Showing posts with label Pustaka. Show all posts
Showing posts with label Pustaka. Show all posts

Wednesday, June 26, 2019

VEDA Mengajarkan Kesederajatan Antara Semua Mahluk Hidup dan Cinta Kasih Sesama

Om Swastyastu




Oleh: I Wayan Sudarma





Dalam upanisad Brahman, Tuhan, ada di dalam seluruh ciptaannya. Dengan  demikian setiap ciptaan, khususnya semua mahluk  hidup terutama manusia mengandung kesucian Tuhan (Brahman) di dalam diri setiap mahluk  hidup, yang sering kita sebut dengan atman (percikan terkecil  dari parama Atman/ Brahman  itu sendiri). Sehingga Veda mengajarkan setiap umatnya untuk saling mengasihi khususnya setiap mahluk  hidup baik itu hewan, tumbuhan dan alam sekitar. Filosopi veda berputar di sekitar persaudaraan dan dan kesederajatan. Tidak ada istilah dalam Veda mengenai konsep penggolongan  manusia menjadi manusia yang beriman dengan manusia kar,  agama langit dan bumi, system jithad, perang suci, ada tuan ada budak  dan lain sebagainya yang menggolongkan manusia untuk membedakan antara yang satu dengan yang lainnya. Ajaran dalam Veda tidak menggolongkan manusia atau agama seperti itu, seperti halnya apakah sinar Matahari hanya  menyinari orang  orang  atau golongan tertentu yang layak untuk disinari, akan tetapi sinar matahari tidak memandang siapa yang akan  disinari olehnya bahkan ia tidak memalingkan sinarnya dari kotoran sekalipun. Serta  alam ini memperlakukan semuannya sama, apakah dia coklat  atau hijau ataupun hitam, tinggi atau rendah, Tuhan (Sang Hyang Widhi) telah  menetapkan cara  yang sama bagi kelahiran dan kematian semua manusia di atas bumi ini. Semua jiwa adalah sederajat seperti bunyi seloka dalam Bhagawad Gita dan Rgveda  berikut;



“Samo ham sarvo bhutesu na me devasyo stina pryah

Ye bhajanti tu man  bhaktya mayite  tesu ca pyaham” (Bhagawad Gita IX.29).



Artinya: Aku adalah sama bagi semua mahluk, bagi-Ku tidak ada yang terbenci dan terkasihi, namun bagi yang berbhakti dengan penuh dedikasi, mereka ada pada-Ku dan Aku ada pada mereka.



Hendaknya hati kita dalam kesederajatan dan persatuan. (Rgveda 10.191.4).



Dari sloka di atas, yang dikutip melalui pustaka suci/ kitab Bhagawad Gita dan Rgveda  adalah gambaran sempurna dari sifat dan prinsip Tuhan (Brahman) Hindu. Tuhan ini, Tuhan  yang bukanlah Tuhan yang hanya  duduk di singgasana di sebuah lapisan langit dengan cambuk api di satu tangan dan hadiah di tangan yang lainnya, dimana ia akan  siap mengayunkan cambuknya pada siapa yang tidak percaya kepadanya atau sebaliknya menghambur hadiah penuh kenikmatan kepada mereka yang memujanya.



Hindu terbebas dari doktrin seperti ini yang dapat mengakibatkan timbulnya suatu kebencian di antara manusia dan bertindak “mengatas namakan Tuhan atau agama”. Konsep Veda juga banyak mengajarkan mengenai persaudaraan antara umat manusia, menurut filosofi Veda, seluruh manusia di atas bumi adalah bersaudara satu sama lain. Sang Hyang Widhi adalah ibaratkan ayah yang baik hati bagi semua. Di mata Ida Sang Hyang Widhi Wasa tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah. Dia memperlakukan semua sama menganugrahkan kebahagiaan suci dan rasa syukur kepada semua, tidak peduli suku bangsa, warna  kulit dan keyakinan, sebab veda mengajarkan banyak  jalan untuk menuju jalan-Nya itu seperti yang tertuang dalam Bhagawad Gita dijelaskan;



“ye yatha  mam prapadyante tamstathaiva bhajamy aham,

Mama  vartmanuvartante manusyah partha sarvasyah” (Bhagawad Gita IV.11)



Artinya: Jalan apapun orang  memuja-Ku, pada jalan yang sama

Aku memenuhi keinginannya, Wahai  partha, karena semua jalan yang ditempuh mereka semua adalah jalan-Ku.



