Showing posts with label Spiritual. Show all posts
Showing posts with label Spiritual. Show all posts

Friday, June 29, 2018

Keutamaan Namasmaranam

Om Swastyastu

Namasmaranam, adalah bakti dengan jalan mengingat. Arah gerak vertical dari bhakti ini adalah dalam menjalani dan menata kehidupan ini masyarakat manusia sepatutnya selalu melatih diri untuk mengingat, mengingat nama-nama suci Tuhan dengan segala Ke-Mahakuasaan-nya, dan selalu untuk melatih diri untuk mengingat tentang instruksi dan pesan atau amanat dari sabda suci Tuhan kepada umat manusia yang dapat dijadikan sebagai pedoman atau pegangan hidup dalam hidup di dunia dan di alam sunya nanti.


Arah gerak secara horizontal dari bhakti ini apabila dikaitkan dengan isu-isu pluralisme, kemanusiaan, perdamaian, demokrasi dan gender maka sepatutnya masyarakat manusia selalu berusaha untuk mengingat kembali tragedi dan penderitaan kemanusiaan, musibah dan bencana alam, dan lain-lain, yang diakibatkan oleh konflik-konflik atau pertikaian, kesewenang-wenangan, diskriminasi, dan tindakan kekerasan yang lainnya antara individu yang satu dengan individu yang lain ataupun antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain yang tidak atau kurang memahami dan menghargai indahnya sebuah kebhinekaan dan pluralisme.

Harapannya dengan mengingat tragedi, penderitaan, musibah dan bencana yang diakibatkan itu masyarakat manusia selalu mewartakan dan mengingatnya sebagai bekal untuk mengevaluasi dan merefleksi diri akan indahnya kebhinekaan dan pluralisme apabila masyarakat manusia mampu mengkemasnya dalam satu bingkai yaitu bingkai kebersamaan, persatuan dan kedamaian. Iklim saling bhakti Smaranam ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat manusia yang ditanamkan di awali dilingkungan keluarga sehingga tumbuh karakter Ketuhanan dalam setiap anggota keluarga sebagai modal dasar guna mewujudkan kesalehan dan keharmonisan sosial dalam kehidupan sosial kemasyarakatannya.

Namasmaranam artinya “mengingat nama Tuhan”. Jika kita kaji secara lebih jelasnya Namasmaranam ini merupakan ajaran suci yang wajib untuk umat beragama yang meyakini akan adanya sang pencipta “Tuhan”, dimana dalam ajaran ini kita di harapkan agar bisan dan terbiasa terhubung, dekat dengan Ida Sang Hyang Widi Wasa, dan mengingat nama-Nya, mengingat kebesaran-Nya, dan kemulian-Nya.

Source: https://www.youtube.com/watch?v=JvCaTrywGF4&t=4s

Ini bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari yaitu dengan cara ber-bhakti kepada-Nya. Banyak jalan untuk melaksanakan Bhakti kita kepada Tuhan, contoh kecil saja hanya dengan mengingat-Nya setiap saat, itu sudah aplikasi dari Bhakti kita kehadapan-Nya.


Om Santih Santih Santih Om

Oleh: I Wayan Sudarma

Tuesday, May 24, 2016

5 Kebohongan Yang Diperbolehkan Dalam Hindu (Panca Nrta)

5 Kebohongan Yang Diperbolehkan Dalam Hindu (Panca Nrta)

Ditulis oleh: Shri Danu DP.

Om Swastyastu

Banyak orang yang berpikir bahwa kebohongan dalam bentuk apapun itu tidak diperbolehkan karena dianggap sebagai bentuk dari pada dosa. Namun, Umat Hindu berkata lain. dalam Ajaran Agama Hindu, seperti halnya yang terjadi dalam kisah Mahabharata, dimana Krshna meminta Yudisthira untuk berbohong atas kematian Asvathama untuk mengalahkan guru Drona.

Bahkan dalam Canakya Nitisastra.VII.12 juga disebutkan:

"Janganlah hidup terlalu lurus atau terlalu jujur, sebab begitu Anda pergi ke hutan Anda akan melihat bahwa pohon-pohon yang lurus ditebang, sedangkan pohon-pohon yang bengkok dibiarkan hidup."

Dalam Ajaran Hindu mengenal Panca Nrta yaitu Lima kebohongan yang diperbolehkan. Pembagiannya antara lain:

1. Berbohong Kepada Anak-anak

Misalnya membohongi anak kecil kalau dia menduduki bantal maka akan bisulan. Padahal secara logika, mana mungkin bantal bisa membuat bisulan. Tujuan dari kebohongan ini adalah menjaga sopan santun sang anak bahwa bantal untuk kepala tidak boleh diduduki.

2. Berbohong dalam Dunia Perdagangan

Untuk memperoleh untung, seorang pedagang memang berbohong ketika menjual sesuatu barang miliknya. ".....Sumpah mati saya nggak dapat untung...". Akan sangat tidak mungkin jika seseorang menjual barang dagangannya sesuai dengan harga aslinya, maka pedagang itu pasti akan rugi mengingat biaya transportasi dan lain sebagainya harus diperhitungkan.

