Showing posts with label Lentera Hidup. Show all posts
Showing posts with label Lentera Hidup. Show all posts

Wednesday, June 26, 2019

VEDA Mengajarkan Kesederajatan Antara Semua Mahluk Hidup dan Cinta Kasih Sesama

Om Swastyastu




Oleh: I Wayan Sudarma





Dalam upanisad Brahman, Tuhan, ada di dalam seluruh ciptaannya. Dengan  demikian setiap ciptaan, khususnya semua mahluk  hidup terutama manusia mengandung kesucian Tuhan (Brahman) di dalam diri setiap mahluk  hidup, yang sering kita sebut dengan atman (percikan terkecil  dari parama Atman/ Brahman  itu sendiri). Sehingga Veda mengajarkan setiap umatnya untuk saling mengasihi khususnya setiap mahluk  hidup baik itu hewan, tumbuhan dan alam sekitar. Filosopi veda berputar di sekitar persaudaraan dan dan kesederajatan. Tidak ada istilah dalam Veda mengenai konsep penggolongan  manusia menjadi manusia yang beriman dengan manusia kar,  agama langit dan bumi, system jithad, perang suci, ada tuan ada budak  dan lain sebagainya yang menggolongkan manusia untuk membedakan antara yang satu dengan yang lainnya. Ajaran dalam Veda tidak menggolongkan manusia atau agama seperti itu, seperti halnya apakah sinar Matahari hanya  menyinari orang  orang  atau golongan tertentu yang layak untuk disinari, akan tetapi sinar matahari tidak memandang siapa yang akan  disinari olehnya bahkan ia tidak memalingkan sinarnya dari kotoran sekalipun. Serta  alam ini memperlakukan semuannya sama, apakah dia coklat  atau hijau ataupun hitam, tinggi atau rendah, Tuhan (Sang Hyang Widhi) telah  menetapkan cara  yang sama bagi kelahiran dan kematian semua manusia di atas bumi ini. Semua jiwa adalah sederajat seperti bunyi seloka dalam Bhagawad Gita dan Rgveda  berikut;



“Samo ham sarvo bhutesu na me devasyo stina pryah

Ye bhajanti tu man  bhaktya mayite  tesu ca pyaham” (Bhagawad Gita IX.29).



Artinya: Aku adalah sama bagi semua mahluk, bagi-Ku tidak ada yang terbenci dan terkasihi, namun bagi yang berbhakti dengan penuh dedikasi, mereka ada pada-Ku dan Aku ada pada mereka.



Hendaknya hati kita dalam kesederajatan dan persatuan. (Rgveda 10.191.4).



Dari sloka di atas, yang dikutip melalui pustaka suci/ kitab Bhagawad Gita dan Rgveda  adalah gambaran sempurna dari sifat dan prinsip Tuhan (Brahman) Hindu. Tuhan ini, Tuhan  yang bukanlah Tuhan yang hanya  duduk di singgasana di sebuah lapisan langit dengan cambuk api di satu tangan dan hadiah di tangan yang lainnya, dimana ia akan  siap mengayunkan cambuknya pada siapa yang tidak percaya kepadanya atau sebaliknya menghambur hadiah penuh kenikmatan kepada mereka yang memujanya.



Hindu terbebas dari doktrin seperti ini yang dapat mengakibatkan timbulnya suatu kebencian di antara manusia dan bertindak “mengatas namakan Tuhan atau agama”. Konsep Veda juga banyak mengajarkan mengenai persaudaraan antara umat manusia, menurut filosofi Veda, seluruh manusia di atas bumi adalah bersaudara satu sama lain. Sang Hyang Widhi adalah ibaratkan ayah yang baik hati bagi semua. Di mata Ida Sang Hyang Widhi Wasa tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah. Dia memperlakukan semua sama menganugrahkan kebahagiaan suci dan rasa syukur kepada semua, tidak peduli suku bangsa, warna  kulit dan keyakinan, sebab veda mengajarkan banyak  jalan untuk menuju jalan-Nya itu seperti yang tertuang dalam Bhagawad Gita dijelaskan;



“ye yatha  mam prapadyante tamstathaiva bhajamy aham,

Mama  vartmanuvartante manusyah partha sarvasyah” (Bhagawad Gita IV.11)



Artinya: Jalan apapun orang  memuja-Ku, pada jalan yang sama

Aku memenuhi keinginannya, Wahai  partha, karena semua jalan yang ditempuh mereka semua adalah jalan-Ku.



