. Dengan demikian, Sarasvatī juga dipūjā dua kali dalam setahun (tahun Masehi) seperti halnya di Indonesia. Mengapa Sarasvatīpūjā jatuh pada hari terakhir dan hari pertama dari tahun Wuku ? Rupanya hal ini dapat dijelaskan bahwa ketika agama Hindu masuk ke Indonesia, orang Nusantara (khususnya Jawa dan Bali) sudah mengenal sistem tahun yang dikenal dengan Wuku atau Pawukon itu. Demikianlah hari-hari pemujaan kepada Iṣṭadevatā-Iṣṭadevatā, yakni manifestasi-manifestasi Tuhan Yang Maha Esa tertentu yang sangat didambakan oleh umat manusia yakni pengetahuan, kesejahtraan, kemakmuran, keberuntungan, keselamatan dan sejenisnya yang terdapat di India dimasukkan dalam sistem kalender Wuku itu. Sebagai contoh, hari-hari pemujaan kepada Iṣṭadevatā-Iṣṭadevatā seperti pemujaan kepada Sarasvatī dijatuhkan pada hari Sabtu Umanis Watugunung dan Minggu Pahing Wuku Sinta, hari Ayuddhapūjā dijatuhkan pada Tumpek Landep, hari Śaṁkarapūjā dijatuhkan pada Tumpek Variga, Śrī Lakṣmīpūjā pada Senin Pon dan Selasa Wage Wuku Sinta, Gurupūjā (Parameṣṭiigurupūjā) pada hari Rabu Kliwon Sinta dan lain-lain.
2. Meningkatkan Semangat Belajar
Adalah sangat memperihatinkan bahwa semangat belajar khususnya semangat membaca buku sebagai dilansir oleh berbagai media massa adalah sangat lemah di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya, khususnya di Asia. Hal ini secara sederhana dapat dilihat dari jumlah penerbitan buku setiap tahunnya dan kebiasaan masyarakat untuk membaca buku sangat jarang kita temukan di tempat-tempat istirahat, di ruang tunggu rumah sakit atau praktek dokter, di taman-taman kota, di kereta api atau dalam perjalan dengan transfortasi lainnya. Gejala ini sebenarnya merupakan kendala dalam meningkatkan kecerdasan bangsa sebagai diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yakni: melindungi tumpah darah Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahtraan umum dan ikut serta mewujudkan perdamaian dunia. Kondisi ini juga rupanya didukung pula oleh situasi penjajahan dahulu. Di negara-negara bekas jajahan Inggris, pada umumnya masyarakat di sana dengan mudah kita saksikan tradisi mereka membaca buku-buku sebagai pengisi waktu dalam berbagai kesempatan terutama saat menunggu atau saat bepergian dengan berbagai sarana transfortasi.
Belajar atau membaca buku sebenarnya diamanatkan dalam kitab suci Veda dan susastra Hindu yang lain, sebab tanpa belajar atau membaca bagaimana mungkin kita meningkatkan kecerdasan individu, masyarakat dan bangsa kita. Dengan tekun belajar dewi Sarasvatī akan memberikan inspirasi atau kiat-kiat yang dapat meningkatkan kesejahtraan dan kebahagiaan hidup manusia. Perhatikanlah kutipan-kutipan berikut:
Pāvamānīr yo adhyeti ṛṣibhiḥ saṁbhṛtaṁ rasam, tasmai Sarasvatī duhe kṣiraṁ sarpir madhūdakam - Siapa saja yang senang mempelajari kitab suci Veda, yang terdiri dari inti sari yang dipelajari oleh para rsi. Tuhan Yang Maha Esa dalam wujud-Nya dewi Sarasvatī akan senantiasa menganugrahkan kesejahtraan (susu,mentega cair, madu dan air Soma (panjang umur dan rejeki) yang berlimpah. Ṛgveda IX.67.32.
Satyaṁ vada dharmaṁ cara svādhyāya mā pramadah - Hendaknya setiap orang berbicara benar/jujur,berbuatlah kebajikan (berdasarkan Dharma),tekunlah belajar/membaca buku dan rajin sembahyang, janganlah lalai. Taittiriya Upanisad I,11,1.
Tad viddhi praṇipātena paripraśnena sevayā, upadekṣyanti te jñānaṁ jñāninas tattvadarśinaḥ. - Belajarlah dengan tekun, sujud dan berdisplin, dengan bertanya-tanya dan bekerja dan berbhakti. Guru yang budiman,yang telah sempurna (yang melihat kebenaran) akan mengajarkan kepadamu kebijaksanaan, ilmu dan budi pekerti yang luhur. Bhagavadgītā IV.34.
Śāstra yonitvāt - Untuk memahami keagungan Tuhan Yang Maha Esa dan segala ciptaan-Nya, tidak ada yang lain sebagai sebagai sumber yang valid yaitu hanya kitab suci Veda dan susastranya. Brahma Sūtra Bhāṣya I.1.3.
Sesungguhnya masih banyak ajaran dalam agama Hindu yang dapat kita jumpai seperti dalam kitab-kitab Upaniṣad, Rāmāyana, Mahābhārata, Nītiśāstra baik yang berbahasa Sanskerta, Jawa Kuno ataupun Bali. Di Bali sebuah pupuh Ginadha yang sangat memasyarakat menekankan sekali supaya setiap orang tiada henti-hentinya belajar:
Eda ngaden awak bisa,depang anake ngadanin, gaginane buka nyampat anak sai tumbuh luhu, hilang luhu, ebuke katah, yadin ririh liu enu, ne pelajahin.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, sebenarnya dengan persembahyangan memuja kebesaran Sang Hyang Vidhi melalui memuja keagungan dewi Sarasvatī kita dituntut untuk belajar terus, satu sarana yang efektif adalah dengan membaca buku-buku yang bermanfaat. Bila yang melakukan Brata Sarasvatī, memang disebutkan adanya pantangan untuk tidak membaca dan menulis selama pemujaan kepada dewi Sarasvatī, namun maknanya dengan kontemplasi pada hari Sarasvatīpūjā kita berhasil lebih terdorong untuk terus dan giat belajar, oleh karena itu membaca adalah salah satu untuk dapat menguasai terangnya pelita ilmu.
Oṁ Kṣama svamām
Oṁ Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ
Oleh: Goes De Tantrayana Gautama
Kavyaṁ vyākaraṇaṁ tarkam,
Veda śāstraṁ Puraṇakam.
Kalpaśiddhīni tantrāni,
Tvat prasadat samārabhet.
(Atas karunia Hyang Sarasvatī umat manusia mempelajari kitab suci Veda dan sastra, syair, tata-bahasa, logika, berbagai disiplin dan sejarah) Sarasvatīpūjā, 5.
1. Sarasvatī, dewi ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan
Di Indonesia, setiap hari Sabtu Umanis Wuku Watugunung, hari terakhir dari Wuku terakhir dan hari Minggu Pahing Wuku Sinta, hari pertama dari Wuku pertama merupakan hari pemujaan kehadapan dewi Sarasvatī, dewi ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Bagi umat Hindu, memuja berbagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa yang jumlahnya tidak terbatas itu adalah merupakan sarana untuk mendekatkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa. Di antara ribuan manifestasi atau Udbhava-Nya itu terdapat tiga manifestasi utama Sang Hyang Vidhi, Tuhan Yang Maha Esa, yakni Brahma, Viṣṇu dan Śiva sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur alam semesta dan segala isinya. Dalam sekala kecil, dalam setiap sel dari makhluk hidup terjadi proses pencipta, tumbuh dan terpelihara dan lebur dalam bentuk kematian. Kata Brahma dalam bahasa Sanskerta berarti: bertambah besar, meluap, mengembang dan sejenisnya. Brahma disebut Svayambhu, yang artinya tercipta dengan sendiri-Nya karena tidak ada yang menciptakan-Nya. Sakti Brahma adalah Sarasvatī yang artinya yang mengalir tiada hentinya, pencipta huruf, penganugrah ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, yang menurunkan kitab suci Veda, pemberi inspirasi, pendorong semangat belajar dan sejenisnya. Brahma yang disebut juga Caturmukha dan Caturbhuja menunjukkan bahwa Tuhan Yang Maha Esa menguasai seluruh alama semesta dengan kemahakuasaan(Cadu Śakti)-Nya yang sangat dahsyat. Kata Viṣṇu berarti: pekerja yang tekun, yang meresapoi segalanya, yang memelihara segala dan sejenisnya. Sakti Viṣṇu adalah Śrī dan Lakṣmī yang di Bali disebut Śrī Sādhanā dan Bhaṭārī Melanting. Kata Śrī berarti kebahagiaan, kemakmuran, keberuntungan, kekayaan, kebesaran, keagungan, kecantikan, kemuliaan dan sejenisnya dan Lakṣmī berarti kesejahtraan, kemakmuran, keberuntungan, kecantikan, keindahan, kenang-kenangan yang indah dan sejenis dengan itu. Sedang Sādhanā berarti merealisasikan, jadi Śrī Sādhanā dimaksudkan mewujudkan atau merealisasikan kesejahtraan dan kebahagiaan dalam diri, keluarga dan lingkungan masyarakat. Selanjutnya Śiva berarti: yang memberikan keberuntungan (kerahayuan), yang baik hati, yang ramah, suka memaafkan, menyenangkan, memberi banyak harapan, membahagiakan dan sejenisnya. Sakti Śiva adalah dewi Durgā dan Parvatī. Kata Durgā berarti yang sulit dilalui, yang sulit di atasi, dibendung dan yang tidak dapat ditentang. Segala kuasanya selalu terjadi, tidak pernah gagal dalam menjalankan missinya sedang Parvatī adalah dewi gunung yang juga bermakna menganugrahkan kemakmuran, sebab pada wilayah yang banyak terdapat gunung, di sanalah sungai-sungai mengalir dan pada wilayah-wilayah itu selalu merupakan daerah-daearh yang subur yang memberikan kemakmuran kepada umat manusia.
Berdasarkan tinjauan etimologis dan makna semantik nama-nama yang ditujukan kepada keagungan dan kemahakuasaan-Nya adalah hal-hal yang sangat didambakan oleh umat manusia. Demikian pula adalah merupakan kewajiban bagi umat manusia untuk mempersembahkan pūjā bhakti atas karunia yang telah dilimpahkan kepada umat-Nya itu. Bagi umat Hindu, perwujudan rasa syukur dan terima kasih yang tulus kepada-Nya dilakukan melalui pemujaan, mempersembahkan kesucian hatinya kepada-Nya melalui peringatan atau perayaan hari-hari besar agama, seperti halnya hari Sarasvatīpūjā yang kita rayakan bersama.
Kini timbul pertanyaan, mengapa hari Sarasvti jatuh pada pertemuan Wuku terakhir dan pertama dalam perhitungan kalender Bali-Jawa, apakah perayaan Sarasvatī di India juga jatuh pada hari yang sama, hari Sabtu Umanis Wuku Watugunung ? Sesuai dengan sejarah perkembangan agama Hindu di India dan di negara-negara lainnya. Kedatangan agama Hindu di daerah-daerah itu tidak mengubah atau menghapuskan pola budaya masyarakat setempat, justru mengangkat (mempermulia) unsur-unsur budaya-budaya setempat dengan memasukkan nilai-nilai ajaran agama Hindu di daerah yang memeluk agama Hindu yang dikenal dengan Sanatana Dharma, yakni ajaran yang beṛṣifat kekal abadi. Di India kita tidak mengenal sistem Wuku (Pawukon) seperti kalender Jawa-Bali (Nusantara) seperti yang kita waris kini. Oleh karena itu perayaan Sarasvatīpūjā di sana tidak bersamaan jatuhnya dengan perayaan Sarasvatīpūjā di Indonesia. Di India pemujaan kepada Hyang Sarasvatī umumnya dikaitkan dengan Durgāpūjā, Dīpavalī dan Rāmanavāmi, yang jatuhnya pada sekita awal bulan Nopember dan April setiap tahun. Dengan demikian, Sarasvatī juga dipūjā dua kali dalam setahun (tahun Masehi) seperti halnya di Indonesia. Mengapa Sarasvatīpūjā jatuh pada hari terakhir dan hari pertama dari tahun Wuku ? Rupanya hal ini dapat dijelaskan bahwa ketika agama Hindu masuk ke Indonesia, orang Nusantara (khususnya Jawa dan Bali) sudah mengenal sistem tahun yang dikenal dengan Wuku atau Pawukon itu. Demikianlah hari-hari pemujaan kepada Iṣṭadevatā-Iṣṭadevatā, yakni manifestasi-manifestasi Tuhan Yang Maha Esa tertentu yang sangat didambakan oleh umat manusia yakni pengetahuan, kesejahtraan, kemakmuran, keberuntungan, keselamatan dan sejenisnya yang terdapat di India dimasukkan dalam sistem kalender Wuku itu. Sebagai contoh, hari-hari pemujaan kepada Iṣṭadevatā-Iṣṭadevatā seperti pemujaan kepada Sarasvatī dijatuhkan pada hari Sabtu Umanis Watugunung dan Minggu Pahing Wuku Sinta, hari Ayuddhapūjā dijatuhkan pada Tumpek Landep, hari Śaṁkarapūjā dijatuhkan pada Tumpek Variga, Śrī Lakṣmīpūjā pada Senin Pon dan Selasa Wage Wuku Sinta, Gurupūjā (Parameṣṭiigurupūjā) pada hari Rabu Kliwon Sinta dan lain-lain.
2. Meningkatkan Semangat Belajar
Adalah sangat memperihatinkan bahwa semangat belajar khususnya semangat membaca buku sebagai dilansir oleh berbagai media massa adalah sangat lemah di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya, khususnya di Asia. Hal ini secara sederhana dapat dilihat dari jumlah penerbitan buku setiap tahunnya dan kebiasaan masyarakat untuk membaca buku sangat jarang kita temukan di tempat-tempat istirahat, di ruang tunggu rumah sakit atau praktek dokter, di taman-taman kota, di kereta api atau dalam perjalan dengan transfortasi lainnya. Gejala ini sebenarnya merupakan kendala dalam meningkatkan kecerdasan bangsa sebagai diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yakni: melindungi tumpah darah Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahtraan umum dan ikut serta mewujudkan perdamaian dunia. Kondisi ini juga rupanya didukung pula oleh situasi penjajahan dahulu. Di negara-negara bekas jajahan Inggris, pada umumnya masyarakat di sana dengan mudah kita saksikan tradisi mereka membaca buku-buku sebagai pengisi waktu dalam berbagai kesempatan terutama saat menunggu atau saat bepergian dengan berbagai sarana transfortasi.