3. Berbohong Kepada Musuh

Misalnya, saat di medan perang, kita tertangkap oleh musuh dan jiwa kita terancam jika tidak memberi informasi. Dalam keadaan seperti ini kita boleh berbohong dalam memberikan informasi. Juga terhadap penjahat dan atau maling.

4. Berbohong Kepada Pasangan

Aturan ini berlaku untuk pasangan yang sudah terikat janji suci pernikahan. Mengapa boleh berbohong pada pasangan? Ini tujuannya cukup baik yaitu menjaga keharmonisan rumah tangga. Misalnya, di pagi hari seorang istri membuatkan sarapan untuk suaminya. Tentu suaminya memuji bahwa masakan istrinya sangat enak, walau kenyataannya mungkin rasanya asin.

5. Berbohong Kepada Orang Sakit

Misalnya, jika kita menjenguk seorang kawan di rumah sakit. Selalu katakan “Kamu akan segera sembuh”, baik itu kebenaran atau kebohongan. Namun, jika kita mengatakan “umurmu tinggal 7 hari lagi”. Coba kita pikirkan, bagaimana perasaan orang tersebut.

Semoga bermanfaat bagi wawasan kita semua. Manggalamastu

Om Santih Santih Santih Om
Bekasi, 12 Juni 1999

Wednesday, November 25, 2015

NGIRING & NYUNGSUNG DALAM KEROHANIAN

Om Swastyastu

Di masyarakat kita, istilah ngiringan dan nyungsung mungkin sudah tidak asing lagi. Banyak sekali orang di dalam masyarakat yang merasa, menganggap, dianggap atau mengatakan dirinya ngiringan atau nyungsung. Di dalam masyarakat istilah ngiringan atau nyungsung biasanya cenderung dimaknai sebagai sesuatu yang bersifat niskala, mistik, gaib atau suatu hal atau kegiatan yang berhubungan dengan kekuatan - kekuatan yang berada di luar logika dan pemikiran manusia. Mereka yang ngiringan atau nyunsung, merasa bahwa mereka telah dipilih atau menjadi pilihan dari para dewa - dewi atau bahkan roh - roh tertentu untuk menjadi "abdi" atau bahkan mediator dari para dewa - dewi atau roh - roh tersebut untuk dapat membantu dan menolong dirinya atau manusia lainya dengan berbagai kemampuan atau kekuatan gaib. Umumnya proses ngiringan atau nyungsung ini berawal dari sebuah mimpi, petunjuk gaib, bahkan musibah atau penyakit.

"Tapi apakah benar seperti itu?"

Kata "ngiringang" berasal dari kata "ngiring" yang berarti mengikuti, sedangkan kata "nyungsung" berarti meninggikan atau memuliakan. Siapa yang diikuti dan siapa yang dimuliakan?. Tentunya sebagai orang yang beragama dan percaya terhadap Tuhan, yang harus diikuti dan dimuliakan adalah Tuhan dalam berbagai nama dan perwujudan-Nya. Ada yang memuja dan memuliakan Siwa dan berbagai perwujdan dan nama-Nya, ada yang memuja Durgha, Wisnu, Laksmi, Saraswati atau Ganapathi dan sebagainya. Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih nama dan perwujudan Tuhan yang paling mereka sukai dan cintai sebagai Istha Dewata.

"Siapakah yang sesungguhnya ngiringang atau nyungsung?"

Mereka yang senantiasa mengikuti suara hati nuraninya dimana Tuhan bersemayam didalamnya dan senatiasa berusaha berjalan mengikuti jalan kebenaran atau jalan Tuhan, yang termuat dalam berbagai sastra suci adalah mereka yang "ngiringan" dalam arti yang sesungguhnya. Demikianpun mereka yang senantiasa memuliakan Tuhan dalam berbagai nama dan perwujudan-Nya melalui berbagai kegiatan rohani, seperti sembahyang, puja, japa dan sebagainya adalah mereka yang "nyungsung" dalam arti yang sebenarnya". Mereka yang ngiringang atau nyungsung dalam arti yang sesungguhnya adalah seorang BaktaTuhan, bukan sekadar seorang penyembuh alternatif, peramal atau mereka yang senantiasa berpakaian serba putih, serba hitam atau "mempunyai" kemampuan gaib atau mistik.

Ngiringan atau nyungsung bukan sekadar karena sebuah mimpi, bukan sekadar karena sakit - sakitan kemudian bisa sembuh, bukan karena sering mengalami trance atau “kerauhan”, bukan karena “mampu mengobati” sebuah penyakit, ataupun karena berbagai kemampuan gaib yang mungkin dimiliki.