Maka ajaran Hindu tidak menekankan umatnya untuk “harus” ada satu jalan yang benar tetapi umat Hindu bebas memilih jalannya msing masing sesuai dengan kemampuan dan keyakinannya, “jalan” dalam artian disini kaitannya dengan Catur Marga Yoga yang meliputi, Jnana Marga Yoga, Bhakti Marga Yoga,Karma Marya Yoga dan Raja Marga Yogadengan latihan atau disiplin  astangga yoga.  Sehingga dari pada itu mengenai persaudaraan, ajaran Veda didasarkan atas persaudaraan yang universal. Seluruh  manusia memi‐ liki hak yang sama di atas bumi, semunya milik alam semesta dan alam semesta milik semuanya. Bila alam baik ke pada semua, mangapa manusia membenci satu sama lainnya atas dalih perbedaan agama?



Karenyanya Veda secara empatik mendorong seluruh manusia di atas bumi untuk mencintai satu sama lainnya dari lubuk hatinya seperti yang dinyatakan dalam kitab Atharvaveda sebagai berikut ;



“cintai satu sama lain seperti  sapi mencintai anaknya yang baru lahir” (Atharvaveda 3.30.1)



Konsep veda juga banyak  mengajarkan danmenekankan bahwa jiwa dari semua orang, burung, binatang buas dan serangga memiliki sinar suci yang sama. Tidak ada satupun yang kosong dari kemurnian hati, keagungan dan kemulian Sang Hyang Widhi. Seluruh  mahluk  berasal dari Sang Paramatman (mahluk  utama, supreme being) yang adalah ayah bagi semua anak aanak-Nya. Bila demikian halnya, mengapa semua manusia saling menghina satu sama lain? Ida Sang Hyang Widhi menyusupi segala mahluk hidup, apakah tinggi atau rendah, pendosa atau suci, dan juga  Hindu tidak membatasi Tuhan  hanya  ada di suatu tempat yang jauh dari jangkauan manusia atau yang duduk disinggasananya yang megah, dalam ajaran veda Tuhan  mengisi ruang  dan waktu dan menyusupi semua mahluk  hidup yang ada seperti dijeaskan dalam kitab Yajur Veda sebagai berikut;



Dia yang menyusupi segalanya meliputi seluruh mahluk di dalam maupun di luar” (Yajurveda 32.8)



Di dalam memahami filsafat emas yang di sebutkan di atas mengenai kemahahadiran Tuhan  dan menyadari kilatan cahaya sang Hyang Widhi dalam semua mahluk di atas bumi, tidak akan  membenci mahluk lain apapun. Dia yang matanya melihat pada semua orang  sebagai saudara yang sederajat yang memiliki percikan suci yang sama, yang dia rasakan dalam dirinya sendiri, bebas dari kebencian, kedengkian

dan fanatisme. Mantram Yajurveda berikut ini menjelaskan ide tersebut :



“Dia yang melihat seluruh mahluk dalam dirinya sendiri dan menemukan refleksi dari dirinya sendiri dalam semua mahluk tidak pernah memandang rendah siapapun” (Yajurveda 40.6)



Jadi sudah jelas bahwa Filosofi Hindu (Filosofi Veda) bergantung atas kesederajatan dan persaudaraan. Ia didasarkan atas persaudaraan universal-persaudaraan bukan  hanya  antara orang  orang  Hindu saja tetapi seluruh manusia di atas bumi, karena semua hati adalah singgasana dari Yang Mahakuasa.



“O Arjuna, Sang Hyang paramatma tinggal dalam hati semua mahluk  hidup” (Bhagavad Gita 18.6).



Sehingga banyak  para sarjana barat mengemukakan kekagumannya pada veda damn berikut kutipan  dari beberapa sarjana barat mengenai Veda;



1.        Max Mueller, indologis asal jerman mengungkapkan “konsep dunia sebagaimana di simpulkan dari veda dan utamanya dari upanisad sungguh sungguh menggumkan’.