Maka ajaran Hindu tidak menekankan umatnya untuk “harus” ada satu jalan yang benar tetapi umat Hindu bebas memilih jalannya msing masing sesuai dengan kemampuan dan keyakinannya, “jalan” dalam artian disini kaitannya dengan Catur Marga Yoga yang meliputi, Jnana Marga Yoga, Bhakti Marga Yoga,Karma Marya Yoga dan Raja Marga Yogadengan latihan atau disiplin  astangga yoga.  Sehingga dari pada itu mengenai persaudaraan, ajaran Veda didasarkan atas persaudaraan yang universal. Seluruh  manusia memi‐ liki hak yang sama di atas bumi, semunya milik alam semesta dan alam semesta milik semuanya. Bila alam baik ke pada semua, mangapa manusia membenci satu sama lainnya atas dalih perbedaan agama?



Karenyanya Veda secara empatik mendorong seluruh manusia di atas bumi untuk mencintai satu sama lainnya dari lubuk hatinya seperti yang dinyatakan dalam kitab Atharvaveda sebagai berikut ;



“cintai satu sama lain seperti  sapi mencintai anaknya yang baru lahir” (Atharvaveda 3.30.1)



Konsep veda juga banyak  mengajarkan danmenekankan bahwa jiwa dari semua orang, burung, binatang buas dan serangga memiliki sinar suci yang sama. Tidak ada satupun yang kosong dari kemurnian hati, keagungan dan kemulian Sang Hyang Widhi. Seluruh  mahluk  berasal dari Sang Paramatman (mahluk  utama, supreme being) yang adalah ayah bagi semua anak aanak-Nya. Bila demikian halnya, mengapa semua manusia saling menghina satu sama lain? Ida Sang Hyang Widhi menyusupi segala mahluk hidup, apakah tinggi atau rendah, pendosa atau suci, dan juga  Hindu tidak membatasi Tuhan  hanya  ada di suatu tempat yang jauh dari jangkauan manusia atau yang duduk disinggasananya yang megah, dalam ajaran veda Tuhan  mengisi ruang  dan waktu dan menyusupi semua mahluk  hidup yang ada seperti dijeaskan dalam kitab Yajur Veda sebagai berikut;



Dia yang menyusupi segalanya meliputi seluruh mahluk di dalam maupun di luar” (Yajurveda 32.8)



Di dalam memahami filsafat emas yang di sebutkan di atas mengenai kemahahadiran Tuhan  dan menyadari kilatan cahaya sang Hyang Widhi dalam semua mahluk di atas bumi, tidak akan  membenci mahluk lain apapun. Dia yang matanya melihat pada semua orang  sebagai saudara yang sederajat yang memiliki percikan suci yang sama, yang dia rasakan dalam dirinya sendiri, bebas dari kebencian, kedengkian

dan fanatisme. Mantram Yajurveda berikut ini menjelaskan ide tersebut :



“Dia yang melihat seluruh mahluk dalam dirinya sendiri dan menemukan refleksi dari dirinya sendiri dalam semua mahluk tidak pernah memandang rendah siapapun” (Yajurveda 40.6)



Jadi sudah jelas bahwa Filosofi Hindu (Filosofi Veda) bergantung atas kesederajatan dan persaudaraan. Ia didasarkan atas persaudaraan universal-persaudaraan bukan  hanya  antara orang  orang  Hindu saja tetapi seluruh manusia di atas bumi, karena semua hati adalah singgasana dari Yang Mahakuasa.