Ngiringan atau nyungsung dalam arti yang sesungguhnya belum tentu akan memberikan seseorang berbagai kemampuan atau kekuatan gaib, karena bukan hal ini yang menjadi tujuannya, walaupun kemungkinan untuk mendapatkan dan memiliki kekuatan rohani ini sangatlah besar. Belum tentu juga bahwa mereka yang ngiringan atau nyungsung dalam arti yang sebenarnya tidak akan pernah sakit atau tertimpa musibah, karena semua proses karma akan tetap berjalan, namun mereka yang memang disiplin dan dipenuhi bakti dalam ngiringan dan nyungsung ini akan mendapati bahwa sepertinya ada sebuah kekuatan yang senantiasa membantu dan menolong mereka dalam menjalani dan melalui proses karma ini.

Mereka yang ngiringan dan nyungsung dalam arti yang sesungguhnya, meskipun tanpa berbagai kemampuan dan kekuatan gaib adalah mereka yang senantiasa berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih melayani, lebih mengasihi, lebih bertanggung jawab dan berguna bagi dirinya, keluarga dan masyarakat. Mereka akan sepenuhnya terlibat dalam berbagai kegiatan rohani dan pelayanan bagi kemanusiaan, baik pelayanan material maupun spiritual. Ngiringan dan nyungsung dalam arti yang sesungguhnya adalah sebuah proses rohani untuk memperoleh kebijaksanaan dan pencerahan rohani dan untuk mencapai tujuan yang utama yaitu Paramatma, Tuhan Yang Maha Esa. Mereka yang ngiringin dan nyungsung dalam arti yang sesungguhnya adalah mereka yang hati dan pikirannya senantiasa tertaut kepada Tuhan atau dewa - dewi pujaanya. Mereka yang ngiringan dan nyungsung dalam arti yang sebenar - benarnya adalah abdi atau bakta sejati dari Tuhan, dan mereka akan senantiasa dalam perlindungan Tuhan. Tidak ada satupun kekuatan jahat yang akan mampu menyakiti seorang abdi atau bakta Tuhan, karena meraka sangat - sangat disayangi.

Om Santih Santih Santih Om

Thursday, July 2, 2015

Pikiran & Jiwa

Om Swastyastu

Pikiran kita layaknya asupan makanan yang kita berikan kepada tubuh kita. Jika kita memberi makanan yang kadar kolestrolnya tinggi dan kurang nutrisi, tubuh kita akan mudah terserang penyakit. Begitupun sebaliknya, jika asupan makanan kita benar, kaya akan nutrisi, tubuhpun akan terasa prima.

Jika kita kerap mendengar dan memasukkan hal negatif dalam
pikiran kita, tubuh dan tindakan kita akan bereaksi negatif pula. Apabila kita berpikir kita tidak bisa berhasil~kita akan lemah. Jika kita mendengar orang lain mengatakan bahwa kita masih terlalu muda untuk berhasil, dan pikiran kita menerimanya secara total~maka kita akan menjadi kurang kreatif.

Berhati-hatilah meresponsnya. Jangan menarik elemen negatif masuk ke pikiran kita, beri asupan yang positif. Maka pikiran kita akan memberi perintah kepada anggota tubuh kita untuk lebih semangat dan hidup ini akan terasa bermakna.

Apapun yang menjadi Akumulasi pikiran akan mempengaruhi sistem hidup kita.

Jiwa ibarat lampu tudung yang menyala-yang diselubungi oleh tudung kaca....akumulasi mangsi pada tudung akan meredupkan kualitas cahaya lampu tersebut...padahal nyalanya tidak berubah. Semakin bersih akumulasi tudung lampu itu maka semakin terang pendar cahaya lampu itu. Demikian juga jiwa dengan pikiran. Semakin jernih pikiran maka kemurnian jiwa akan terpancar dalam kehidupan kita....ini yang dibilang oleh orang tua sebagai Taksu. Dan sebaliknya samakin semrawut sisten pikiran kita maka akan membuat kemurnian jiwa terhalang....

Semoga bermanfaat.
Om Santih Santih Santih Om

♡ Jro Mangku Danu
__________
Silahkan baca juga tulisan tiang tentang pikiran:

1. https://dharmavada.wordpress.com/2013/02/05/nutrisi-pikiran/

2. https://dharmavada.wordpress.com/2013/08/14/asupan-makanan-bagi-lapisan-tubuh/

Friday, October 25, 2013

Menjadi Pengabdi

Salam Kasih
Pengabdian sangat sulit untuk diwujudkan, tidak mudah untuk menjadi pemuja sejati. Sebuah pemuja sejati sepenuhnya harus berserah diri, dan berada dalam kepuasan sejati, walau apapun yang mungkin terjadi.

Sesungguhnya untuk menjadi seorang pengabdi jauh lebih sulit daripada Jalan Kebijaksanaan (Jnana marga).

Namun demikian kita tidak boleh putus asa untuk mengabdi. Seperti aliran sungai; ia harus mengalir kembali ke sumbernya, pengabdian harus mengalir dan terus, ke bawah dan lebih dalam sampai menyatu di laut.

Jangan putus asa, tetapkan keyakinan dan harapan Anda, Anda pasti  bisa memenangkannya dalam beberapa hari mendatang.