Belajar atau membaca buku sebenarnya diamanatkan dalam kitab suci Veda dan susastra Hindu yang lain, sebab tanpa belajar atau membaca bagaimana mungkin kita meningkatkan kecerdasan individu, masyarakat dan bangsa kita. Dengan tekun belajar dewi Sarasvatī akan memberikan inspirasi atau kiat-kiat yang dapat meningkatkan kesejahtraan dan kebahagiaan hidup manusia. Perhatikanlah kutipan-kutipan berikut:
Pāvamānīr yo adhyeti ṛṣibhiḥ saṁbhṛtaṁ rasam, tasmai Sarasvatī duhe kṣiraṁ sarpir madhūdakam - Siapa saja yang senang mempelajari kitab suci Veda, yang terdiri dari inti sari yang dipelajari oleh para rsi. Tuhan Yang Maha Esa dalam wujud-Nya dewi Sarasvatī akan senantiasa menganugrahkan kesejahtraan (susu,mentega cair, madu dan air Soma (panjang umur dan rejeki) yang berlimpah. Ṛgveda IX.67.32.
Satyaṁ vada dharmaṁ cara svādhyāya mā pramadah - Hendaknya setiap orang berbicara benar/jujur,berbuatlah kebajikan (berdasarkan Dharma),tekunlah belajar/membaca buku dan rajin sembahyang, janganlah lalai. Taittiriya Upanisad I,11,1.
Tad viddhi praṇipātena paripraśnena sevayā, upadekṣyanti te jñānaṁ jñāninas tattvadarśinaḥ. - Belajarlah dengan tekun, sujud dan berdisplin, dengan bertanya-tanya dan bekerja dan berbhakti. Guru yang budiman,yang telah sempurna (yang melihat kebenaran) akan mengajarkan kepadamu kebijaksanaan, ilmu dan budi pekerti yang luhur. Bhagavadgītā IV.34.
Śāstra yonitvāt - Untuk memahami keagungan Tuhan Yang Maha Esa dan segala ciptaan-Nya, tidak ada yang lain sebagai sebagai sumber yang valid yaitu hanya kitab suci Veda dan susastranya. Brahma Sūtra Bhāṣya I.1.3.
Sesungguhnya masih banyak ajaran dalam agama Hindu yang dapat kita jumpai seperti dalam kitab-kitab Upaniṣad, Rāmāyana, Mahābhārata, Nītiśāstra baik yang berbahasa Sanskerta, Jawa Kuno ataupun Bali. Di Bali sebuah pupuh Ginadha yang sangat memasyarakat menekankan sekali supaya setiap orang tiada henti-hentinya belajar:
Eda ngaden awak bisa,depang anake ngadanin, gaginane buka nyampat anak sai tumbuh luhu, hilang luhu, ebuke katah, yadin ririh liu enu, ne pelajahin.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, sebenarnya dengan persembahyangan memuja kebesaran Sang Hyang Vidhi melalui memuja keagungan dewi Sarasvatī kita dituntut untuk belajar terus, satu sarana yang efektif adalah dengan membaca buku-buku yang bermanfaat. Bila yang melakukan Brata Sarasvatī, memang disebutkan adanya pantangan untuk tidak membaca dan menulis selama pemujaan kepada dewi Sarasvatī, namun maknanya dengan kontemplasi pada hari Sarasvatīpūjā kita berhasil lebih terdorong untuk terus dan giat belajar, oleh karena itu membaca adalah salah satu untuk dapat menguasai terangnya pelita ilmu.
Oṁ Kṣama svamām
Oṁ Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ
Oleh: Goes De Tantrayana Gautama
MAKNA SARASWATI DAN APLIKASINYA DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT
Salam Kasih
Pendahuluan
Setiap manusia pada kelahirannya ke dunia selalu ditakdirkan dalam keadaan bodoh/tidak tahu (Avidya). Namun dengan kebesaran Sang Hyang Widhi, Beliau menganugerahkan ilmu pengetahuan kepada umat manusia untuk merubah, melenyapkan ke-Avidya-an/ kebodohan manusia karena kelahirannya itu menjadi Vidya (Tahu).
Dengan ilmu pengetahuan itu manusia menjadi cerdas. Dan kecerdasan itulah yang membuat manusia menjadi bisa mengetahui dan membedakan mana/apa yang baik dan mana/apa yang buruk atau yang di dalam ajaran Hindu dikenal dengan istilah Wiweka.
Dengan kemampuan Wiweka yang dimilikinya itu, hendaknya manusia dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuannya dalam tingkah laku dan perbuatan/sikap yang bersusila tinggi untuk menghindarkannya dari penderitaan dan kesengsaraan dalam kehidupannya.
Namun kenyataan yang terjadi tidaklah sepenuhnya demikian. Berbagai kasus dapat kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari bahwa tidak semua orang mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya sesuai fungsi dan porsinya.
Penggunaan pestisida yang berlebihan, penyalahgunaan narkoba, seks bebas, kriminalitas, sampai korupsi merupakan segelintir contoh nyata bagaimana ilmu pengetahuan itu tidak digunakan dan diaplikasikan dalam tindakan nyata yang tepat, sesuai fungsinya Padahal sesungguhnya ilmu pengetahuan itu murni, suci dan tidak tercela.
Penyelewengan dan penyalahgunaan seperti itulah yang dapat menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan dalam kehidupan manusia. Untuk menghindari hal seperti itu, diperlukan pemahaman mendalam terhadap makna dari adanya pengetahuan itu sendiri. Dimana pengetahuan dalam agama Hindu disimbolkan sebagai Saraswati. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini saya mencoba mengangkat tema “Makna Saraswati dan Aplikasinya dalam kehidupan bermasyarakat”
Makna Saraswati dan Aplikasinya dalam kehidupan Bermasyarakat
Dalam Hindu, manifestasi Sang Hyang Widhi dalam fungsinya sebagai sumber ilmu pengetahuan digambarkan sebagai seorang dewi yang berparas cantik yaitu Saraswati. Kata Saraswati secara etimologi berasal dari dua urat kata yaitu “Saras” atau “sr” dalam bahasa Sanskerta yang berarti segala sesuatu yang mengalir dan “wati”yang berarti memiliki.
Sehingga Saraswati secara etimologi berarti segala sesuatu yang mengalir. Ini mengandung pengertian bahwa ilmu pengetahuan mengalir terus menerus tanpa hentinya untuk dapat dipergunakan oleh umat manusia dalam menunjang kelangsungan hidupnya.
Personifikasi Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Saraswati yang menguasai ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan mengandung makna turunnya ilmu pengetahuan kedunia. Ilmu pengetahuan dianugerahkan oleh Sang Hyang Widhi kepada seluruh umat manusia di dunia untuk melenyapkan ke-Avidya-an. Dengan lenyapnya kebodohan atau ke-Avidya-an, manusia menjadi cerdas dan bijaksana. Dengan kecerdasan dan kebijaksanaannya itu, keangkuhan seseorang ditekan atau dikendalikan sehingga menjadi lembut dan pemurah. Jika masing-masing individu dapat menekan egonya, maka akan terciptalah keharmonisan dan keserasian hubungan dalam kehidupan bersama yang pada hakekatnya mengantarkan manusia pada kedamaian dan kebahagiaan.
Lalu apa relevansi Saraswati dalam kehidupan bermasyarakat agar tidak terjadi penyimpangan dari pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang?
Seperti diamanatkan dalam kitab suci Weda bahwa setiap orang hendaknya mencari pengetahuan setinggi mungkin untuk kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia. Ilmu pengetahuan itu ibarat pisau bermata dua, dapat berfungsi positif atau negatif tergantung orang yang memanfaatkan. Jika digunakan sesuai dengan fungsi dan kegunaan juga porsinya, ilmu pengetahuan akan mengantarkan kita pada kebahagiaan dan kesejahteraan hidup. Namun jika disalahgunakan, ilmu pengetahuan akan mengantarkan kita pada kesengsaraan dan penderitaan baik di dunia maupun di akhirat. Ilmu pengetahuan yang menjerumuskan nilai-nilai kemanusiaan bukanlah ilmu pengetahuan yang sejati sebab ilmu pengetahuan yang sejati adalah karuniaNya, yang menyadarkan missi penjelmaan manusia didunia ini yaitu untuk mengemban kebenaran, kebaikan, kasih dan kemanusiaan yang secara sederhana disebut Dharma. Ilmu pengetahuan sejati bukanlah sesuatu yang dapat menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan. Sesungguhnya penderitaan dan kesengsaraan itu timbul dari penyalahgunaan ilmu pengetahuan oleh orang yang menggunakannya. Sejatinya ilmu pengetahuan itu adalah murni dan tak ternodai.
Selama umat manusia menyadari bahwa ilmu pengetahuan adalah untuk meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan umat manusia, selama itu pula umat manusia mempergunakan ilmu pengetahuan itu secara benar dan sesuai dengan fungsinya. Dan selama itu pula umat manusia tidak akan tiada hentinya memuja Saraswati sebagai sumber ilmu pengetahuan dengan penuh kesadaran. Sehingga niscaya berbagai kasus yang timbul sebagai bukti adanya penyalahgunaan dan penyelewengan ilmu pengetahuan dapat diminimalisir atau ditekan.
Demikianlah uraian singkat saya tentang makna Saraswati dan aplikasinya dalam kehidupan bermasyarakat. Semoga uraian singkat ini dapat membuka jendela pengetahuan kita dan bermanfaat dalam kehidupan kita.
Kesimpulan :
1. Setiap manusia yang lahir ke dunia selalu berada dalam keadaan Avidya (bodoh). Avidya itu lenyap dan berubah menjadi Vidya (tahu) dengan adanya pengetahuan.
2. Saraswati adalah manifestasi Hyang Widhi dalam fungsinya sebagai sumeber ilmu pengetahuan. Memaknai Saraswati dengan benar dan mengaplikasikannya dalam kehidupan dengan benar pula akan menghindarkan kita dari kesengsaraan dan penderitaan.
3. Pemahaman akan pengetahuan yang sejati sangat diperlukan untuk menghindari penyalahgunaan dan penyelewengan dalam mengaplikasikan pengetahuan itu. Sehingga dapat memberikan penerangan dalam kelangsungan hidup umat manusia.
4. Hendaknya dengan perayaan Saraswati dapat meningkatkan kesadaran rohani untuk dapat mengaplikasikan pengetahuan yang kita miliki sehingga dapat dirasakan manfaatnya.
Salam Rahayu
Bali, 17 Nopember 2011
Oleh: Goes De Tantrayana Gautama
Pendahuluan
Setiap manusia pada kelahirannya ke dunia selalu ditakdirkan dalam keadaan bodoh/tidak tahu (Avidya). Namun dengan kebesaran Sang Hyang Widhi, Beliau menganugerahkan ilmu pengetahuan kepada umat manusia untuk merubah, melenyapkan ke-Avidya-an/ kebodohan manusia karena kelahirannya itu menjadi Vidya (Tahu).
Dengan ilmu pengetahuan itu manusia menjadi cerdas. Dan kecerdasan itulah yang membuat manusia menjadi bisa mengetahui dan membedakan mana/apa yang baik dan mana/apa yang buruk atau yang di dalam ajaran Hindu dikenal dengan istilah Wiweka.
Dengan kemampuan Wiweka yang dimilikinya itu, hendaknya manusia dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuannya dalam tingkah laku dan perbuatan/sikap yang bersusila tinggi untuk menghindarkannya dari penderitaan dan kesengsaraan dalam kehidupannya.
Namun kenyataan yang terjadi tidaklah sepenuhnya demikian. Berbagai kasus dapat kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari bahwa tidak semua orang mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya sesuai fungsi dan porsinya.
Penggunaan pestisida yang berlebihan, penyalahgunaan narkoba, seks bebas, kriminalitas, sampai korupsi merupakan segelintir contoh nyata bagaimana ilmu pengetahuan itu tidak digunakan dan diaplikasikan dalam tindakan nyata yang tepat, sesuai fungsinya Padahal sesungguhnya ilmu pengetahuan itu murni, suci dan tidak tercela.
Penyelewengan dan penyalahgunaan seperti itulah yang dapat menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan dalam kehidupan manusia. Untuk menghindari hal seperti itu, diperlukan pemahaman mendalam terhadap makna dari adanya pengetahuan itu sendiri. Dimana pengetahuan dalam agama Hindu disimbolkan sebagai Saraswati. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini saya mencoba mengangkat tema “Makna Saraswati dan Aplikasinya dalam kehidupan bermasyarakat”
Makna Saraswati dan Aplikasinya dalam kehidupan Bermasyarakat
Dalam Hindu, manifestasi Sang Hyang Widhi dalam fungsinya sebagai sumber ilmu pengetahuan digambarkan sebagai seorang dewi yang berparas cantik yaitu Saraswati. Kata Saraswati secara etimologi berasal dari dua urat kata yaitu “Saras” atau “sr” dalam bahasa Sanskerta yang berarti segala sesuatu yang mengalir dan “wati”yang berarti memiliki.
Sehingga Saraswati secara etimologi berarti segala sesuatu yang mengalir. Ini mengandung pengertian bahwa ilmu pengetahuan mengalir terus menerus tanpa hentinya untuk dapat dipergunakan oleh umat manusia dalam menunjang kelangsungan hidupnya.
Personifikasi Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Saraswati yang menguasai ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan mengandung makna turunnya ilmu pengetahuan kedunia. Ilmu pengetahuan dianugerahkan oleh Sang Hyang Widhi kepada seluruh umat manusia di dunia untuk melenyapkan ke-Avidya-an. Dengan lenyapnya kebodohan atau ke-Avidya-an, manusia menjadi cerdas dan bijaksana. Dengan kecerdasan dan kebijaksanaannya itu, keangkuhan seseorang ditekan atau dikendalikan sehingga menjadi lembut dan pemurah. Jika masing-masing individu dapat menekan egonya, maka akan terciptalah keharmonisan dan keserasian hubungan dalam kehidupan bersama yang pada hakekatnya mengantarkan manusia pada kedamaian dan kebahagiaan.