“O Arjuna, Sang Hyang paramatma tinggal dalam hati semua mahluk  hidup” (Bhagavad Gita 18.6).



Sehingga banyak  para sarjana barat mengemukakan kekagumannya pada veda damn berikut kutipan  dari beberapa sarjana barat mengenai Veda;



1.        Max Mueller, indologis asal jerman mengungkapkan “konsep dunia sebagaimana di simpulkan dari veda dan utamanya dari upanisad sungguh sungguh menggumkan’.

2.        Prof. Heern, sarjana barat terkemuka, menulis “Veda berdiri sendiri dan kemegahannya tersendiri berlaku  sebagai mercusuar bagi gerak maju kemanusiaan”

3.        Lord Morly menyatakan tanpa ragu ”apa yang di temukan dalam veda, tidak ada di tempat lain manapun”

4.        Henry D Thoreau, filsup Amerika, mengungkap‐ kan “kapanpun saya membaca bagian manapun dari Veda, saya merasakan bahwa beberapa cahaya tak dikenal dan bukan  dari bumi ini menerangi saya. Di dalam ajaran agung dari veda, tidak ada sentuhan sektarianisme. Ia adalah untuk segala jaman, cuaca dan nasionalitas dan jalan agung untuk pencapaian pengetahuan besar. Ketika saya ada padanya, saya merasa bahwa saya ada di bawah kelap kelip surga surga di suatu malam musim panas”.

5.        Julius Robert Oppenheimer, ilmuan ( pencipta bom atom AS )dan Filsuf berpendapat bahwa “ akses kepada veda adalah hak istimewa terbesar dari abad ini yang dapat di klaim selama abad abad sebelumnya”.



Maka sudah jelas ditegaskan dalam veda, bahwa hendaknya mahluk  di atas bumi baik itu manusia, hewan dan tumbuhan atau alam sekitar untuk saling mengasihi antara sesama dengan tidak memandang kelebihan atau kekurangan dari mahluk  lainnya dan  juga veda menegaskan bahwa tentang ajran ahimsa yang sangat universal. Terangilah mata yang memancarkan pandangan kasih dan cinta pada yang lain. Veda mengajarkan bahwa semuanya bersahabat, tidak seorangpun musuh. Cinta melahirkan cinta, kebencian melahirkan racun. Bila engkau melihat kepada yang lain dengan mata yang bersahabat dan penuh cinta kasih, mereka akan  mengembalikan pandangan kasih kepadamu. Oleh karena itu adalah merupakan tugas kita yang utama untuk menciptakan atmosfir rasa cinta kasih, kesederajatan dan kekeluargaan antara semua mahluk  yang ada.  Untuk mencapai keseimbangan cinta kasih dapat diwujudkan melalui garis vertical dan horizontal. Terlebih lagi memsuki abad moderen dan global dibutuhkan pemikiran yang arif dan bijaksana. Disuatu sisi dituntut bersikap rasional, namun disisi lain masih diperlukan curahan emosi spiritual terutama hubungan manusia dengan Tuhan sebagai maha pencipta alam semesta beserta isinya. Jalan terbaik  adalah bagaimana cara mensinergikan emosi spiritual dengan sikap rasional. Dalam hal ini relefasi keseimbangan cintakasih dengan abad moderen lebih lebih difokuskan kepada peningkatan kualitas sumber daya manusia Yang memegang teguh  nilai nilai ke Tuhanan, kemanusiaan dan kealaman. Saling mencintai dan mengasihi satu sama lain dan siapa saja tanpa memandang perbedaan fisik akan  memberikan keseimbangan cinta kasih. Dalam Yajurveda 32.8 dinyatakan “Sa’atah Protasca Wibhuh Prajasu” yang artinya: Tuhan terjalin dalam mahluk  yang diciptakannya.



Semoga semua bahagia,

Semoga semua sehat,

Semoga semua senang,

Semoga tidak ada yang menderita dari kesengsaraan

dan kemalangan.