Setelah mengambil semua upaya dan dengan menerima nasihat yang baik dalam spiritualitas , Anda harus memasukkannya ke dalam praktik setidaknya satu hal sebagai pengabdian. Seperti sebatang korek cukup untuk menyalakan api, demikian juga saat Anda memiliki iman dan mantap dalam melakoninya demi sebuah  tujuan  utama. Kita pasti bisa hadir menjadi seorang pengabdi sejati di hadapanNya.

♡ Rahayu _/|\_ I W Sudarma
Bali-25102013

Friday, September 27, 2013

SENSASI

Salam kasih
Setiap kegiatan (baca: berkarma), secara otomatis akan menghasilkan suatu reaksi (baca: phala/pahala). Pun demikian dengan berbagai kegiatan rohani, semisal japa, meditasi, sembahyang.

Kaitannya dengan olah rohani, juga secara otomatis...semua lapisan-lapisan badan akan diajak mengalami berbagai "sensasi-sensasi" baik sensasi yang phisikal, psikis, emosi, mental, sensasi spiritual.

Badan menjadi hangat, dingin, merinding, seperti mendengar sesuatu, seperti melihat sesuatu....ini semua adalah sensasi-sensasi dari apa-apa yang kita lakukan...

Rahayu _/|\_ I W Sudarma (Jro Mangku Danu)
Jakarta-27092013

Tuesday, September 10, 2013

TEMPAT

TEMPAT

Salam Kasih
Pada sebuah diskusi di Group Light Of Life via Whatsapp, hadir pertanyaan demikian:
"Ada dikatakan bahwa ruangan untuk meditasi dan doa harus ada tersendiri semacam ruangan khusus, namun bagaimana bila bunda kost, hanya memiliki 1 ruangan ya kamar ya untuk makan ya untuk segalanya? Apakah akan mengurangi manfaat dan peruntukan meditasi itu sendiri?"

Saudara-saudari semuanya...
Tanah, air, api, udara, ruang, waktu adalah unsur-unsur yang berasal dari Tuhan. Dan semua unsur itu merupakan alat yang baik untuk membersihkan benda dan mahluk termasuk juga diri kita.

Idealnya ya memang mesti ada tempat khusus...tapi kalau rumah type burung dara model anak kost-kostan, nyaris semua kegiatan dilakukan di suatu ruangan...maka ruangan itu sudah refresentatif bagi kita untuk berhubungan dengan Tuhan dan menyelami diri sendiri melalui meditasi dan  atau doa. Saat untuk  istirahat ya pakai untuk istirahat...saat untuk menelisik diri ya untuk menelisik diri. Ruang dan Waktu itu netral....ia bereaksi sesuai dengan aksi yang terjadi. Justru maanfaat hidup akan berkurang jika kita mencari-cari alasan untuk tidak menelisik diri gara-gara belum punya ruang khusus untuk ini dan itu.
Teringat dengan pesan Ki Nanang Nunung..."Jika kita siap-saat itu pula Tuhan hadir....tak peduli waktu, tempat, atau keadaan apapun."

Sejalan dengan pemahaman tersebut saya sitirkan sebuah pesan dari Shri Krshna melalui Bhagavadgita: "Kau adalah tempat kediaman tertinggi dan pembersih tertinggi semua mahluk."

Saudara-saudari semua ingat bahwa: bahan asli adalah Tuhan. Merupakan hak istimewa terberkati dari manusia untuk menghubungkan dirinya dengan yang Ilahi kapan saja. Sementara unsur-unsur tersebut membersihkan tubuhnya, keilahian membuatnya bersifat ilahi lewat hubunganNya. Tidak ada tempat yang lebih mulia daripada yang ilahi. Karena itu ia merupakan tempat dan sekaligus pembersih tertinggi. Manusia harus mengetahui dan mengambil manfaat dariNya.

Makanya tidaklah salah Rsi Patanjali (penemu Yoga Sutra) berkata: "Jadikalanlah setiap saat-setiap tempat sebagai kondisi meditatif."

Renungan: Walau tempatnya bagus...tapi hatinya butek dan pikirannya nggak karuan...yang baguspun akan tampak semerawut.

Rahayu _/|\_ I W Sudarma
Disarikan dari diskusi LOL, 10092013
#photo saat meditasi di Sisa Telaga Bale Kambang-Dieng yang tidak terurus, kotor dan bau

Friday, September 6, 2013

Apalah Artinya Jika......??

Salam Kasih

Ku tak pernah memberikan air kepada orang dahaga,
Apalah artinya aku menjanjikan air Amerta?
Ku tak pernah menolong orang yang jatuh,
Lalu apa artinya air mata iba ini?

...Kupergi ke pura, bersembahyang dan berdoa,
Saat sedang sembahyang muncul kesadaran,
Kalau aku tak pernah melayani Ibuku,
Apa gunanya persembahyangan ini?

Kuberdiskusi agama dan mendengar tutur Guru,
Saat berdiskusi ini ku tersadar,
Aku terlahir menjadi manusia tapi tidak punya rasa welas asih,
Apalah gunanya kelahiran ini?

Aku berdana, melakukan japa dan brata,
Saat berdana aku tersadar tak pernah memberi makan kepada orang kelaparan,
Apalah artinya berdana besar besaran ini?