Lalu apa relevansi Saraswati dalam kehidupan bermasyarakat agar tidak terjadi penyimpangan dari pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang?
Seperti diamanatkan dalam kitab suci Weda bahwa setiap orang hendaknya mencari pengetahuan setinggi mungkin untuk kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia. Ilmu pengetahuan itu ibarat pisau bermata dua, dapat berfungsi positif atau negatif tergantung orang yang memanfaatkan. Jika digunakan sesuai dengan fungsi dan kegunaan juga porsinya, ilmu pengetahuan akan mengantarkan kita pada kebahagiaan dan kesejahteraan hidup. Namun jika disalahgunakan, ilmu pengetahuan akan mengantarkan kita pada kesengsaraan dan penderitaan baik di dunia maupun di akhirat. Ilmu pengetahuan yang menjerumuskan nilai-nilai kemanusiaan bukanlah ilmu pengetahuan yang sejati sebab ilmu pengetahuan yang sejati adalah karuniaNya, yang menyadarkan missi penjelmaan manusia didunia ini yaitu untuk mengemban kebenaran, kebaikan, kasih dan kemanusiaan yang secara sederhana disebut Dharma. Ilmu pengetahuan sejati bukanlah sesuatu yang dapat menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan. Sesungguhnya penderitaan dan kesengsaraan itu timbul dari penyalahgunaan ilmu pengetahuan oleh orang yang menggunakannya. Sejatinya ilmu pengetahuan itu adalah murni dan tak ternodai.
Selama umat manusia menyadari bahwa ilmu pengetahuan adalah untuk meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan umat manusia, selama itu pula umat manusia mempergunakan ilmu pengetahuan itu secara benar dan sesuai dengan fungsinya. Dan selama itu pula umat manusia tidak akan tiada hentinya memuja Saraswati sebagai sumber ilmu pengetahuan dengan penuh kesadaran. Sehingga niscaya berbagai kasus yang timbul sebagai bukti adanya penyalahgunaan dan penyelewengan ilmu pengetahuan dapat diminimalisir atau ditekan.
Demikianlah uraian singkat saya tentang makna Saraswati dan aplikasinya dalam kehidupan bermasyarakat. Semoga uraian singkat ini dapat membuka jendela pengetahuan kita dan bermanfaat dalam kehidupan kita.
Kesimpulan :
1. Setiap manusia yang lahir ke dunia selalu berada dalam keadaan Avidya (bodoh). Avidya itu lenyap dan berubah menjadi Vidya (tahu) dengan adanya pengetahuan.
2. Saraswati adalah manifestasi Hyang Widhi dalam fungsinya sebagai sumeber ilmu pengetahuan. Memaknai Saraswati dengan benar dan mengaplikasikannya dalam kehidupan dengan benar pula akan menghindarkan kita dari kesengsaraan dan penderitaan.
3. Pemahaman akan pengetahuan yang sejati sangat diperlukan untuk menghindari penyalahgunaan dan penyelewengan dalam mengaplikasikan pengetahuan itu. Sehingga dapat memberikan penerangan dalam kelangsungan hidup umat manusia.
4. Hendaknya dengan perayaan Saraswati dapat meningkatkan kesadaran rohani untuk dapat mengaplikasikan pengetahuan yang kita miliki sehingga dapat dirasakan manfaatnya.
Salam Rahayu
Bali, 17 Nopember 2011
Oleh: Goes De Tantrayana Gautama
PAGERWESI, Sebuah Kajian Filosofis
Salam Kasih
Ya Tuhan Yang Maha Esa, Engkau adalah Brahma, Visnu dan Śiva,dalam wujud-Mu sebagai guru yang Maha Agung, kami mempersembahkan pūjā dan bhakti kami. Gurupūjā, 2.
Pada hari Budha Kliwon Pagerwesi, hari untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa dalam wujudnya sebagai Parameṣṭi Guru, Guru yang Maha Tinggi atau Maha Agung. Hari yang dirangkaikan pemujaannya dengan Sarasvatī, Śrī Lakṣmī, yang dirayakan berturut-turut selama lima hari, mulai hari sabtu Umanis Watugung.
Bila kita memperhatikan hari-hari raya keagamaan Hindu di India dan di Indonesia sesungguhnya tidak terdapat perbedaan makna dari hari-hari raya keagamaan dimaksud. Umat Hindu di India merayakan upacara Śrāddha Vijaya Dasami atau Durgapūjā, di Indonesia kita merayakan hari raya Galungan dan Kuningan. Demikian pula Sarasvatī, Śivaratri dan lain-lain. Beberapa hari raya namanya sama, tetapi ada juga yang maknanya sama namun namanya berbeda, juga terdapat perbedaan dalam merayakan hari-hari raya keagamaan itu. Di India hari-hari raya keagamaan itu hanya berdasarkan Tahun Surya dan Bulan (Solar dan Lunar System), di Indonesia mempergunakan kedua sistim itu dan juga sistem Pawukon. Sistim Pawukon ini rupanya sistem kalender asli Nusantara dan ketika agama Hindu masuk ke Nusantara, di kepulauan ini penggunaan sistim Pawukon rupanya telah sangat memasyarakat, oleh karena itu, sistim yang merupakan warisan leluhur bangsa ini tetap dilestarikan dengan cara menempatkan hari-hari raya keagamaan Hindu yang datang dari India dalam sistim Pawukon itu. Beberapa hari raya keagamaan Hindu yang dimasukan dalam sistem Pawukon antara lain: Pagerwesi (di India disebut Guru Purnima)ditempatkan pada hari Budha Kliwon Sinta ( hari ketiga dari wuku pertama ), Durgapūjā, Śrāddha Vijaya Dasami atau Navaratri di Bali disebut Galungan-Kuningan pada hari Budha Kliwon Dungulan hingga Saniscara Umanis Kuningan (dirayakan selama 10 hari), hari-hari seperti Ayudhapūjā (pada Saniscara Kliwon atau Tumpek wuku Landep), Sankarapūjā (Tumpek Wariga) dan Sarasvatī pada hari terakhir, Wuku terakhir, yakni Sabtu (Saniscara) Umanis, wuku Watugunung.
Baik di India maupun di Indonesia dalam memperingati hari-hari raya keagamaan umat Hindu melakukan hal yang sama, yakni mempersembahkan sesajen dan melakukan sembahyang baik pada tempat persembahyangan keluarga (biasa berupa altar dengan beberapa arca pada kamar suci), pada mandir, yakni pura terdekat, atau pura-pura yang besar yang sangat terkenal. Bila mereka melakukan persembahyangan pada pura-pura yang letaknya jauh dari rumah, biasanya umat Hindu sekaligus melakukan Tirthayatra yang pada umumnya bermalam di pura dengan melakukan berbagai aktivitas keagamaan seperti Japa, meditasi dan Bhajan atau menyanyikan lagu-lagu keagamaan (kidung).
Di Indonesia, Pagerwesi yang mempunyai makna sama dengan Guru Purnima dirangkaikan perayaannya dengan Sarasvatī dan Banyu Pinaruh (pemujaan kepada Sarasvatī), jatuh pada hari terakhir wuku terakhir, yakni Saniscara Umanis wuku Watugunung dan hari pertama dari wuku pertama, yakni Redite Pahing wuku Sinta, dengan Some Ribek dan Sabuhmas, yang jatuh pada hari Soma Pon dan Anggara Wage wuku Sinta.Hari Sarasvatī dan Banyu Pinaruh (Air Ilmu Pengetahuan) adalah hari untuk memuja dewi Sarasvatī sebagai dewi ilmu pengetahuan, maka pada hari Somaribek dan Sabuhmas adalah hari untuk memuja dewi Śrī Lakṣmī dan Pagerwesi adalah untuk memuja Tuhan Yang Mahaesa dalam wujud-Nya sebagai Śiva Parameṣṭi Guru, yakni guru tertinggi di jagat raya ini. Makna pemujaan kepada Śiva Parameṣṭi Guru ini adalah sama dengan makna hari raya Guru Purnima yang jatuh pada bulan Purnama Sravana (di Indonesia disebut Purnama Kasa) yang jatuh pada bulan Juli-Agustus. Pada hari Guru Purnima di samping memuja Tuhan Yang Mahaesa, juga memuja para ṛṣi dan ṛṣi yang paling agung mendapat penghormatan adalah mahaṛṣi Vyasa yang menghimpun dan mengkodifikasikan kitab suci Veda bersama para siswanya, seperti : Sumantu, Pulaha, Jaimini dan Vaisampayana.
Bila di Indonesia bentuk perayaan berupa persembahyangan terhadap Sang Hyang Parameṣṭi Guru atau guru tertinggi, yang dimaksud tidak lain adalah Sang Hyang Śiva atau Sang Hyang Guru (Mahaguru). Dalam seni arca digambarkan sebagai laki-laki berjanggut dan berkumis lebat (berewok), perutnya gendut, memegang kendi Amrta serta membawa tongkat dengan ujung bercabang tiga (Trisula). Mahaṛṣi Agastya, seorang tokoh penyebar Hindu dari India Utara ke Selatan, bahkan juga sampai Asia Tenggara dan Indonesia, digambarkan juga sebagai Sang Hyang Guru (Mahaguru) oleh karena itu Agastya diidentikan dengan Isadevatanya ini.
Di samping dalam seni arca, mahaṛṣi Agastya disebut-sebut juga sebagai saksi agung perbuatan umat manusia dan dinyatakan dalam sumpah di Pengadilan yang terkenal dengan sumpah Sang Hyang Hari Chandani. Di Bali dan juga di daerah Sulawesi Selatan disebut Bhattara Guru, yakni guru agung umat manusia.
Untuk memahami lebih lanjut tentang makna pemujaan pada hari Guru Purnima di India dan membandingkannya dengan pemujaan hari Pagerwesi di Indonesia, kiranya perlu diinformasikan tentang tata cara pemujaan hari Guru Purnima yang berlangsung di Śivananda Ashram, Rishikesh, Uttar Pradesh, sebagai berikut :
1. Semua siswa dan Sanyasin di ashram telah bangun pagi-pagi benar(saat Brahmuhurta,sekitar jam 04.00).Mereka bermeditasi kepada Guru (Parameṣṭi Guru) dan mengucapkan mantra-mantra Gurupūjā.
2. Selanjutnya mempersembahkan sesaji di kaki Guru dan diiringi mantra Gurugita.
3. Selanjutnya pada siang harinya, para Sadhu dan Sanyasin menerima persembahan sajianberupa hidangan (prasadam di Bali disebut lungsuran).
4. Kemudiandiselenggarakan Satsang atau Dharmatula membahas makna spiritual Gurupūjā khususnya dan topik-topik menarik lainnya.
5. Para siswa yang telah siap untuk diinisiasi (di-Diksa) menjadi Sanyasin dilakasanakanpada hari ini juga.
6. Para siswa umumnya melaksanakan Brata dan Upavasa sepanjang hari untuk kemajuan spiritual.Bagi yang mampu sangat baik melakukan Monabrata(tidak berbicara) dan tidak menikmati makanan danminuman,namun bagi siswa tertentu hanya minum susu segar saja atau hanya buah-buahan sepanjang hari.
Pada malam hari kembali berkumpul di Aula dan melakukan Bhajan (kidung)bersama memuja keagungan-Nya.Bentuk pemujaan yang paling baik adalah dengan mengikuti semua ajarannya, mampu memancarkan dan mewujudkan ajarannya dan senantiasa memajukan dan menjunjung pesan-pesan-Nya.
Demikian antara lain bentuk pemujaan kepada Guru di India, di Indonesia kita mengenal ajaran Tri Guru dan Catur Guru. Yang dimaksud dengan Tri Guru adalah :
1. Guru Rupaka atau Rekha,yakni orang tua,ibu-bapa yang melahirkandanmemelihara kita.
2. Guru Vidya atau Pangajian,yakni para guru yangmemberikan pendidikandan pengajaran.
3. Guru Visesa yakni pemerintah yang bertanggung jawa mensejahtrakan masyarakat.
Sedang yang dimasud dengan Catur Guru adalah Tri Guru tersebut digabungkan dengan Guru yang tertinggi, yakni Parameṣṭi Guru. Guru yang keempat ini disebut Guru Svadhyaya. Di dalam masyarakat Guru Svadhyaya juga diartikan belajar sendiri dan menjadikan Tuhan Yang Mahaesa Esa sebagai pembimbing untuk kemajuan kehidupan spiritual.
Bila di India terutama dalam tradisi Ashram, dilakukan upacara pemujaan kepada Guru sedemikian rupa dipimpin oleh Sanyasi, Swamiji, Sadhu atau Pandit, di Indonesia (Bali) rupanya karena tradisi ashram telah putus digantikan oleh sistem Pasiwan di geria- geria para pandita secara tradisional, maka hari raya Pagerwesi hanya dirayakan dengan persembahan sesajen terutama di pura keluarga seperti pamarajan, panti, paibon dan sejenisnya, sedang makna pemujaan ini tidaklah demikian memasyarakat.
Memperhatikan bentuk-bentuk pemujaan, baik di India maupun di Indonesia (Bali), kiranya makna yang terkandung dalam merayakan hari Pagerwesi adalah untuk mengingatkan kita terhadap keagungan Tuhan Yang Mahaesa serta peranan para mahaṛṣi atau guru-guru agung terutama di bidang spiritual. Pagerwesi juga mengingatkan kita bahwa bahwa proses belajar mengajar berlangsung terus menerus hingga ajal memanggil. Terlebih lagi bila dikaitkan dengan pemujaan sebelumnya, yaitu Sarasvatī dan Śrī Lakṣmī. Di sini aspek kemahakuasaan-Nya didambakan oleh umat manusia untuk pengetahuan, kesejahtraan dan kebahagiaan. Sarasvatī memberikan inspirasi dan membimbing manusia untuk belajar dan terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, Śrī Lakṣmī menganugrahkan kesejahtraan dan kemamuran dan Sang Hyang Parameṣṭi Guru menganugrahkan kebahagiaan yang sejati.