Om Santih Santih Santih Om

Saturday, June 30, 2018

Kali Yuga dan globalisasi

Om Swastyastu



Oeh: I Wayan Sudarma 



Oṁ Hyang Widhi Semoga pikiran yang benar datatang dari segala penjuru dan menyelimuti kami semua

Di dalam berbagai kitab Purāṇa ditengarai bahwa sejak penobatan prabhu Parikṣit cucu Arjuna sebagai maharaja Hastina pada tanggal 18 Februari 3102 SM., umat manusia telah mulai memasuki jaman Kaliyuga (Gambirananda, 1984 : XIII). Kata Kaliyuga berarti jaman pertengkaran yang ditandai dengan memudarnya kehidupan spiritual, karena dunia dibelenggu oleh kehidupan material. Orientasi manusia hanyalah pada kesenangan dengan memuaskan nafsu indrawi (Kāma) dan bila hal ini terus diturutkan, maka nafsu itu ibarat api yang disiramdengan minyak tanah atau bensin, tidak akan padam, melainkan menghancurkan diri manusia.



Ciri jaman Kali (Kaliyuga) semakin nyata pada era globalisasi yang ditandai dengan derasnya arus informasi, dimotori oleh perkembangan teknologi dengan muatan filsafat Hedonisme yang hanya berorientasi pada material dan usaha untuk memperoleh kesenangan nafsu berlaka. Dengan tidak mengecilkan arti dampak postif globalisasi, maka dampak negatifnya nampaknya perlu lebih diwaspadai. Globalisasi menghapuskan batas-batas negara atau budaya suatu bangsa. Budaya Barat yang sekuler sangat mudah diserap oleh bangsa-bangsa Timur dan bila hal ini tidak terkendalikan tentu menghancurkan budaya atau peradaban bangsa-bangsa Timur.

Seperti telah dijelaskan secara sepintas tentang arti kata Kaliyuga atau jaman pertengkaran atau masyarakatnya suka bertangkar dan kemudian mengarah kepada peperangan, kini dapat kita rasakan, di mana-mana nampaknya masyarakat mudah tersulut pada pertengkaran.

Pusat-pusat pertengkaran yang menghancurkan kehidupan manusia digambarkan dalam kitab Skanda Purāṇa, XVII.1, antara lain pada : minuman keras, perjudian, pelacuran, dan harta benda/emas (Vettam Mani, 1989 : 373). Hal ini adalah logis, karena pada tempat-tempat tersebut merupakan arena yang sering mengobarkan pertengkaran. Minuman keras menjadikan seseorang mabuk dan bila mabuk maka pikiran, perkataan dan tingkah lakunya sulit untuk dikendalikan. Demikian di tempat judian, pelacuran dan persaingan mencari harta benda yang tidak dilandasi oleh Dharma (kebenaran), di tempat-tempat tersebut sangat peka meletupnya pertengkaran yang kadang-kadang berakibat fatal, yaitu pembunuhan.

Kehidupan modern yang sekuler,mengantarkan manusia pada kehancuran dan hal ini semakin nyata pengaruhnya dewasa ini. Nilai-nilai moralitas, nilai kemasyarakatan dan ritual Hindu menghadapi tantangan, apakah hal-hal tersebut mampu dipertahankan atau sebaliknya ditinggalkan oleh umatnya? Solusi untuk mengantisipasi permasalahan tersebut hendaknya dikaji secara seksama, sehingga agama Hindu sesuai dengan namanya yakni Sanatana Dharma, agama yang abadi atau berlaku sepanjang jaman benar-benar menjadi pedoman, suluh penerang yang memberikan kebahagiaan kepada umatnya.




Di antara berbagai bentuk tantangan dalam menghadapi globalisasi yang bercirikan filsafat Hedonisme yang berorientasi pada usaha mencari kekayaan material sebanyak-banyak sebagai sarana untuk memperoleh kesenangan duniawi, maka tantangan yang berat bagi umat beragama adalah menegakkan nilai-nilai moralitas, di samping etika dan spiritual seperti yang diamanatkan dalam kitab-kitab suci agama Hindu.