Mandi disungai Gangga, bertirtha yatra ketempat tempat paling suci,
Saat sedang mandi disungai Gangga ku tersadar,
Badan ini aku mandikan tapi hati dan pikiran tidak kubersihkan,
Apalah artinya mandi suci disungai Gangga?

Kubaca selalu Veda dan literatur-literatur suci
Aaat membaca ku tersadar, aku tak pernah berbagi ilmu
Lalu apa gunanya aku disebut Ilmuwan dengan sederet titel?

Jika tidak pernah melayani orang tua
apa gunanya bertirtha yatra?

Semoga Renungan inu  bermanfaat bagi kita semuanya

Rahayu _/|\_ I W Sudarma (Jro Mangku Danu)

Monday, September 2, 2013

Draw God Nearer And Dearer

Dear all
God will not be attracted by learning, wealth or material possessions. God is drawn only by devotion. Take to Him, any troubles we have – He will accept all of them and fill us with joy. God loves every devotee. He accepts us for who we are. He is aware of all the difficult situations, trials and tribulations we go through and our devotion to Him, which gives us so much happiness.

However, this devotion alone is not enough. What is needed is the regulation of that Divine Love, in the form of virtue and service. "DO NOT CRITICISE OTHERS, RATHER CRITICIZE OURSELF" Have the Name of the Lord on our tongue and the Form of the Lord before our eye.

If we shape ourself this way, the place where we live will be the holiest of all. Let all our activities be directed only towards this purification in our hearts. God will bless each and every one of us with success, in this noble effort!

Namaste _/|\_ I W Sudarma

Sunday, September 1, 2013

Pranava

Om Swastyastu

Pranava adalah yang memberikan daya hidup terhadap sebuah suku kata, kata, rangkaian kata-kata, kalimat; dalam hal ini Pranava tak lain adalah OM. Om adalah nama atau simbol dari Tuhan, Iswara atau Brahman. Om merupakan Nama kita yang sesungguhnya, OM meliputi atau menyelimuti keseluruhan dari ketiga tahapan pengalaman manusia. OM berarti segala penampakan dunia ini. Dari Pranava Om alam semesta indriyani diproyekasikan-dunia ini ada dalam OM dan diserap dalam OM.

'A' dimaksudkan denan dasar phisik. 'U' dimaksudkan dengan dasar mental atau astral, yang merupakan dunia dari jiwa yang cerdas atau segala sorga. 'M', dimaksudkan dengan seluruh keadaan tidur nyenyak tanpa mimpi, yaitu segala yang mengatasi pencapaian kesadaran.

Intinya Om adalah suara Mula dari semua Suara, Om adalah Ibu dari semua Aksara.

Om Santih Santih Santih Om

By: I W Sudarma

Tuesday, June 25, 2013

Kinerja Sebuah Mantra

Oleh: I W Sudarma, S.Ag, M.Si

Om Swastyastu


Sebuah mantra akan dapat memberikan manfaat maksimal (śākti, śiddhi, suci) baik kepada yang mengucapkannya maupun orang lain dan lingkungan dalam bentuk vibrasi dipengaruhi oleh beberapa hal prinsip, yaitu:

1). Śraddhā; keyakinan yang mendalam terhadap sebuah mantra yang dipakai media untuk merealisasikan tujuan tersebut. Tanpa keyakinan, sama halnya ketika sakit lalu pergi ke dokter dan minta diobati tetapi kita tidak yakin terhadap resep dan anjuran dokter tersebut, tentu kita tidak akan sembuh.

2). Bhakti; perasaan hormat, rindu, cinta kasih, yang mendalam terhadap mantra tersebut, memperlakukan mantra itu seperti kita merawat diri sendiri, Dia adalah istri yang sesungguhnya yang dengan setia menyertai langkah kita. Tanpa bhakti mantra apapun akan menjadi bumerang buat kita. Kasih dan hormat pada mantra dengan keyakinan pada hasil yang dijanjikannya jauh lebih penting daripada sekedar pengulang-ulangan secara mekanis dengan pikiran ngelantur kemana-mana.

3). Sadhāna, cepat atau lambatnya sebuah mantra memberikan manfaat kepada kita adalah karena Sadhāna (disiplin spiritual), Bagaimana mungkin mantra akan menjadi Śiddhi apalagi Śākti kalau hanya diucapkan seminggu sekali atau bahkan sebulan sekali, sementara kita setiap saat berhubungan dengan dunia maya yang senantiasa mengkontaminasi badan, emosi, dan jiwa kita. Lukakanlah  Sadhāna dengan konsisten  dan berkesinambungan. Tidak perlu tahu banyak mantra tetapi kita tidak paham terhadap arti, makna yang tersirat didalamnya, cukup satu mantra tetapi kita paham dan memiliki Sadhāna . saat ini, banyak orang tahu banyak jenis mantra tersebut, hal seperti itu tak ubahnya seperti tong kosong yang bunyinya nyaring tapi tidak memiliki kekuatan.