Makna Pagerwesi bila dikaitkan dengan perkembangan dunia modern, terlebih lagi dalam usaha meningkatkan sumber daya manusia (SDM) yang dalam era globalisasi kualitas perorangan dan masyarakat sangat diperlukan. Persaingan untuk hidup dan mencari kehidupan akan semakin sulit dan untuk itu peranan pendidikan teristimewa pendidikan mental, moral dan spiritual sangatlah mutlak. Perkembangan dunia menunjukan bahwa manusia yang tidak memiliki kualitas, kemampuan dan kreativitas untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi akan sangat sulit bersaing dan selalu ketinggalan dalam meningkatkan kesejahtraan masyarakatnya.
Pengembangan sumber daya manusia tidak hanya beṛṣifat jasmaniah tetapi juga rohaniah. Untuk itu dalam mengembangkan pendidikan modern dewasa ini, kita tidak dapat melepaskan diri dengan konsepsi pendidikan Ashram yang sangat memperhatikan kualitas pribadi setiap siswa dan kecendrungan manusia untuk bekerja dan bermain ataupun bernyanyi, oleh karena itu perlu dikembangkan sistem pendidikan yang memadukan kecendrungan itu. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah membiasakan diri (Abhyasa), dapat mensyukuri nikmat yang merupakan anugrah-Nya (Santosa) dan mampu melepaskan diri dari keterikatan yang beṛṣifat duniawi (Vairagya/Tyaga) serta hidup berkeseimbangan lahir dan batin (Sthitaprajna).
Demikian antara lain makna yang terkandung dari pemujaan yang dilangsungkan pada hari Pagerwesi, semoga melalui pemujaan kehadapan Sang Hyang Parameṣṭi Gurtu, kita senantiasa dibimbing di jalan yang benar.
Oṁ Asato mā sad gamaya Tāmaso mā jyotir gamaya mṛtyor mā amṛtam gamaya - Ya Tuhan Yang Mahaesa, bimbinglah kami dari yang tidak benar menuju yang benar,dari kegelapan pikiran menuju pikiran yang terang. Jauhkanlah kami dari kematian menuju kehidupan yang abadi.
Salam Rahayu
Ya Tuhan Yang Maha Esa, Engkau adalah Brahma, Visnu dan Śiva,dalam wujud-Mu sebagai guru yang Maha Agung, kami mempersembahkan pūjā dan bhakti kami. Gurupūjā, 2.
Pada hari Budha Kliwon Pagerwesi, hari untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa dalam wujudnya sebagai Parameṣṭi Guru, Guru yang Maha Tinggi atau Maha Agung. Hari yang dirangkaikan pemujaannya dengan Sarasvatī, Śrī Lakṣmī, yang dirayakan berturut-turut selama lima hari, mulai hari sabtu Umanis Watugung.
Bila kita memperhatikan hari-hari raya keagamaan Hindu di India dan di Indonesia sesungguhnya tidak terdapat perbedaan makna dari hari-hari raya keagamaan dimaksud. Umat Hindu di India merayakan upacara Śrāddha Vijaya Dasami atau Durgapūjā, di Indonesia kita merayakan hari raya Galungan dan Kuningan. Demikian pula Sarasvatī, Śivaratri dan lain-lain. Beberapa hari raya namanya sama, tetapi ada juga yang maknanya sama namun namanya berbeda, juga terdapat perbedaan dalam merayakan hari-hari raya keagamaan itu. Di India hari-hari raya keagamaan itu hanya berdasarkan Tahun Surya dan Bulan (Solar dan Lunar System), di Indonesia mempergunakan kedua sistim itu dan juga sistem Pawukon. Sistim Pawukon ini rupanya sistem kalender asli Nusantara dan ketika agama Hindu masuk ke Nusantara, di kepulauan ini penggunaan sistim Pawukon rupanya telah sangat memasyarakat, oleh karena itu, sistim yang merupakan warisan leluhur bangsa ini tetap dilestarikan dengan cara menempatkan hari-hari raya keagamaan Hindu yang datang dari India dalam sistim Pawukon itu. Beberapa hari raya keagamaan Hindu yang dimasukan dalam sistem Pawukon antara lain: Pagerwesi (di India disebut Guru Purnima)ditempatkan pada hari Budha Kliwon Sinta ( hari ketiga dari wuku pertama ), Durgapūjā, Śrāddha Vijaya Dasami atau Navaratri di Bali disebut Galungan-Kuningan pada hari Budha Kliwon Dungulan hingga Saniscara Umanis Kuningan (dirayakan selama 10 hari), hari-hari seperti Ayudhapūjā (pada Saniscara Kliwon atau Tumpek wuku Landep), Sankarapūjā (Tumpek Wariga) dan Sarasvatī pada hari terakhir, Wuku terakhir, yakni Sabtu (Saniscara) Umanis, wuku Watugunung.
Baik di India maupun di Indonesia dalam memperingati hari-hari raya keagamaan umat Hindu melakukan hal yang sama, yakni mempersembahkan sesajen dan melakukan sembahyang baik pada tempat persembahyangan keluarga (biasa berupa altar dengan beberapa arca pada kamar suci), pada mandir, yakni pura terdekat, atau pura-pura yang besar yang sangat terkenal. Bila mereka melakukan persembahyangan pada pura-pura yang letaknya jauh dari rumah, biasanya umat Hindu sekaligus melakukan Tirthayatra yang pada umumnya bermalam di pura dengan melakukan berbagai aktivitas keagamaan seperti Japa, meditasi dan Bhajan atau menyanyikan lagu-lagu keagamaan (kidung).
Di Indonesia, Pagerwesi yang mempunyai makna sama dengan Guru Purnima dirangkaikan perayaannya dengan Sarasvatī dan Banyu Pinaruh (pemujaan kepada Sarasvatī), jatuh pada hari terakhir wuku terakhir, yakni Saniscara Umanis wuku Watugunung dan hari pertama dari wuku pertama, yakni Redite Pahing wuku Sinta, dengan Some Ribek dan Sabuhmas, yang jatuh pada hari Soma Pon dan Anggara Wage wuku Sinta.Hari Sarasvatī dan Banyu Pinaruh (Air Ilmu Pengetahuan) adalah hari untuk memuja dewi Sarasvatī sebagai dewi ilmu pengetahuan, maka pada hari Somaribek dan Sabuhmas adalah hari untuk memuja dewi Śrī Lakṣmī dan Pagerwesi adalah untuk memuja Tuhan Yang Mahaesa dalam wujud-Nya sebagai Śiva Parameṣṭi Guru, yakni guru tertinggi di jagat raya ini. Makna pemujaan kepada Śiva Parameṣṭi Guru ini adalah sama dengan makna hari raya Guru Purnima yang jatuh pada bulan Purnama Sravana (di Indonesia disebut Purnama Kasa) yang jatuh pada bulan Juli-Agustus. Pada hari Guru Purnima di samping memuja Tuhan Yang Mahaesa, juga memuja para ṛṣi dan ṛṣi yang paling agung mendapat penghormatan adalah mahaṛṣi Vyasa yang menghimpun dan mengkodifikasikan kitab suci Veda bersama para siswanya, seperti : Sumantu, Pulaha, Jaimini dan Vaisampayana.
Bila di Indonesia bentuk perayaan berupa persembahyangan terhadap Sang Hyang Parameṣṭi Guru atau guru tertinggi, yang dimaksud tidak lain adalah Sang Hyang Śiva atau Sang Hyang Guru (Mahaguru). Dalam seni arca digambarkan sebagai laki-laki berjanggut dan berkumis lebat (berewok), perutnya gendut, memegang kendi Amrta serta membawa tongkat dengan ujung bercabang tiga (Trisula). Mahaṛṣi Agastya, seorang tokoh penyebar Hindu dari India Utara ke Selatan, bahkan juga sampai Asia Tenggara dan Indonesia, digambarkan juga sebagai Sang Hyang Guru (Mahaguru) oleh karena itu Agastya diidentikan dengan Isadevatanya ini.
Di samping dalam seni arca, mahaṛṣi Agastya disebut-sebut juga sebagai saksi agung perbuatan umat manusia dan dinyatakan dalam sumpah di Pengadilan yang terkenal dengan sumpah Sang Hyang Hari Chandani. Di Bali dan juga di daerah Sulawesi Selatan disebut Bhattara Guru, yakni guru agung umat manusia.
Untuk memahami lebih lanjut tentang makna pemujaan pada hari Guru Purnima di India dan membandingkannya dengan pemujaan hari Pagerwesi di Indonesia, kiranya perlu diinformasikan tentang tata cara pemujaan hari Guru Purnima yang berlangsung di Śivananda Ashram, Rishikesh, Uttar Pradesh, sebagai berikut :
1. Semua siswa dan Sanyasin di ashram telah bangun pagi-pagi benar(saat Brahmuhurta,sekitar jam 04.00).Mereka bermeditasi kepada Guru (Parameṣṭi Guru) dan mengucapkan mantra-mantra Gurupūjā.
2. Selanjutnya mempersembahkan sesaji di kaki Guru dan diiringi mantra Gurugita.
3. Selanjutnya pada siang harinya, para Sadhu dan Sanyasin menerima persembahan sajianberupa hidangan (prasadam di Bali disebut lungsuran).
4. Kemudiandiselenggarakan Satsang atau Dharmatula membahas makna spiritual Gurupūjā khususnya dan topik-topik menarik lainnya.
5. Para siswa yang telah siap untuk diinisiasi (di-Diksa) menjadi Sanyasin dilakasanakanpada hari ini juga.
6. Para siswa umumnya melaksanakan Brata dan Upavasa sepanjang hari untuk kemajuan spiritual.Bagi yang mampu sangat baik melakukan Monabrata(tidak berbicara) dan tidak menikmati makanan danminuman,namun bagi siswa tertentu hanya minum susu segar saja atau hanya buah-buahan sepanjang hari.
Pada malam hari kembali berkumpul di Aula dan melakukan Bhajan (kidung)bersama memuja keagungan-Nya.Bentuk pemujaan yang paling baik adalah dengan mengikuti semua ajarannya, mampu memancarkan dan mewujudkan ajarannya dan senantiasa memajukan dan menjunjung pesan-pesan-Nya.
Demikian antara lain bentuk pemujaan kepada Guru di India, di Indonesia kita mengenal ajaran Tri Guru dan Catur Guru. Yang dimaksud dengan Tri Guru adalah :
1. Guru Rupaka atau Rekha,yakni orang tua,ibu-bapa yang melahirkandanmemelihara kita.
2. Guru Vidya atau Pangajian,yakni para guru yangmemberikan pendidikandan pengajaran.
3. Guru Visesa yakni pemerintah yang bertanggung jawa mensejahtrakan masyarakat.
Sedang yang dimasud dengan Catur Guru adalah Tri Guru tersebut digabungkan dengan Guru yang tertinggi, yakni Parameṣṭi Guru. Guru yang keempat ini disebut Guru Svadhyaya. Di dalam masyarakat Guru Svadhyaya juga diartikan belajar sendiri dan menjadikan Tuhan Yang Mahaesa Esa sebagai pembimbing untuk kemajuan kehidupan spiritual.
Bila di India terutama dalam tradisi Ashram, dilakukan upacara pemujaan kepada Guru sedemikian rupa dipimpin oleh Sanyasi, Swamiji, Sadhu atau Pandit, di Indonesia (Bali) rupanya karena tradisi ashram telah putus digantikan oleh sistem Pasiwan di geria- geria para pandita secara tradisional, maka hari raya Pagerwesi hanya dirayakan dengan persembahan sesajen terutama di pura keluarga seperti pamarajan, panti, paibon dan sejenisnya, sedang makna pemujaan ini tidaklah demikian memasyarakat.
Memperhatikan bentuk-bentuk pemujaan, baik di India maupun di Indonesia (Bali), kiranya makna yang terkandung dalam merayakan hari Pagerwesi adalah untuk mengingatkan kita terhadap keagungan Tuhan Yang Mahaesa serta peranan para mahaṛṣi atau guru-guru agung terutama di bidang spiritual. Pagerwesi juga mengingatkan kita bahwa bahwa proses belajar mengajar berlangsung terus menerus hingga ajal memanggil. Terlebih lagi bila dikaitkan dengan pemujaan sebelumnya, yaitu Sarasvatī dan Śrī Lakṣmī. Di sini aspek kemahakuasaan-Nya didambakan oleh umat manusia untuk pengetahuan, kesejahtraan dan kebahagiaan. Sarasvatī memberikan inspirasi dan membimbing manusia untuk belajar dan terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, Śrī Lakṣmī menganugrahkan kesejahtraan dan kemamuran dan Sang Hyang Parameṣṭi Guru menganugrahkan kebahagiaan yang sejati.
Makna Pagerwesi bila dikaitkan dengan perkembangan dunia modern, terlebih lagi dalam usaha meningkatkan sumber daya manusia (SDM) yang dalam era globalisasi kualitas perorangan dan masyarakat sangat diperlukan. Persaingan untuk hidup dan mencari kehidupan akan semakin sulit dan untuk itu peranan pendidikan teristimewa pendidikan mental, moral dan spiritual sangatlah mutlak. Perkembangan dunia menunjukan bahwa manusia yang tidak memiliki kualitas, kemampuan dan kreativitas untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi akan sangat sulit bersaing dan selalu ketinggalan dalam meningkatkan kesejahtraan masyarakatnya.
Pengembangan sumber daya manusia tidak hanya beṛṣifat jasmaniah tetapi juga rohaniah. Untuk itu dalam mengembangkan pendidikan modern dewasa ini, kita tidak dapat melepaskan diri dengan konsepsi pendidikan Ashram yang sangat memperhatikan kualitas pribadi setiap siswa dan kecendrungan manusia untuk bekerja dan bermain ataupun bernyanyi, oleh karena itu perlu dikembangkan sistem pendidikan yang memadukan kecendrungan itu. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah membiasakan diri (Abhyasa), dapat mensyukuri nikmat yang merupakan anugrah-Nya (Santosa) dan mampu melepaskan diri dari keterikatan yang beṛṣifat duniawi (Vairagya/Tyaga) serta hidup berkeseimbangan lahir dan batin (Sthitaprajna).
Demikian antara lain makna yang terkandung dari pemujaan yang dilangsungkan pada hari Pagerwesi, semoga melalui pemujaan kehadapan Sang Hyang Parameṣṭi Gurtu, kita senantiasa dibimbing di jalan yang benar.