Kondisi masyarakat dewasa ini nampaknya persis sama dengan penggambaran
Viṣṇu Purāṇa, sebagai berikut :

"atha evā bhijana hetuḥ, dhanam eva aśesadharma hetuḥ abhirucir eva dāmpatyasaṁbandha hetuḥ, aṇrtam eva vyavahjayaḥ strītvam eva'pabhoga hetuḥ...................... ........brahma sūtram eva vipratve hetuḥ liṅga dhāraṇam eva aśrama hetuḥ" - Masyarakat hancur karena harta benda hanya berfungsi meningkatkan status sosial/kemewahan bagi seseorang,materi menjadi dasar kehidupan kepuasan hidup hanyalah kenikmatan seks antara laki-laki dan wanita,
dusta menjadi sumber kesuksesan hidup. Seks merupakan satu-satunya sumber kenikmatan dan kesalahan merupakan hiasan bagi kehidupan spiritual. Viṣṇu Purāṇa IV. 24. 21-22.

Demikian pula di dalam kitab Vānaparva, Mahābhārata keterangan serupa dapat kita jumpai sebagai berikut :

"Pada jaman Kaliyuga para Brahmana tidak lagi melakukan upacara  yajña dan mempelajari kitab suci Veda. Mereka meninggalkan tongkat  dan kulit menjangannya dan menjadi pemakan segala (sarvabhākṣa).  Para Brahmana berhenti melaksanakan pemujaan dan para Sudra
menggantikan hal itu (32-33)".

"Kelaparan membinasakan kehidupan manusia, jalan-jalan raya dipenuhi oleh wanita yang reputasinya jelek.Setiap perempuan bertengkar/bermusuhan dengan suaminya dan tidak memiliki sopan santun (42)"

"Para Brahmana diliputi oleh dosa dengan membunuh para dwijati dan menerima sedekah dari para pemimpin yang tidak jujur (43)"

"Pada jaman itu orang - orang bertentangan hidupnya dengan nilai-nilai moralitas,mereka kecanduan dengan minuman keras, mereka melakukan penyiksaan walaupun di tempat tidur gurunya. Mereka sangat terikat  keduniawian. Mereka hanya mencari kepuasan duniawi terutama daging dan darah (48)"

"Pada jaman itu ashram-ashram para pertapa dipenuhi oleh orang-orang  berdosa dan orang-orang angkara murka yang malang yang selalu mengabdikan hidupnya pada ketergantungan duniawi (49)"

"Pada jaman itu orang-orang tidak suci baik dalam pikiran dan perbuatan nya karena mereka iri hati dan dengki. Bumi ini dipenuhi oleh orang- orang yang penuh dosa dan tidak bermoral (51)".

"Pada jaman Kaliyuga para pedagang melakukan berbagai bentuk peni- puan, menjual barang-barangnya dengan ukuran dan timbangan yang  tidak benar (53)".

"Pada jaman Kaliyuga orang-orang budiman hidupnya miskin dan umurnya pendek. Orang-orang yang penuh dosa menjadi kaya raya dan memiliki umur panjang (55)".


"Gadis-gadis berumur 7 dan 8 tahun sudah melahirkan anak-anak dan  anak-anak laki berumur 10 atau 12 tahun telah menjadi ayah (60)".

"Orang-orang ketika berumur 16 tahun sudah jompo dan segera setelah itu ajalpun menjemput (61)"

"Para wanita mudah celaka, melakukan perbuatan yang tidak pantas dan melakukan perbuatan yang tidak terpuji, menipu suami-suami mereka yang berbudi pekerti luhur, melupakan mereka bahkan berhubungan dengan pelayannya dan atau dengan binatang sekalipun (63)". Vānaparva, CLXXXVIII.