4). Chānda; teknik pengucapan mantra sangat penting keberadaannya, karena jika sebuah mantra salah memberikan penekanan dan pemenggalan sesuai dengan Chānda atau guru laghu dan guru bhasanya, tentunya akan memiliki arti dan maksud yang berbeda. Mengenai irama itu sesuai dengan bakat suara masing-masing sadhaka.

5). Kriya; kegiatan berupa pemujaan, baik luar maupun dalam dengan pengetahuan tentang arti esoterik dan eksoteriknya, ataupun pemujaan dalam semacam pengorbanan ke-akuan atau pembakaran segala keinginan.

Om Santih Santih Santih Om
* Disunting dari Skripsi: Makna Filosofis Omkara dan Dasaksara Dalam Upacara Dan Aktivitas Spiritual, 1998, Denpasar.

Monday, June 24, 2013

Memperhatikan DIRI Sendiri

Salam Kasih

Saudara-saudari semua...., diri kita ini terdiri dari badan kasar yang dapat kita lihat dengan mata biasa, yang terdiri atau terbentuk dari lima elemen yang dinamakan Panca Maha Bhuta, yaitu tanah, air, angin, api dan akasha atau angkasa Didalam bungkusan badan kasar ini kita memiliki lagi badan halus yang bentukannya dari pikiran, perasaan dan keakuan palsu. Terakhir adalah badan yang terhalus yaitu sang diri sejati kita yaitu kita sendiri yang asli, sebagai sang roh atau dinamakan Atma, yang merupakan percikan lebih kecil dari atom dari Parama Atma, Tuhan Yang Maha Esa.

Biasanya kita jarang memperhatikan keseharian kita....siapakah diri kita sebenarnya? Siapakah yang bertindak saat ini....diri kita yang manakah diantara ketiga yang disebutkan di atas, apakah yang bertindak hanya sang apah atau air, sang perthiwi atau tanah....atau sang pikiran atau manah, apakah sang ahamkara atau dia yang mengaku-ngaku sebagai AHAM...yang untuk menyembunyikan dirinya ia tinggal mengisi KARA setelah AHAM...sehingga menjadi ia yang nampak sebagai AHAM (aku sejati)..., ataukah yang bertindak dalam keseharian kita adalah sang diri sejati itu sendiri?

Sekali lagi kita jarang menyadari dalam keseharian kita siapakah yang sedang
bertindak...?

Sebagaimana kita tidak suka memakai pakaian yang kotor dan lusuh kalau kita bepergian keluar rumah, begitu pula halnya dengan orang-orang yang menginginkan agar kemajuan spiritualnya berjalan baik dan indah, maka ia tidak akan senang memelihara badan yang kotor dan juga tidak akan membiarkan dirinya dihiasi oleh kekotoran dari kerlap-kerlip pikiran yang tidak jelas, tidak terarah dan kotor. Dalam hal ini, seorang pe-Meditasi  memang harus membersihkan dirinya dari kecemaran oleh kotoran-kotoran badan kasar dan juga pikirannya. Tentu saja usaha membersihkan pikiran dari kotoran-kotorannya tidaklah mudah, ia membutuhkan kesungguhan tekad dari yang bersangkutan dan ketekunan yang baik serta pemahaman yang bijak. Dalam hal ini, ketika orang tidak memelihara kebersihan badani dan pikiran dengan baik, mereka akan "dipaksa" oleh pikirannya untuk berbalik arah menjauh dari tujuan sejatinya. Sang diri yang ahamkara (sang diri yang tampak seperti sang diri sejati) akan membimbingnya didalam kenikmatan serta pemikiran yang nikmat dan senang untuk memilih jalan menjauh dari hidup sejatinya. Pilihannya akan masuk akal sama sekali dan ia benar-benar ingin menutup dirinya untuk tidak memilih jalan indah spiritual yang sedang ia jalani, hanya karena berbagai alasan sangat menyenangkan dan sangat masuk akal.

Barangkali pilihan berbalik arah dari tujuan sejati kearah tujuan sampingan menjadi begitu semrawut tetapi sekaligus "menyenangkan", maka ia akan memilih pengkambinghitaman pada orang lain. Bahwa orang lainlah yang menyebabkan dia memilih jalan sampingan yang ia terima sebagai jalan lebih baik dan lebih mulus dari jalan utama yang sedang ia jalani tersebut. Walaupun ia kehilangan berbagai kebahagiaan tetapi ia akan memaksakan kenikmatan indrianya sebagai kenikmatan yang lebih daripada kebahagiaan spiritual tersebut. Walaupun dewa tertinggi yang datang kepadanya untuk mengajak ia kembali ke jalan indah spiritual tetapi ia akan menolaknya dengan tegas dengan berbagai alasan yang seolah-olah dirinya dikelilingi oleh berbagai jenis kebahagiaan dan kesempurnaan hidup. Bahwa pada akhirnya ia telah bersembunyi didalam kebesaran dirinya yang sangat kecil. Bahwa ia bersembunyi didalam kebahagiaan yang ia ciptakan melalui kerikil-kerikil penghalang kenikmatan duniawi yang terungkap dalam bentuk kenikmatan, kebahagiaan, kebijaksanaan, kecerdasan lebih, kehebatan, kesaktian atau apa pun yang bisa menjauhkan dirinya dari pilihan jalan utama spiritual. Ia akan sangat senang menentukan pilihan menyimpang dari jalan utama...dan tanpa ia sadari bahwa dirinya telah dikendalikan dengan kuat oleh sang ahamkara atau keakuan palsu.