Oṁ Asato mā sad gamaya Tāmaso mā jyotir gamaya mṛtyor mā amṛtam gamaya - Ya Tuhan Yang Mahaesa, bimbinglah kami dari yang tidak benar menuju yang benar,dari kegelapan pikiran menuju pikiran yang terang. Jauhkanlah kami dari kematian menuju kehidupan yang abadi.
Salam Rahayu
“NGABEN ” Sebuah Kajian Teologis
Salam Kasih
Oleh: I Wayan Sudarma (Bekasi, 26 Desember 2006)
Seperti diketahui, kata ngaben adalah bagian dari Upacara Pitra Yajna khususnya pembakaran mayat. Tetapi ada juga ngaben tidak disertai dengan membakar mayat oleh karena suatu tradisi di daerah tertentu.
Kata ngaben berasal dari kata beya yang artinya biaya atau bekal (Singgih, 2002:2). Dalam bahasa yang lebih halus, Ngaben disebut Palebon yang beralsal dari kata lebu yang artinya prathiwi atau tanah. Palebon artinya menjadikan prathiwi (abu). Untuk menjadikan tanah itu, ada dua cara yaitu dengan cara membakar dan dengan cara mengubur ke dalam tanah. Upacara Ngaben umumnya dilakukan dengan membakar jenazah sehingga menjadi abu. Tujuannya adalah untuk segera mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta yang ada pada diri manusia kepada asalnya.
Upacara Ngaben adalah bagian dari Pitra Yadnya. Kalau didalam melaksanakan Ngaben itu ada jasad yang akan diaben (ngewatang), maka upacara Ngaben itu dinamakan Sawa Wedana. Tetapi di daerah tertentu di Bali ada juga jenazahnya dikubur terlebih dahulu untuk beberapa lama, baru kemudian setelah dianggap cukup (dalam arti menyangkut biaya) baru kemudian kuburannya digali kembali untuk mengambil sisa-sisa tulang yang masih ada, atau kalau ternyata kuburannya tidak diketemukan (karena sudah membaur dengan yang lain) maka hanya diambil tanahnya saja secara simbolis. Ngaben seperti ini disebut Asti Wedana, ada juga Ngaben Nywasta yaitu apabila jasad yang akan diaben itu tidak ada misalnya karena hanyut, terbakar, dimakan binatang buas dan sebagainnya. Dari Ngaben ketiga di atas, dibedakan pada pengawaknya, yang dimaksud adalah kalau yang diaben ada jasadnya, maka jasad orang yang baru meninggal itu sebagai pengawak. Sedangkan pada Ngaben Asti Wedana, sebagai pengawaknya adalah tulng-tulang yang diambil dari kuburannya tadi atau tanah yang diambil sebagai simbul. Pada Ngaben Swasta, dimana jasadnya tidak diketemukan, maka yang dipakai sebagai pengawak adalah tirta atau daun alang-alang.
Yang dinamakan Ngaben Swasta bukan karena tidak ada jenazah saja tetapi ngaben yang sederhanapun juga disebut Ngaben Swasta. Manusia terdiri dari dua unsure yaitu unsure jasmani dan unsure rohani, serta terdiri dari tida lapis yaitu ragha sarira, suksma sarira dan antahkarana sarira. Ragha sarira adalah badan kasar yaitu badan yang dilahirkan karena nafsu antara ayah dan ibu. Suksma sarira adalah badan astral atau badan halus yang terdiri dari alam pikiran,perasaan, keinginandan nafsu (citta, manah, indriya dan ahamkara).
Antahkarana sarira yaitu Sanghyang Atma (yang menyebabkan hidup). Ragha sarira atau badah kasar manusia terdiri dari lima unsur yang umum dikenal dengan Panca Maha Bhuta yang terdiri dari:
1. Pertiwi adalah unsur padat yang ada dalam tubuh manusia.
2. Apah yaitu zat cair yang bagian-bagian badan yang cair seperti darah, eringat, kelenjar.
3. Teja adalah unsur panas seperti suhu badan.
4. Bayu adalah angin yaitu nafas.
5. Akasa yaitu unsur badan yang paling halus yang menjadikan kuku dan rambut.
Proses terjadinya ragha sarira adalah sari-sari makanan yang terdiri dari enam rasa yang biasa dikenal dengan sad rasa yaitu manis, asin, pahit, sepet, asam dan pedas. Sad rasa ini dimakan dan diminum oleh manusia laki-laki dan perempun dan diproses dalam tubuh sehingga disamping menjadi tenaga juga menjadi kama bang (sperma wanita) dan kama putih (sperma laki-laki). Dalam suatu hubungan badan kedua kama ini bercampur melalui proses alami menjadilah janin (badan bayi), dan sisanya menjadi air ketuban, ari-ari dan sebagainya.
Disamping Panca Maha Bhuta yang kemudian berubah menjadi janin, juga Panca Tan Matra yaitu benih halus dari Panca Maha Bhuta. Panca Tan Matra ini meliputi: sari suara, raba, warna, rasa dan bau. Panca Tan Matra ini dalam tubuh bayi juga memproses dirinya menjadi suksma sarira yang terdiri dari: Citta adalah ahlak manusia yang dibentuk oleh tri guna (sattwam, rajas dan tamas), Manah yaitu alam pikiran dan perasaan, indria adalah keinginan dan Ahamkara adalah ego atau keakuan. Ketika manusia meninggal, otomatis Atman akan meninggalkan badan kasar disertai dengan suksma sarira tadi. Oleh karena antara Atman dan suksma sarira ini sudah menyatu maka akan sulit meninggalkan badan kasarnya, dengan demikian akan menimbulkan penderitaan bagi sang Atman.
Untuk mempercepat proses kembalinya atman maka badan kasarnya perlu dibuatkan suatu upacara yang disebut Ngaben dengan tujuan untuk segera mengembalikan kelima unsure yang ada pada badan kasar itu ke alamnya (sumbernya).
Jika setelah meninggal jasadnya tidak diaben dalam kurun waktu yang cukup lama, maka badan kasarnya akan menjadi bibit penyakit atau Bhuta Cuil seperti disebutkan dalam Lontar Tattwa Loka Kretti lampiran 5a bunyinya sebagai berikut:
“Yan wwang mati mapendhem ring prathiwi
salawasnya tan kinenan widhi widhana, byakta
matemahan rogha ning bhuana, haro-haro gering
mrana ring rat, atemahan gadgad”.
Artinya:
Kalau orang mati ditanam pada tanah
Selamanya tidak diupacarakan diaben
Sesungguhnya akan menjadi penyakit bumi
Kacau sakit mrana di dunia, menjadi gadgad (tubuhnya).
Demikian juga dalam lontar yang sama lembaran 11 b disebutkan:
“Kunang ikang sawa yan tan inupakara
atmanya menadi neraka, munggwing tegal
panangsaran, mangebeki wadhuri, ragas,
katiksnan panesning surya, manangis angisek-isek,
sumambe anak putunya, sang kari mahurip lingnya
duh anakku bapa tan hana matra wlas ta ring
kawitanta, maweh bubur mwang we atahap, akeh mami
madruwe, tan hana wawanku mati, kita juga mawisesa
anggen den abecik-becik, tan eling sira ring rama rena,
kawitanta, weh tirtha pangentas, jah tasmat kita
santananiku, wastu kita amangguh alphayusa, mangkana
temahning atma papa ring sentana”.
Artinya:
Adapun sawa yang tidak diupacarakan (ngaben)
atmanya akan berada di neraka, bertempat di
tegal yang sangat panas, yang penuh dengan pohon madhuri
reges, terbakarnya oleh sengatan matahari, menangis
tersedu-sedu, menyebut anak cucunya yang masih hidup,
katanya Oh anakku, tidak sedikit belas kasihanmu kepada
leluhurmu, memberikan bubur dan air seteguk, saya
dulu punya tidak ada yang sayla bawa, kamu juga menikmati,
pakai baik-baik, tidak ingat sama ayah ibu, air tirtha
pangentas, pemastuku, semoga kamu umur pendek,
demikian kutukannya. (ngaben.26)
Atas dasar pemikiran tersebut maka menjadi landasan adanya upacara Ngaben. Didalam melaksanakan upacara Ngaben, ada kesan bahwa kalau tidak mempunyai biaya banyak maka upacara Ngaben masih dalam angan-angan belaka karena upacara Ngaben itu biasanya besar sehingga tidak sedikit orang-orang menjual warisan berupa sawah, kebun dan sebagainya demi melaksanakan upacara Ngaben tersebut. Padahal semua itu hanya salah kaprah belaka, karena hanya ketidak pahaman tentang hakekat dari pada upacara ngaben itu sendiri atau juga hanya demi gengsi. Pada dasarnya jumlah biaya atau besarnya sesajen bukan jaminan/ukuran untuk mengatakan bahwa upacara itu berhasil, tetapi besar kecilnya Yadnya yang dipersembahkan kalau didasari dengan niat yang tulus niscaya yadnya itu akan diterima. Pelaksanaan upacara dapat ditempuh dengan tiga jalan yaitu: nista, madhya dan uttama. Bahkan saat ini sudah banyak diadakan upacara ngaben secara masal, tujuannya adalah dengan biaya yang relatif minim tetapi upacara ngaben bagi orang yang tidak mampu dapat dilaksanakan tanpa mengurangi arti dari upacara tersebut. Satu hal yang sangat perlu diingat adalah betapapun upacara itu dilaksanakan, bukan jaminan roh seseorang bisa menyatu kepada Brahman tetapi tetap tergantung pada karma wasananya.
Seperti telah disinggung terdahulu bahwa upacara ngaben adalah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh pertisentana kepada orang tuanya. Oleh karena itu laksanakan upacara itu sesuai dengan swadarma dan kemampuanmu. Ada tiga hal yang sangat prinsip yang harus dilaksanakan didalam setiap melaksanakan upacara ngaben yaitu: ngaskara, tirtha pangentas dan mralina Atma.
Ngaskara dikatakan sangat prinsip karena upacara Ngaskara adalah prosesi penyucian preta menjadi sang pitara. Tirtha pangentas adalah tirtha untuk memutuskan hubungan Purusa dengan Pradhana (aspek kejiwaan dengan aspek kebendaan) bisa dikatakan juga tirtha untuk menuntun atman menuju Brahman. Sedangkan pralina Atma dilakukan oleh Pandita yang memimpin upacara. Kata Pralina berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya hilang atau kembali. Secara filosofis tidak ada sesuatu yang hilang di alam semesta ini tetapi yang terjadi adalah perubahan tempat dan perubahan bentuk. Pada waktu manusia masih hidup, Purusa dan Pradananya bersatu secara utuh pada badan manusia. Ketika manusia itu meninggal Purusa dan Pradhana itu berpisah dari badan kasar manusia yang dikenal dengan istilah mati. Untuk lebih melapangkan jalansang atman kembali serta berpisah dari unsur-unsur Panca Maha Bhuta dan lain-lain yang mengikat sang atman, maka pendeta akan melakukan puja pralina.
Salam Rahayu
Oleh: I Wayan Sudarma (Bekasi, 26 Desember 2006)
Seperti diketahui, kata ngaben adalah bagian dari Upacara Pitra Yajna khususnya pembakaran mayat. Tetapi ada juga ngaben tidak disertai dengan membakar mayat oleh karena suatu tradisi di daerah tertentu.
Kata ngaben berasal dari kata beya yang artinya biaya atau bekal (Singgih, 2002:2). Dalam bahasa yang lebih halus, Ngaben disebut Palebon yang beralsal dari kata lebu yang artinya prathiwi atau tanah. Palebon artinya menjadikan prathiwi (abu). Untuk menjadikan tanah itu, ada dua cara yaitu dengan cara membakar dan dengan cara mengubur ke dalam tanah. Upacara Ngaben umumnya dilakukan dengan membakar jenazah sehingga menjadi abu. Tujuannya adalah untuk segera mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta yang ada pada diri manusia kepada asalnya.
Upacara Ngaben adalah bagian dari Pitra Yadnya. Kalau didalam melaksanakan Ngaben itu ada jasad yang akan diaben (ngewatang), maka upacara Ngaben itu dinamakan Sawa Wedana. Tetapi di daerah tertentu di Bali ada juga jenazahnya dikubur terlebih dahulu untuk beberapa lama, baru kemudian setelah dianggap cukup (dalam arti menyangkut biaya) baru kemudian kuburannya digali kembali untuk mengambil sisa-sisa tulang yang masih ada, atau kalau ternyata kuburannya tidak diketemukan (karena sudah membaur dengan yang lain) maka hanya diambil tanahnya saja secara simbolis. Ngaben seperti ini disebut Asti Wedana, ada juga Ngaben Nywasta yaitu apabila jasad yang akan diaben itu tidak ada misalnya karena hanyut, terbakar, dimakan binatang buas dan sebagainnya. Dari Ngaben ketiga di atas, dibedakan pada pengawaknya, yang dimaksud adalah kalau yang diaben ada jasadnya, maka jasad orang yang baru meninggal itu sebagai pengawak. Sedangkan pada Ngaben Asti Wedana, sebagai pengawaknya adalah tulng-tulang yang diambil dari kuburannya tadi atau tanah yang diambil sebagai simbul. Pada Ngaben Swasta, dimana jasadnya tidak diketemukan, maka yang dipakai sebagai pengawak adalah tirta atau daun alang-alang.
Yang dinamakan Ngaben Swasta bukan karena tidak ada jenazah saja tetapi ngaben yang sederhanapun juga disebut Ngaben Swasta. Manusia terdiri dari dua unsure yaitu unsure jasmani dan unsure rohani, serta terdiri dari tida lapis yaitu ragha sarira, suksma sarira dan antahkarana sarira. Ragha sarira adalah badan kasar yaitu badan yang dilahirkan karena nafsu antara ayah dan ibu. Suksma sarira adalah badan astral atau badan halus yang terdiri dari alam pikiran,perasaan, keinginandan nafsu (citta, manah, indriya dan ahamkara).