Lebih jauh di dalam kakawin berbahasa Jawa Kuno, Nītiśāstra yang rupanya merupakan saduran dari Cāṇakya Nītiśāstra dalam bahasa Jawa Kuno dinyatakan sebagai berikut :  

"Singgih yan tekaning yugānta Kali tan hana lewiha sakeng mahādhana tan waktan guṇaśura paṇḍita widagdha pada mangayapiing dhaneśwara sakwehning rinahasya sang wiku hilang kula ratu pada hīna kāsyasih putrādwe pīta niṇḍa ring bapa si śūdra banija wara wīrya paṇḍita" - Sesungguhnya bila jaman Kali datang pada akhir yuga, hanya kekayaan /harta benda yang sangat dihargai. Tidak perlu dikatakan lagi, bahwa  orang yang saleh,orang-orang yang pandai akan mengabdi kepada orang- orang yang kaya. Semua ajaran rahasia kepanditaan lenyap, keluarga- keluarga dan para pemimpin yang bijaksana menjadi hina papa. Anak- anak menipu dan mengumpat orang tuanya. Orang - orang hina akan menjadi saudagar kaya, mendapat kemuliaan dan kepandaian. Nītiśāstra IV.7



Renungan:

Bila pada era globalisasi ini nilai-nilai moralitas tidak diindahkan lagi oleh orang-perorangan (individu) maupun oleh masyarakat, maka ciri-ciri yang digambarkan pada jaman Kaliyuga itu merupakan kebenaran. Nilai-nilai moralitas semestinya menjadi pegangan hidup setiap orang, namun karena trend jaman Kali lebih menekankan pleasure oriented , maka hal itu akan mudah ditinggalkan.

Bila kita melihat diturunkannya ajaran agama, yang maksudnya adalah untuk mensejahtrakan manusia, maka manusia hendaknya kembali kepada ajaran agama sebagai basis kehidupan. Manusia yang taat untuk mengamalkan ajaran agama, akan berhasil mengarungi samudra kehidupan dengan berbagai gelombangnya, apakah dahsyat atau lembut. Seorang yang berhasil meniti gelombang kehidupan adalah ibarat seorang peselancar yang mahir, sesekali tenggelam dihantam gelombang, namun tidak lama kemudian ia tersenyum riang di atas alunan pasang.

Oṁ Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ Oṁ








Tuesday, April 2, 2013

Pemacekan Agung

Salam Kasih
Lima hari setelah Hari Suci Galungan, tepatnya pada hari Soma Kliwon wuku Kuningan, dinamakan hari Pemacekan Agung. Secara etimogi Pemacekan berarti 'saat menancapkan sesuatu' dan kata Agung berarti 'besar, mulia, utama'.

Secara filosofis Pemacekan Agung mengandung makna, bahwasanya hari ini manusia diingatkan agar 'kemenangan' yang telah ia peroleh melalui pertempuran m...elawan adharma dijadikan sebagai 'tonggak' kebangkitan kesadaran diri, sebagai 'pengukuhan' komitmen untuk selalu menjaga martabat kemanusiaan, dan menghindarkan diri dari 'momo angkara'. Dalam lontar Dharma Kahuripan disebutkan: "Pamacekan Agung nga, panincepan ikang angga sarira maka sadhanang tapasya ring Sanghyang Dharma" (Pemacekan Agung, namanya demikian adalah pemusatan diri dengan sarana tapa kepada Sanghyang Dharma).

Pemacekan Agung adalah sebuah 'tapasya' atau janji diri untuk selalu mengedepankan dharma dalam setiap tindak-tanduk kita mengisi hidup-sehingga kemenangan yang telah kita raih tidak tersapu oleh godaan ahamkara.

Pemacekan Agung adalah saat dimana panji-panji dharma ditanjapkan, dan ditegakkan sehingga semua bentuk musuh baik yang berasal dari luar diri, pun yang bersumber dari dalam diri tidak memiliki kesempatan dan kekuatan melemahkan jati diri kita sebagai manusia (manusa sane masesana).

Rahayu _/I\_ I Wayan Sudarma (Jro Mangku Danu)
Bali-09 Maret 2009