Demikian cara kerja keakuan palsu. Ia akan membuat orang menjadi gigih didalam kekalahannya. 

Monday, June 17, 2013

Menjumpai Tuhan

Om Swastyastu
Untuk memenuhi kerinduan pemujaNya, Tuhan akan muncul dalam Wujud apapun, di setiap tempat. Tetapi untuk melihat Tuhan, kita harus berdoa kepadaNya dengan satu konsentrasi, dimana hal ini hanya akan muncul dari Sattwa Guna (sifat yang murni), melalui meditasi. Oleh karena itu, kita harus memupuk sifat yang baik, dan untuk mengembangkan ini, kita seharusnya melakukan Satsangga (pergaulan dengan orang-orang yang baik).

Carilah pergaulan yang mulia, hindari pergaulan yang buruk. Sahabat sejati kita adalah mereka yang membicarakan dan membahas wacana-wacana Tuhan, mengatakan kebenaran, melakukan Seva (pelayanan) pada orang lain, dan mereka yang penuh cinta-kasih serta mereka yang menganggap semua mahluk adalah sama di hadapan Tuhan.

Om Santih Santih Santih Om

Oleh: Jro Mangku Danu

Monday, April 29, 2013

Jalan Menuju Kuil Tuhan (Brahma Pura)

Salam Kasih

Kebajikan, konsentrasi, dan kebijaksanaan: ini adalah tiga hal yang disebut Oleh Yoga sebagai sebuah JALAN menuju damai. Sang Jalan bukanlah agama, dan ia bukanlah tujuan yang sesungguhnya diinginkan oleh Ajaran Yoga, melainkan merupakan jalan bagi kita untuk sampai ke sana.


Hal ini sama seperti ketika kita datang dari rumah menuju sebuah Kuil Pemujaan. Kita tidak menginginkan jalan yang menuju ke sana. Sesungguhnya yang kita inginkan adalah mencapai tempat kuil itu. Tetapi jalan tersebut diperlukan oleh diri kita untuk bisa sampai ke sana. Jalan menuju ke sana bukanlah tempat itu sendiri. Ia hanyalah jalan menuju Kuil . Kita harus mengikuti jalan tersebut untuk bisa sampai ke Kuil.

Kebajikan, konsentrasi, dan kebijaksanaan adalah jalan menuju kedamaian, dimana kedamaian adalah hal yang sesungguhnya kita inginkan. Inilah Kuil Tuhan.

Rahayu _/|\_ Jro Mangku Danu (I W Sudarma)
Karangasem-28042013

Wednesday, April 24, 2013

Dharma

Salam Kasih
"Jangan berpikir bahwa Dharma itu sesuatu yang jauh Dari dirimu. Sesungguhnya Dharma tepat berada bersama dirimu. Dharma adalah tentang dirimu. Coba Amati. Satu menit engkau merasa bahagia, menit berikutnya merasa sedih, lalu puas, kemudian marah pada orang lain, benci orang itu: Ini semua adalah Dharma..."

#Wahana Kesadaran#

Wednesday, December 19, 2012

Tuhan Memang Luar Biasa

Oleh: I W. Sudarma

Salam Kasih

Semua ilmu datangnya dari TUHAN, begitu juga Matematika:

... Jika 101% dilihat dari sudut pandangan Matematika, apakah ia sama dengan 100%, atau ia LEBIH dari 100%?

Kita selalu mendengar orang berkata dia bisa memberi lebih dari 100%, atau kita selalu dalam situasi dimana seseorang ingin kita memberi 100% sepenuhnya.

Bagaimana bila ingin mencapai 101%?
Apakah nilai 100% dalam hidup?
Mungkin sedikit formula matematika dibawah ini dapat membantu memberi
jawabannya.

Jika ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ

Disamakan sebagai 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26

Maka, kata KERJA KERAS bernilai :
11 + 5 + 18 + 10 + 1 + 11 + 5 + 18 + 19 + 1 = 99%

H-A-R-D-W-O-R-K
8 + 1 + 18 + 4 + 23 + !5 + 18 + 11 = 99%

K-N-O-W-L-E-D-G -E
11 + 14 + 15 + 23 + 12 + 5 + 4 + 7 + 5 = 96%

SKILL
19 + 11 + 9+ 12 + 12 = 63

ACTION
1 + 3+ 20+ 9+ 15+ 14 = 62

A-T-T-I-T-U-D-E
1 + 20 + 20 + 9 + 20 + 21 + 4 + 5 = 100%

Sikap diri atau ATTITUDE adalah perkara utama untuk mencapai 100% dalam hidup kita. Jika kita kerja keras sekalipun tapi tidak ada ATTITUDE yang positif didalam diri, kita masih belum mencapai 100%.