Antahkarana sarira yaitu Sanghyang Atma (yang menyebabkan hidup). Ragha sarira atau badah kasar manusia terdiri dari lima unsur yang umum dikenal dengan Panca Maha Bhuta yang terdiri dari:
1. Pertiwi adalah unsur padat yang ada dalam tubuh manusia.
2. Apah yaitu zat cair yang bagian-bagian badan yang cair seperti darah, eringat, kelenjar.
3. Teja adalah unsur panas seperti suhu badan.
4. Bayu adalah angin yaitu nafas.
5. Akasa yaitu unsur badan yang paling halus yang menjadikan kuku dan rambut.
Proses terjadinya ragha sarira adalah sari-sari makanan yang terdiri dari enam rasa yang biasa dikenal dengan sad rasa yaitu manis, asin, pahit, sepet, asam dan pedas. Sad rasa ini dimakan dan diminum oleh manusia laki-laki dan perempun dan diproses dalam tubuh sehingga disamping menjadi tenaga juga menjadi kama bang (sperma wanita) dan kama putih (sperma laki-laki). Dalam suatu hubungan badan kedua kama ini bercampur melalui proses alami menjadilah janin (badan bayi), dan sisanya menjadi air ketuban, ari-ari dan sebagainya.
Disamping Panca Maha Bhuta yang kemudian berubah menjadi janin, juga Panca Tan Matra yaitu benih halus dari Panca Maha Bhuta. Panca Tan Matra ini meliputi: sari suara, raba, warna, rasa dan bau. Panca Tan Matra ini dalam tubuh bayi juga memproses dirinya menjadi suksma sarira yang terdiri dari: Citta adalah ahlak manusia yang dibentuk oleh tri guna (sattwam, rajas dan tamas), Manah yaitu alam pikiran dan perasaan, indria adalah keinginan dan Ahamkara adalah ego atau keakuan. Ketika manusia meninggal, otomatis Atman akan meninggalkan badan kasar disertai dengan suksma sarira tadi. Oleh karena antara Atman dan suksma sarira ini sudah menyatu maka akan sulit meninggalkan badan kasarnya, dengan demikian akan menimbulkan penderitaan bagi sang Atman.
Untuk mempercepat proses kembalinya atman maka badan kasarnya perlu dibuatkan suatu upacara yang disebut Ngaben dengan tujuan untuk segera mengembalikan kelima unsure yang ada pada badan kasar itu ke alamnya (sumbernya).
Jika setelah meninggal jasadnya tidak diaben dalam kurun waktu yang cukup lama, maka badan kasarnya akan menjadi bibit penyakit atau Bhuta Cuil seperti disebutkan dalam Lontar Tattwa Loka Kretti lampiran 5a bunyinya sebagai berikut:
“Yan wwang mati mapendhem ring prathiwi
salawasnya tan kinenan widhi widhana, byakta
matemahan rogha ning bhuana, haro-haro gering
mrana ring rat, atemahan gadgad”.
Artinya:
Kalau orang mati ditanam pada tanah
Selamanya tidak diupacarakan diaben
Sesungguhnya akan menjadi penyakit bumi
Kacau sakit mrana di dunia, menjadi gadgad (tubuhnya).
Demikian juga dalam lontar yang sama lembaran 11 b disebutkan:
“Kunang ikang sawa yan tan inupakara
atmanya menadi neraka, munggwing tegal
panangsaran, mangebeki wadhuri, ragas,
katiksnan panesning surya, manangis angisek-isek,
sumambe anak putunya, sang kari mahurip lingnya
duh anakku bapa tan hana matra wlas ta ring
kawitanta, maweh bubur mwang we atahap, akeh mami
madruwe, tan hana wawanku mati, kita juga mawisesa
anggen den abecik-becik, tan eling sira ring rama rena,
kawitanta, weh tirtha pangentas, jah tasmat kita
santananiku, wastu kita amangguh alphayusa, mangkana
temahning atma papa ring sentana”.
Artinya:
Adapun sawa yang tidak diupacarakan (ngaben)
atmanya akan berada di neraka, bertempat di
tegal yang sangat panas, yang penuh dengan pohon madhuri
reges, terbakarnya oleh sengatan matahari, menangis
tersedu-sedu, menyebut anak cucunya yang masih hidup,
katanya Oh anakku, tidak sedikit belas kasihanmu kepada
leluhurmu, memberikan bubur dan air seteguk, saya
dulu punya tidak ada yang sayla bawa, kamu juga menikmati,
pakai baik-baik, tidak ingat sama ayah ibu, air tirtha
pangentas, pemastuku, semoga kamu umur pendek,
demikian kutukannya. (ngaben.26)
Atas dasar pemikiran tersebut maka menjadi landasan adanya upacara Ngaben. Didalam melaksanakan upacara Ngaben, ada kesan bahwa kalau tidak mempunyai biaya banyak maka upacara Ngaben masih dalam angan-angan belaka karena upacara Ngaben itu biasanya besar sehingga tidak sedikit orang-orang menjual warisan berupa sawah, kebun dan sebagainya demi melaksanakan upacara Ngaben tersebut. Padahal semua itu hanya salah kaprah belaka, karena hanya ketidak pahaman tentang hakekat dari pada upacara ngaben itu sendiri atau juga hanya demi gengsi. Pada dasarnya jumlah biaya atau besarnya sesajen bukan jaminan/ukuran untuk mengatakan bahwa upacara itu berhasil, tetapi besar kecilnya Yadnya yang dipersembahkan kalau didasari dengan niat yang tulus niscaya yadnya itu akan diterima. Pelaksanaan upacara dapat ditempuh dengan tiga jalan yaitu: nista, madhya dan uttama. Bahkan saat ini sudah banyak diadakan upacara ngaben secara masal, tujuannya adalah dengan biaya yang relatif minim tetapi upacara ngaben bagi orang yang tidak mampu dapat dilaksanakan tanpa mengurangi arti dari upacara tersebut. Satu hal yang sangat perlu diingat adalah betapapun upacara itu dilaksanakan, bukan jaminan roh seseorang bisa menyatu kepada Brahman tetapi tetap tergantung pada karma wasananya.
Seperti telah disinggung terdahulu bahwa upacara ngaben adalah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh pertisentana kepada orang tuanya. Oleh karena itu laksanakan upacara itu sesuai dengan swadarma dan kemampuanmu. Ada tiga hal yang sangat prinsip yang harus dilaksanakan didalam setiap melaksanakan upacara ngaben yaitu: ngaskara, tirtha pangentas dan mralina Atma.
Ngaskara dikatakan sangat prinsip karena upacara Ngaskara adalah prosesi penyucian preta menjadi sang pitara. Tirtha pangentas adalah tirtha untuk memutuskan hubungan Purusa dengan Pradhana (aspek kejiwaan dengan aspek kebendaan) bisa dikatakan juga tirtha untuk menuntun atman menuju Brahman. Sedangkan pralina Atma dilakukan oleh Pandita yang memimpin upacara. Kata Pralina berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya hilang atau kembali. Secara filosofis tidak ada sesuatu yang hilang di alam semesta ini tetapi yang terjadi adalah perubahan tempat dan perubahan bentuk. Pada waktu manusia masih hidup, Purusa dan Pradananya bersatu secara utuh pada badan manusia. Ketika manusia itu meninggal Purusa dan Pradhana itu berpisah dari badan kasar manusia yang dikenal dengan istilah mati. Untuk lebih melapangkan jalansang atman kembali serta berpisah dari unsur-unsur Panca Maha Bhuta dan lain-lain yang mengikat sang atman, maka pendeta akan melakukan puja pralina.
Salam Rahayu
MUDRA.....Apakah itu..??
Salam Kasih
Mudra adalah sikap-sikap tangan di dalam Yoga yakni usaha untuk menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa. Mudra adalah gerak tangan tertentu yang mengandung makna simbolis, sebagai perwujudan fisik dengan mempresentasikan beberapa mantra atau fomula-magis, yang pertama muncul dalam pikiran dan dilanjutkan dengan gerak mulut. Merupakan tiga jenis ekpresi yang terdiri dari tiga wujud personalitas dari manusia yang secara simultan dalam tiga bentuk aktivitas, yaitu gerak badan(mudra), ucapan dan ingatan.
Kata "Mudra" berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya "tanda". Indikasi mulai digunakan sikap-sikap tangan dalam upacara rupanya berasal dari suatu masa ketika para pendeta merapalkan mantra-mantra tertentu (yakni huruf-huruf atau sukukata-sukukata yang diyakini mampi memberi efek magis), pada saat yang bersamaan diikuti dengan bunyi yang berhubungan dengan bahasa Sanskerta dan gerak jari-jari tangan, itulah yang disebut mudra yang mengandung tnaga magis. Dengan upacara inisiasi yang tinggi tumbuh sebagai satu kompleksitas dan bahasa rahasia, agak mendekati bahasa-bahasa, dan meninggalkan motif bahasa Sanskerta. Sistem mudra rupanya telah menyimpang bentuknya di berbagai negara, seperti Tibet, India dan Jepang. Pada masa belakangan, para pandita Buddha, dalam acara tertentu memanfaatkan penggunaan berbagai mudra.
Di Bali mudra digunakan oleh para pandita dalam rangka pemujaan dan disebut dengan istilah "patanganan" yang mengandung makna gerak-gerak tangan. Bila kita memperhatikan peninggalan purbakala berupa seni arca, maka kita akan menjumpai berbagai sikap tangan, di antaranya: cin mudra (menenangkan pikiran), vakhyayana mudra (sikap tangan ketika seseorang berbicara), saudarsana mudra (sikap tangan memberi petunjuk), jñana mudra (sikap tangan kebalikan dari cin mudra/merenung dengan menekankan tangan di dada), dhyana mudra (sikap meditasi), yoga mudrà (sama dengan sikap dhyana mudra), vajrahungkara mudra (kedua tangan menyilang di dada memgang vajra), vitarka mudra (sikap memberikan pelajaran), bodhyagiri mudra (sikap tangan menggenggam sesuatu), bhumisparsa mudra (sikap tangan menenangkan bumi), vara mudra (sikap tangan memberikan anugrah), abhaya mudra (sikap tangan menolak bahaya), añjali mudra (sikap tangan memberi penghormatan, tercakup di dada), vismaya mudra (sikap tangan seperti terkejut), danda muda (sikap tangan diangkat seperti tongkat), Suci hasta mudra (sikap tangan ujung jari menunjuk sesuatu), dan lain-lain.
Mudra berasal dari akar kata mud yang berarti "membuat senang" dan dalam bentuk upasana, disebut demikian karena mudra itu membuat dewa-dewa menjadi senang. "devanang moda da mudra tasmat tang yatnatascaret". Dikatakan bahwa terdapat 108 dan 55 mudra yang biasa digunakan. Di sini yang dimaksud ialah ketika memuja, dilakukan dengan posisi tangan dan badan seperti latihan Yoga.
Demikian misalnya mudra pertama, yaitu matsya mudrà dilakukan ketika mempersembahkan arghya, yaitu dengan meletakkan tangan kanan di punggung tangan kiri lalu direntang, seperti sirip kedua ibu jari, dan Sivambha yang berisi air diandaikan samudra lengkap dengan ikan-ikan di dalamnya. Yoni mudra yang melambangkan alat kelamin wanita berbentuk segi tiga, dibentuk dengan kedua ibu jari. Yoni mudra ini digunakan untuk memohon kehadiran dewi (devi) untuk datang menempatkan diri di hadapan pemuja. Yoni dipandang sebagai piþha atau yantra khusus bagi devi. Upasana mudra tidak lain adalah ekspresi ke luar dari suatu dorongan di dalam, dan mudra itu lebih menegaskan dorongan tersebut. Mudra digunakan dalam pemujaan (archana), dalam japa, dhyana, kya karma (ritual untuk mencapai tujuan tertentu), pratisthha (mensthanakan), snana (menyucikan/ mandi), avahana (menyambut datang), naivedya (mempersembahkan makanan) dan visarjana (mempersilahkan devata pergi kembali). Beberapa mudra dari Hatha Yoga dapat dipelajari dalam buku Yoga berjudul "Gheranda Samhita" yang menyatakan bahwa pengetahuan yoga mudra dapat memberikan semua jenis siddhi, dan pelaksanaannya itu dapat memberi keuntungan bagi tubuh seperti kestabilan, kekuatan, dan penyembuhan dari penyakit.
Dalam praktek keagamaan di Bali, para pandita Hindu senantiasa menggunakan mudra, baik dalam upacara yang sederhana (kanisthama), yang menengah (madyama) dan yang besar (uttama). Mudra tersebut sangat erat kaitannya dengan pranava, kuþamantra, mantra dan archana.
Makna dan Fungsi Mudra
Makna dan fungsi masing-masing mudra tersebut berkaitan dengan sikap tangan yang dilakukan, misalnya sikap Vara Mudrà, yakni sikap tangan memberi hadiah, dimaksudkan devata yang dipuja itu memberikan anugrah. seorang pandita ketika menyucikan dirinya, terutama ketika membuat air suci mewujudkan devata pujaan ke dalam dirinya. Sikap-sikap tangan yang digunakan sejak menurunkan devata dan mensthanakan di dalam dirinya, seperti sikap tangan Devapratisthha Mudra, mengandung makna untuk mensthanakan devata tersebut.
Sikap-sikap tangan atau mudra tersebut sangat berkaitan dengan mantra dan acara ritual yang dilakukan yang mengandung makna untuk memantapkan pelaksanaan ritual dimaksud di samping berfungsi untuk memperoleh paha la dari mudra yang dilaksanakan.
Demikian sekilas tentang Mudra, semoga bermanfaat bagi kita semua
Salam Rahayu
Bali, 11-11 2001 (Goes De Tantrayana Gautama)
Mudra adalah sikap-sikap tangan di dalam Yoga yakni usaha untuk menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa. Mudra adalah gerak tangan tertentu yang mengandung makna simbolis, sebagai perwujudan fisik dengan mempresentasikan beberapa mantra atau fomula-magis, yang pertama muncul dalam pikiran dan dilanjutkan dengan gerak mulut. Merupakan tiga jenis ekpresi yang terdiri dari tiga wujud personalitas dari manusia yang secara simultan dalam tiga bentuk aktivitas, yaitu gerak badan(mudra), ucapan dan ingatan.
Kata "Mudra" berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya "tanda". Indikasi mulai digunakan sikap-sikap tangan dalam upacara rupanya berasal dari suatu masa ketika para pendeta merapalkan mantra-mantra tertentu (yakni huruf-huruf atau sukukata-sukukata yang diyakini mampi memberi efek magis), pada saat yang bersamaan diikuti dengan bunyi yang berhubungan dengan bahasa Sanskerta dan gerak jari-jari tangan, itulah yang disebut mudra yang mengandung tnaga magis. Dengan upacara inisiasi yang tinggi tumbuh sebagai satu kompleksitas dan bahasa rahasia, agak mendekati bahasa-bahasa, dan meninggalkan motif bahasa Sanskerta. Sistem mudra rupanya telah menyimpang bentuknya di berbagai negara, seperti Tibet, India dan Jepang. Pada masa belakangan, para pandita Buddha, dalam acara tertentu memanfaatkan penggunaan berbagai mudra.
Di Bali mudra digunakan oleh para pandita dalam rangka pemujaan dan disebut dengan istilah "patanganan" yang mengandung makna gerak-gerak tangan. Bila kita memperhatikan peninggalan purbakala berupa seni arca, maka kita akan menjumpai berbagai sikap tangan, di antaranya: cin mudra (menenangkan pikiran), vakhyayana mudra (sikap tangan ketika seseorang berbicara), saudarsana mudra (sikap tangan memberi petunjuk), jñana mudra (sikap tangan kebalikan dari cin mudra/merenung dengan menekankan tangan di dada), dhyana mudra (sikap meditasi), yoga mudrà (sama dengan sikap dhyana mudra), vajrahungkara mudra (kedua tangan menyilang di dada memgang vajra), vitarka mudra (sikap memberikan pelajaran), bodhyagiri mudra (sikap tangan menggenggam sesuatu), bhumisparsa mudra (sikap tangan menenangkan bumi), vara mudra (sikap tangan memberikan anugrah), abhaya mudra (sikap tangan menolak bahaya), añjali mudra (sikap tangan memberi penghormatan, tercakup di dada), vismaya mudra (sikap tangan seperti terkejut), danda muda (sikap tangan diangkat seperti tongkat), Suci hasta mudra (sikap tangan ujung jari menunjuk sesuatu), dan lain-lain.
Mudra berasal dari akar kata mud yang berarti "membuat senang" dan dalam bentuk upasana, disebut demikian karena mudra itu membuat dewa-dewa menjadi senang. "devanang moda da mudra tasmat tang yatnatascaret". Dikatakan bahwa terdapat 108 dan 55 mudra yang biasa digunakan. Di sini yang dimaksud ialah ketika memuja, dilakukan dengan posisi tangan dan badan seperti latihan Yoga.
Demikian misalnya mudra pertama, yaitu matsya mudrà dilakukan ketika mempersembahkan arghya, yaitu dengan meletakkan tangan kanan di punggung tangan kiri lalu direntang, seperti sirip kedua ibu jari, dan Sivambha yang berisi air diandaikan samudra lengkap dengan ikan-ikan di dalamnya. Yoni mudra yang melambangkan alat kelamin wanita berbentuk segi tiga, dibentuk dengan kedua ibu jari. Yoni mudra ini digunakan untuk memohon kehadiran dewi (devi) untuk datang menempatkan diri di hadapan pemuja. Yoni dipandang sebagai piþha atau yantra khusus bagi devi. Upasana mudra tidak lain adalah ekspresi ke luar dari suatu dorongan di dalam, dan mudra itu lebih menegaskan dorongan tersebut. Mudra digunakan dalam pemujaan (archana), dalam japa, dhyana, kya karma (ritual untuk mencapai tujuan tertentu), pratisthha (mensthanakan), snana (menyucikan/ mandi), avahana (menyambut datang), naivedya (mempersembahkan makanan) dan visarjana (mempersilahkan devata pergi kembali). Beberapa mudra dari Hatha Yoga dapat dipelajari dalam buku Yoga berjudul "Gheranda Samhita" yang menyatakan bahwa pengetahuan yoga mudra dapat memberikan semua jenis siddhi, dan pelaksanaannya itu dapat memberi keuntungan bagi tubuh seperti kestabilan, kekuatan, dan penyembuhan dari penyakit.
Dalam praktek keagamaan di Bali, para pandita Hindu senantiasa menggunakan mudra, baik dalam upacara yang sederhana (kanisthama), yang menengah (madyama) dan yang besar (uttama). Mudra tersebut sangat erat kaitannya dengan pranava, kuþamantra, mantra dan archana.
Makna dan Fungsi Mudra
Makna dan fungsi masing-masing mudra tersebut berkaitan dengan sikap tangan yang dilakukan, misalnya sikap Vara Mudrà, yakni sikap tangan memberi hadiah, dimaksudkan devata yang dipuja itu memberikan anugrah. seorang pandita ketika menyucikan dirinya, terutama ketika membuat air suci mewujudkan devata pujaan ke dalam dirinya. Sikap-sikap tangan yang digunakan sejak menurunkan devata dan mensthanakan di dalam dirinya, seperti sikap tangan Devapratisthha Mudra, mengandung makna untuk mensthanakan devata tersebut.
Sikap-sikap tangan atau mudra tersebut sangat berkaitan dengan mantra dan acara ritual yang dilakukan yang mengandung makna untuk memantapkan pelaksanaan ritual dimaksud di samping berfungsi untuk memperoleh paha la dari mudra yang dilaksanakan.
Demikian sekilas tentang Mudra, semoga bermanfaat bagi kita semua
Salam Rahayu
Bali, 11-11 2001 (Goes De Tantrayana Gautama)
TUMPEK WAYANG (SANISCARA KLIWON WUKU WAYANG)
Salam Kasih
Om Swastyastu
Pada hari ini adalah Puja Walinya Sang Hyang Iswara. Hari ini umat Hindu menghaturkan upacara menuju keutamaan tuah pratima-pratima dan wayang, juga kepada semua macarn benda seni dan kesenian, tetabuhan, seperti: gong, gender, angklung, kentongan dan lain-lain.
Bebantennya yaitu: suci, pejati, pengulap-pengambyan, canang burat wangi, lenga wangi , pesucian dengan perlengkapannya.
Upakara dihaturkan ke hadapan Sanghyang Iswara, dipuja di depan segala benda seni dan kesenian agar senantiasa memperoleh keselamatan dan keberuntungan dalam melakukan melaksanakan swadharma terutama yang berkaitan dengan kesenian, baik sakral maupun seni pertunjukan-pertunjukanlainnya agar metaksu, menarik dan menawan hati tiap-tiap penonton.
Untuk pecinta dan pelaku seni, upacara selamatan berupa persembahan bebanten: sesayut tumpeng guru, prayascita, penyeneng dan asap dupa harum, sambil memohon agar supaya mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dalam menciptakan majunya kesenian dan kesusastraan.
Om Santih Santih santih Om
Disunting dari berbagai sumber
Om Swastyastu
Pada hari ini adalah Puja Walinya Sang Hyang Iswara. Hari ini umat Hindu menghaturkan upacara menuju keutamaan tuah pratima-pratima dan wayang, juga kepada semua macarn benda seni dan kesenian, tetabuhan, seperti: gong, gender, angklung, kentongan dan lain-lain.
Bebantennya yaitu: suci, pejati, pengulap-pengambyan, canang burat wangi, lenga wangi , pesucian dengan perlengkapannya.
Upakara dihaturkan ke hadapan Sanghyang Iswara, dipuja di depan segala benda seni dan kesenian agar senantiasa memperoleh keselamatan dan keberuntungan dalam melakukan melaksanakan swadharma terutama yang berkaitan dengan kesenian, baik sakral maupun seni pertunjukan-pertunjukanlainnya agar metaksu, menarik dan menawan hati tiap-tiap penonton.
Untuk pecinta dan pelaku seni, upacara selamatan berupa persembahan bebanten: sesayut tumpeng guru, prayascita, penyeneng dan asap dupa harum, sambil memohon agar supaya mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dalam menciptakan majunya kesenian dan kesusastraan.
Om Santih Santih santih Om
Disunting dari berbagai sumber
Thursday, September 15, 2011
MKNA: Banten Dapetan
Salam Kasih
Om Swastyastu
Berasal dari kata Dapet yang berarti: yang didapatkan atau yang diterima. Maksudnya bahwa segala sesuatu yang diterima, dialami oleh mahluk hidup terutama manusia semuanya bersumber dari Karmawasana.
Dengan demikian diharapkan agar manusia selalu eling dan berbenah diri terhadap segala kekeliruan, kesalahan baik yang bersumber dari pikiran, kata-kata dan prilaku. Dengan demikian kelahiran ini tidak menjadi sia-sia.
Dalam Lontar Widhi Sastra Mpu Kuturan dinyatakan: “ sekancaning sane kapanggihin/pikolihin ring sajeroning kauripane mangkin, kawon utawi becik sane kepanggihin/kapikolihang, wantah mawiwit sangkaning karmawasana sane riyin. Nenten lempas saking woh pakardine, ring kauripane mangkin wantah genahe muponin, tur taler ngardinin karmawasana sane becik, sanen nenten lempas ring kadharman. Maka sarana anggen bekel ring panumadyane wekasan. Dumugi prasidha nincap saking kauripannyane mangkin”.
Om Santih Santih Santih Om
Om Swastyastu
Berasal dari kata Dapet yang berarti: yang didapatkan atau yang diterima. Maksudnya bahwa segala sesuatu yang diterima, dialami oleh mahluk hidup terutama manusia semuanya bersumber dari Karmawasana.
Dengan demikian diharapkan agar manusia selalu eling dan berbenah diri terhadap segala kekeliruan, kesalahan baik yang bersumber dari pikiran, kata-kata dan prilaku. Dengan demikian kelahiran ini tidak menjadi sia-sia.
Dalam Lontar Widhi Sastra Mpu Kuturan dinyatakan: “ sekancaning sane kapanggihin/pikolihin ring sajeroning kauripane mangkin, kawon utawi becik sane kepanggihin/kapikolihang, wantah mawiwit sangkaning karmawasana sane riyin. Nenten lempas saking woh pakardine, ring kauripane mangkin wantah genahe muponin, tur taler ngardinin karmawasana sane becik, sanen nenten lempas ring kadharman. Maka sarana anggen bekel ring panumadyane wekasan. Dumugi prasidha nincap saking kauripannyane mangkin”.
Om Santih Santih Santih Om
MAKNA: Canang Sari
Salam Kasih
Om Swastyastu
”Canang sari inggih punika sarin kasucian kayun bhakti ring Hyang Widhi tunggal. Napkala ngaksara kahiwangan-kahiwangan”.- Canang sari yaitu inti dari pikiran dana niat yang suci sebagai tanda bhakti/hormat kepada Hyang Widhi ketika ada kekurangan saat sedang menuntut ilmu kerohanian (lontar Mpu Lutuk Alit). Canang sari adalah suatu upakara/banten yang selalu menyertai atau melengkapi setiap sesajen/persembahan, segala upakara yang dipersiapkan belum disebut lengkap kalau tidak di lengkapi dengan canang sari, begitu pentingnya sebuah canang sari dalam suatu upakara/bebanten. Apakah sebenarnya makna yang terkandung dalam sebuah canang sari?. Canang sari sebagai lambang angga sarira serta hidup dan kehidupan. Yaitu:
a. Ceper. Ceper adalah sebagai alas dari sebuah canang, yang memiliki bentuk segi empat. Ceper adalah sebagai lambang angga-sarira (badan), empat sisi dari pada ceper sebagai lambang/nyasa dari Panca Maha Bhuta, Panca Tan Mantra, Panca Buddhindriya, Panca Karmendriya. Keempat itulah yang membentuk terjadinya Angga-sarira (badan wadag) ini.
b. Beras. Beras atau wija sebagai lambang/nyasa Sang Hyang Atma, yang menjadikan badan ini bisa hidup, Beras/wija sebagai lambang benih, dalam setiap insan/kehidupan diawali oleh benih yang bersumber dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang berwujud Atma. Ceper sebagai lambang/nyasa angga-sarira/badan tiadalah gunanya tanpa kehadiran Sang Hyang Atma. Tak ubahnya bagaikan benda mati, yang hanya menunggu kehancurannya. Maka dari itulah di atas sebuah ceper juga diisi dengan beras, sebagai lambang/nyasa Sang Hyang Atma. Maka dari itulah hidup kita di belenggu oleh Citta dan Klesa, Atma menimbulkan terjadinya Citta Angga-sarira (badan kasar) menimbulkan terjadinya klesa, itulah yang menyebabkan setiap umat manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya.
c. Porosan. Sebuah Porosan terbuat dari daun sirih, kapur/pamor, dan jambe atau gambir sebagai lambang/nyasa Tri-Premana, Bayu, Sabda, dan Idep (pikiran, perkataan, dan perbuatan). Daun sirih sebagai lambang warna hitam sebagai nyasa Bhatara Visnu, dalam bentuk tri-premana sebagai lambang/nyasa dari Sabda (perkataan), Jambe/Gambir sebagai nyasa Bhatara Brahma, dalam bentuk Tri-premana sebagai lambang/nyasa Bayu (perbuatan), Kapur/Pamor sebagai lambang/nyasa Bhatara Iswara, dalam bentuk Tri-premana sebagai lambang/nyasa Idep (pikiran). Suatu kehidupan tanpa dibarengi dengan Tri-premana dan Tri Kaya, suatu kehidupan tiadalah artinya, hidup ini akan pasif, karena dari adanya Tri-premana dan Tri Kaya itulah kita bisa memiliki suatu aktivitas, tanpa kita memiliki suatu aktivitas kita tidak akan dapat menghadapi badan ini. Suatu aktivitas akan terwujud karena adanya Tri-Premana ataupun Tri-kaya.
d. Tebu dan pisang. Di atas sebuah ceper telah diisi dengan beras, porosan, dan juga diisi dengan seiris tebu dan seiris pisang. Tebu atapun pisang memiliki makna sebagai lambang/nyasa amrtha. Setelah kita memiliki badan dan jiwa yang menghidupi badan kita, dan tri Pramana yang membuat kita dapat memiliki aktivitas, dengan memiliki suatu aktivitaslah kita dapat mewujudkan Amrtha untuk menghidupi badan dan jiwa ini. Tebu dan pisang adalah sebagai lambang/ nyasa Amrtha yang diciptakan oleh kekuatan Tri Pramana dan dalam wujud Tri Kaya.