Tapi, LOVE OF GOD
12 + 15 + 22 + 5 + 15 + 6 + 7 + 15 + 4 = 101%

Silahkan di Share Kalo menurut Sahabat Menarik ^_^

Salam Rahayu
Taken from Book: Vedic Mathemati

Monday, March 12, 2012

BELAJAR MENARI BERSAMA BRAHMAN

Oleh: I W. Sudarma

Salam Kasih

Tarian adalah gerakan, dan tarian yang paling indah adalah tarian yang paling disiplin. Disiplin spiritual Hindu mengarah pada kemanunggalan dengan Brahman melalui refleksi diri, penyerahan diri, transformasi personal dan banyak yoga.

Untuk kemajuan di jalan dharma ini, kita mempelajari Veda, susastra-susastra dan ajaran-ajaran guru kita dan melakukan segala upaya untuk menerapkan kebenaran filosofisnya pada pengalaman hidup sehari-hari. Kita berusaha untuk memahami alam pikiran dalam empat lapisnya, yaitu: chitta (kesadaran pikiran), manah (naluri pikiran), buddhi (kecerdasan pikiran atau yang berkenaan dengan akal budi pikiran), dan ahamkara (ego pikiran atau keakuan).


Kita melakukan japa, meditasi dan yoga setiap hari. Disiplin spiritual seperti itu dikenal sebagai sadhana. Ini adalah adalah latihan mistikal, mental, fisik dan renungan yang memungkinkan kita untuk menari bersama Brahman dengan membawa kemajuan di sisi dalam, perubahan persepsi dan perbaikan karakter.

Sadhana memungkinkan kita untuk hidup dengan sifat jiwa yang halus dan berbudaya, lebih baik daripada sisi luar, bidang naluriah atau intelektual. Untuk kemajuan yang konsisten, sadhana harus dilakukan secara teratur, tanpa henti, pada waktu yang sama setiap hari, sebaiknya pada dini hari sebelum subuh (brahmamuhurta). Sadhana-sadhana yang utama adalah tantangan dan latihan yang diberikan oleh seorang guru spiritual.

Veda mengingatkan, "Realisasi Diri tidak bisa dicapai dengan kelemahan, kecerobohan, juga disiplin tanpa arah. Tetapi, jika orang sudah memiliki pemahaman yang benar kemudian berusaha dengan cara-cara yang benar, jiwanya memasuki kediaman Brahman."

Rahayu _/I\_ 
*Sumber inspirasi : Satguru Sivaya Subramuniyaswami (1927-2001), dalam bukunya: Dancing With Siva

Saturday, February 4, 2012

Types Of Happiness

Oleh: I W. Sudarma

Salam Kasih
Dear all

There are three types of happiness. These correspond to the three forces which bind the body to the soul: peace, assertion, and passivity.

First there is the happiness that comes from always doing what is right. This leads to the end of all sorrow. It may at first seem like bitter poison; but eventually it turns out to be the wine of eternal sweetness. This type of happiness is pure, and it arises from peace.

Secondly there is the happiness which comes from the pleasure of the senses. At first this seems like sweet wine; but eventually it turns out to be bitter poison. This type of happiness arises from assertion.

Thirdly there is the happiness that comes from the pleasures of sleep, indolence and intoxication. From beginning to end this happiness is delusion. It arises from passivity

Inner peace _/I\_
Singaraja, 21012012

SEMUANYA ADALAH TUHAN

Oleh: I W. Sudarma

Salam Kasih

Dalam doa sering kita berucap..... Tuhan ijinkan Aku agar dapat melayaniMU..
.walau hanya sekali saja..! disaat yang samaTuhan hadir sebagai fakir miskin, yang kurus, dan dekil misalnya....
dan meminta untuk dilayani....

Tapi karena kita telah memformat bahwaTuhan
adalah sebuah Pribadi yang Agung, Bersih,Berwibawa, Suci,dan sebagainya. Maka
kita tidak dapat melihat bahkan merasakan bahwa Tuhan telah mewujud
sebagai rupa yang lain.

Kiranya carapandang kita tentang Tuhanlah yang
harus diluruskan.

Sahabat...mari kita temukan dan temui Tuhan Dimana saja Kita berada, karena semua Nama, Rupa, dan Warna adalah perwujudanNya

Salam Rahayu
Bali, 16 Desember 2011

Normal & Superior Consciousness

By: I W. Sudarma

Salam Kasih

There are two kinds of consciousness.
FIRST there is normal consciousness. This is where there is a distinction between the subject and the object; the subject is the one who is conscious, the object is the focus of consciousness. Thus normal consciousness is concerned with investigating objects, discriminating between one object and another, and enjoying objects. Normal consciousness is also capable of making itself the object of consciousness.

SECONDLY there is superior consciousness. Consciousness passes through various stages, gradually freeing itself from the objects of consciousness. Finally consciousness alone remains; this is superior consciousness-which is perfect knowledge.

Inner Peace _/I\_ 
Inspirated from The Patanjali Yoga Sutra 1. 17-18
Singaraja, 23012012