e. Sampian Uras. Sampian uras dibuat dari rangkaian janur yang ditata berbentuk bundar yang biasanya terdiri dari delapan ruas atau helai, yang melambangkan roda kehidupan dengan Astaa iswaryanya/delapan karakteristik yang menyertai setiap kehidupan umat manusia. Yaitu : Dahram (Kebijaksanaan), Sathyam (Kebenaran dan kesetiaan), Pasupati (ketajaman, intelektualitas), kama (Kesenangan), Eswarya (kepemimpinan), Krodha (kemarahan), Mrtyu (kedengkian, iri hati, dendam), Kala ( kekuatan). Itulah delapan karakteristik yang dimiliki oleh setiap umat manusia, sebagai pendorong melaksanakan aktivitas, dalam menjalani roda kehidupannya.
f. Bunga. Bunga adalah sebagai lambang/nyasa, kedamaian, ketulusan hati. Pada sebuah canang bunga akan ditaruh di atas sebuah sampian uras, sebagai lambang/nyasa di dalam kita menjalani roda kehidupan ini hendaknya selaludilandasi dengan ketulusan hati dan selalu dapat mewujudkan kedamaian bagi setiap insan.
g. Kembang Rampai. Kembang rampai akan ditaruh di atas susunan/rangkaian bunga-bunga pada suatu canang, kembang rampai memiliki makna sebagai lambang/nyasa kebijaksanaan. Dari kata kembang rampai memiliki dua arti, yaitu: kembang berarti bunga dan rampai berarti macam-macam, sesuai dengan arah pengider-ideran kembang rampai di taruh di tengah sebagai simbol warna brumbun, karena terdiri dari bermacam-macam bunga. Dari sekian macam bunga, tidak semua memiliki bau yang harum, ada juga bunga yang tidak memiliki bau, begitu juga dalam kita menjalani kehidupan ini, tidak selamanya kita akan dapat menikmati kesenangan adakalanya juga kita akan tertimpa oleh kesusahan, kita tidak akan pernah dapat terhindar dari dua dimensi kehidupan ini. Untuk itulah dalam kita menata kehidupan ini. Untuk itulah dalam kita menata kehiupan ini hendaknya kita memiliki kebijaksanaan.
h. Lepa. Lepa atau boreh miyik adalah sebagai lambang/nyasa sebagai sikap dan prilaku yang baik. Boreh miyik/lulur yang harum, lalau seseorang memaki lulur, pasti akan dioleskan pada kulitnya, jadi lulur sifat di luar yang dapat disaksikan oleh setiap orang. Yang dapat dilihat ataupun disaksikan oleh orang lain adalah prilaku kita, karena prilakunyalah seseorang akan disebut baik ataupun buruk, seseorang akan dikatakan baik apabila dia selalu berbuat baik, begitu juga sebaliknya seseorang akan dikatakan buruk kalau di selalu berbuat hal-hal yang tidak baik. Boreh miyik sebagai lambang/nyasa perbuatan yang baik.
i. Minyak wangi. Minyak wangi/miyik-miyikan sebagai lambang/nyasa ketenangan jiwa atau pengendalian diri, minyak wangi biasanya diisi pada sebuah canang. Sebagai lambang/nyasa di dalam kita menata hidup dan kehidupan ini hendaknya dapat dijalankan dengan ketenangan jiwa dan pengendalian diri yang baik, saya umpamakan seperti air yang tenang, di dalam air yang kita akan dapat melihat jauh ke dalam air, sekecil apapun benda yang ada dalam air dengan gampang kita dapat melihatnya. Begitu juga dalam kita menjalani kehidupan ini, dengan ketenangan jiwa dan pengendalian diri yang mantap kita akan dapat menyelesaikan segala beban hidup ini.
Canang adalah pada dasarnya sebagai wujud dari perwakilan kita untuk menghadap kepada-Nya. Kalau kita dapat meresapi dan menghayati serta melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari, seperti apa yang terkandung dalam makna Canang sari di atas, pasti bhakti kita akan diterima oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dan kita dapat mengarungi kehidupan ini dengan damai sejahtera sekala niskala.
Om Santih Santih Santih Om
Om Swastyastu
”Canang sari inggih punika sarin kasucian kayun bhakti ring Hyang Widhi tunggal. Napkala ngaksara kahiwangan-kahiwangan”.- Canang sari yaitu inti dari pikiran dana niat yang suci sebagai tanda bhakti/hormat kepada Hyang Widhi ketika ada kekurangan saat sedang menuntut ilmu kerohanian (lontar Mpu Lutuk Alit). Canang sari adalah suatu upakara/banten yang selalu menyertai atau melengkapi setiap sesajen/persembahan, segala upakara yang dipersiapkan belum disebut lengkap kalau tidak di lengkapi dengan canang sari, begitu pentingnya sebuah canang sari dalam suatu upakara/bebanten. Apakah sebenarnya makna yang terkandung dalam sebuah canang sari?. Canang sari sebagai lambang angga sarira serta hidup dan kehidupan. Yaitu:
a. Ceper. Ceper adalah sebagai alas dari sebuah canang, yang memiliki bentuk segi empat. Ceper adalah sebagai lambang angga-sarira (badan), empat sisi dari pada ceper sebagai lambang/nyasa dari Panca Maha Bhuta, Panca Tan Mantra, Panca Buddhindriya, Panca Karmendriya. Keempat itulah yang membentuk terjadinya Angga-sarira (badan wadag) ini.
b. Beras. Beras atau wija sebagai lambang/nyasa Sang Hyang Atma, yang menjadikan badan ini bisa hidup, Beras/wija sebagai lambang benih, dalam setiap insan/kehidupan diawali oleh benih yang bersumber dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang berwujud Atma. Ceper sebagai lambang/nyasa angga-sarira/badan tiadalah gunanya tanpa kehadiran Sang Hyang Atma. Tak ubahnya bagaikan benda mati, yang hanya menunggu kehancurannya. Maka dari itulah di atas sebuah ceper juga diisi dengan beras, sebagai lambang/nyasa Sang Hyang Atma. Maka dari itulah hidup kita di belenggu oleh Citta dan Klesa, Atma menimbulkan terjadinya Citta Angga-sarira (badan kasar) menimbulkan terjadinya klesa, itulah yang menyebabkan setiap umat manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya.
c. Porosan. Sebuah Porosan terbuat dari daun sirih, kapur/pamor, dan jambe atau gambir sebagai lambang/nyasa Tri-Premana, Bayu, Sabda, dan Idep (pikiran, perkataan, dan perbuatan). Daun sirih sebagai lambang warna hitam sebagai nyasa Bhatara Visnu, dalam bentuk tri-premana sebagai lambang/nyasa dari Sabda (perkataan), Jambe/Gambir sebagai nyasa Bhatara Brahma, dalam bentuk Tri-premana sebagai lambang/nyasa Bayu (perbuatan), Kapur/Pamor sebagai lambang/nyasa Bhatara Iswara, dalam bentuk Tri-premana sebagai lambang/nyasa Idep (pikiran). Suatu kehidupan tanpa dibarengi dengan Tri-premana dan Tri Kaya, suatu kehidupan tiadalah artinya, hidup ini akan pasif, karena dari adanya Tri-premana dan Tri Kaya itulah kita bisa memiliki suatu aktivitas, tanpa kita memiliki suatu aktivitas kita tidak akan dapat menghadapi badan ini. Suatu aktivitas akan terwujud karena adanya Tri-Premana ataupun Tri-kaya.
d. Tebu dan pisang. Di atas sebuah ceper telah diisi dengan beras, porosan, dan juga diisi dengan seiris tebu dan seiris pisang. Tebu atapun pisang memiliki makna sebagai lambang/nyasa amrtha. Setelah kita memiliki badan dan jiwa yang menghidupi badan kita, dan tri Pramana yang membuat kita dapat memiliki aktivitas, dengan memiliki suatu aktivitaslah kita dapat mewujudkan Amrtha untuk menghidupi badan dan jiwa ini. Tebu dan pisang adalah sebagai lambang/ nyasa Amrtha yang diciptakan oleh kekuatan Tri Pramana dan dalam wujud Tri Kaya.
e. Sampian Uras. Sampian uras dibuat dari rangkaian janur yang ditata berbentuk bundar yang biasanya terdiri dari delapan ruas atau helai, yang melambangkan roda kehidupan dengan Astaa iswaryanya/delapan karakteristik yang menyertai setiap kehidupan umat manusia. Yaitu : Dahram (Kebijaksanaan), Sathyam (Kebenaran dan kesetiaan), Pasupati (ketajaman, intelektualitas), kama (Kesenangan), Eswarya (kepemimpinan), Krodha (kemarahan), Mrtyu (kedengkian, iri hati, dendam), Kala ( kekuatan). Itulah delapan karakteristik yang dimiliki oleh setiap umat manusia, sebagai pendorong melaksanakan aktivitas, dalam menjalani roda kehidupannya.
f. Bunga. Bunga adalah sebagai lambang/nyasa, kedamaian, ketulusan hati. Pada sebuah canang bunga akan ditaruh di atas sebuah sampian uras, sebagai lambang/nyasa di dalam kita menjalani roda kehidupan ini hendaknya selaludilandasi dengan ketulusan hati dan selalu dapat mewujudkan kedamaian bagi setiap insan.
g. Kembang Rampai. Kembang rampai akan ditaruh di atas susunan/rangkaian bunga-bunga pada suatu canang, kembang rampai memiliki makna sebagai lambang/nyasa kebijaksanaan. Dari kata kembang rampai memiliki dua arti, yaitu: kembang berarti bunga dan rampai berarti macam-macam, sesuai dengan arah pengider-ideran kembang rampai di taruh di tengah sebagai simbol warna brumbun, karena terdiri dari bermacam-macam bunga. Dari sekian macam bunga, tidak semua memiliki bau yang harum, ada juga bunga yang tidak memiliki bau, begitu juga dalam kita menjalani kehidupan ini, tidak selamanya kita akan dapat menikmati kesenangan adakalanya juga kita akan tertimpa oleh kesusahan, kita tidak akan pernah dapat terhindar dari dua dimensi kehidupan ini. Untuk itulah dalam kita menata kehidupan ini. Untuk itulah dalam kita menata kehiupan ini hendaknya kita memiliki kebijaksanaan.
h. Lepa. Lepa atau boreh miyik adalah sebagai lambang/nyasa sebagai sikap dan prilaku yang baik. Boreh miyik/lulur yang harum, lalau seseorang memaki lulur, pasti akan dioleskan pada kulitnya, jadi lulur sifat di luar yang dapat disaksikan oleh setiap orang. Yang dapat dilihat ataupun disaksikan oleh orang lain adalah prilaku kita, karena prilakunyalah seseorang akan disebut baik ataupun buruk, seseorang akan dikatakan baik apabila dia selalu berbuat baik, begitu juga sebaliknya seseorang akan dikatakan buruk kalau di selalu berbuat hal-hal yang tidak baik. Boreh miyik sebagai lambang/nyasa perbuatan yang baik.
i. Minyak wangi. Minyak wangi/miyik-miyikan sebagai lambang/nyasa ketenangan jiwa atau pengendalian diri, minyak wangi biasanya diisi pada sebuah canang. Sebagai lambang/nyasa di dalam kita menata hidup dan kehidupan ini hendaknya dapat dijalankan dengan ketenangan jiwa dan pengendalian diri yang baik, saya umpamakan seperti air yang tenang, di dalam air yang kita akan dapat melihat jauh ke dalam air, sekecil apapun benda yang ada dalam air dengan gampang kita dapat melihatnya. Begitu juga dalam kita menjalani kehidupan ini, dengan ketenangan jiwa dan pengendalian diri yang mantap kita akan dapat menyelesaikan segala beban hidup ini.
Canang adalah pada dasarnya sebagai wujud dari perwakilan kita untuk menghadap kepada-Nya. Kalau kita dapat meresapi dan menghayati serta melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari, seperti apa yang terkandung dalam makna Canang sari di atas, pasti bhakti kita akan diterima oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dan kita dapat mengarungi kehidupan ini dengan damai sejahtera sekala niskala.
Om Santih Santih Santih Om
MAKNA: Tebasan Prayascitta
Salam Kasih
Berasal dari kata tebas yang artinya menyempurnakan dan Prayascitta berarti pemikiran (citta: buddhi, manah, ahamkara.Prayascitta berfungsi sebagai sarana untuk menyempurnakan pikiran agar menjadi hening dan tetap pendirian, terutama pada saat melaksanakan Yajña agar selalu dilandasi oleh pikiran dan niat yang hening dan teguh pendirian mengingat pikiran itu seperti seekor monyet yang mudah sekali berubah dan terpengaruh oleh hal-hal yang kurang baik.
Tirta prayascitta ini dipercikkan ke bagian atas pelinggih dan pada manusia dipercikkan ke daerah kepala.
Dalam lontar Rare Angon dinyatakan: “Tatebasan Prayascitta maka sarana anggen maripurnayang pikayun dumogi prasidha hening tur setata ajeg. Bilih-bilih rikala nyanggra kawentenan Yajña, mangda setata kadasarin antuk pikayun sane hening tur setata ajeg riantukan kawentenan kawisayan pikayun/manahe banget sakti tur mawisesa pisan, tur banget binal pisan, meweh antuka pacang ngamel utawi negul”
Om Santih Santih Santih Om
Berasal dari kata tebas yang artinya menyempurnakan dan Prayascitta berarti pemikiran (citta: buddhi, manah, ahamkara.Prayascitta berfungsi sebagai sarana untuk menyempurnakan pikiran agar menjadi hening dan tetap pendirian, terutama pada saat melaksanakan Yajña agar selalu dilandasi oleh pikiran dan niat yang hening dan teguh pendirian mengingat pikiran itu seperti seekor monyet yang mudah sekali berubah dan terpengaruh oleh hal-hal yang kurang baik.
Tirta prayascitta ini dipercikkan ke bagian atas pelinggih dan pada manusia dipercikkan ke daerah kepala.
Dalam lontar Rare Angon dinyatakan: “Tatebasan Prayascitta maka sarana anggen maripurnayang pikayun dumogi prasidha hening tur setata ajeg. Bilih-bilih rikala nyanggra kawentenan Yajña, mangda setata kadasarin antuk pikayun sane hening tur setata ajeg riantukan kawentenan kawisayan pikayun/manahe banget sakti tur mawisesa pisan, tur banget binal pisan, meweh antuka pacang ngamel utawi negul”
Om Santih Santih Santih Om
Subscribe to:
Posts (Atom)