2.        Prof. Heern, sarjana barat terkemuka, menulis “Veda berdiri sendiri dan kemegahannya tersendiri berlaku  sebagai mercusuar bagi gerak maju kemanusiaan”

3.        Lord Morly menyatakan tanpa ragu ”apa yang di temukan dalam veda, tidak ada di tempat lain manapun”

4.        Henry D Thoreau, filsup Amerika, mengungkap‐ kan “kapanpun saya membaca bagian manapun dari Veda, saya merasakan bahwa beberapa cahaya tak dikenal dan bukan  dari bumi ini menerangi saya. Di dalam ajaran agung dari veda, tidak ada sentuhan sektarianisme. Ia adalah untuk segala jaman, cuaca dan nasionalitas dan jalan agung untuk pencapaian pengetahuan besar. Ketika saya ada padanya, saya merasa bahwa saya ada di bawah kelap kelip surga surga di suatu malam musim panas”.

5.        Julius Robert Oppenheimer, ilmuan ( pencipta bom atom AS )dan Filsuf berpendapat bahwa “ akses kepada veda adalah hak istimewa terbesar dari abad ini yang dapat di klaim selama abad abad sebelumnya”.



Maka sudah jelas ditegaskan dalam veda, bahwa hendaknya mahluk  di atas bumi baik itu manusia, hewan dan tumbuhan atau alam sekitar untuk saling mengasihi antara sesama dengan tidak memandang kelebihan atau kekurangan dari mahluk  lainnya dan  juga veda menegaskan bahwa tentang ajran ahimsa yang sangat universal. Terangilah mata yang memancarkan pandangan kasih dan cinta pada yang lain. Veda mengajarkan bahwa semuanya bersahabat, tidak seorangpun musuh. Cinta melahirkan cinta, kebencian melahirkan racun. Bila engkau melihat kepada yang lain dengan mata yang bersahabat dan penuh cinta kasih, mereka akan  mengembalikan pandangan kasih kepadamu. Oleh karena itu adalah merupakan tugas kita yang utama untuk menciptakan atmosfir rasa cinta kasih, kesederajatan dan kekeluargaan antara semua mahluk  yang ada.  Untuk mencapai keseimbangan cinta kasih dapat diwujudkan melalui garis vertical dan horizontal. Terlebih lagi memsuki abad moderen dan global dibutuhkan pemikiran yang arif dan bijaksana. Disuatu sisi dituntut bersikap rasional, namun disisi lain masih diperlukan curahan emosi spiritual terutama hubungan manusia dengan Tuhan sebagai maha pencipta alam semesta beserta isinya. Jalan terbaik  adalah bagaimana cara mensinergikan emosi spiritual dengan sikap rasional. Dalam hal ini relefasi keseimbangan cintakasih dengan abad moderen lebih lebih difokuskan kepada peningkatan kualitas sumber daya manusia Yang memegang teguh  nilai nilai ke Tuhanan, kemanusiaan dan kealaman. Saling mencintai dan mengasihi satu sama lain dan siapa saja tanpa memandang perbedaan fisik akan  memberikan keseimbangan cinta kasih. Dalam Yajurveda 32.8 dinyatakan “Sa’atah Protasca Wibhuh Prajasu” yang artinya: Tuhan terjalin dalam mahluk  yang diciptakannya.



Semoga semua bahagia,

Semoga semua sehat,

Semoga semua senang,

Semoga tidak ada yang menderita dari kesengsaraan

dan kemalangan.



Om Santih Santih Santih Om

Sunday, August 27, 2017

Mantra Pancaka Tirtha

Om Swastyastu

Dalam Teks Lontar Sulayang Gni Lp. 11b (Druwe Lempuyang Luhur):

1. Om Iswara Purwantu desaya, sweta warna sweta rupam, sanjiwani tirthaya nityam, sarwa wighna winasanam, Om Sang Sadhyojata bhyo namah swaha

2. Om Daksina Bhagawan Brahma, rakta warna rakta rupam, pawitra tirthaya nityam, sarwa satru winasanam, Om Bang Bhamadewa bhyo namah swaha

3. Om Pascima Mahadewa arcanam, pita warna pita rupan, kundalini tirthaya nityam sarwa papa winasanam, Om Tang Tat Purusa  bhyo namah swaha

4. Om Uttarayana Wisnu dewanam, kresna warna kresna rupam, kamandalu tirthaya nityam, sarwa  mala winasanam, Om Ang Aghora bhyo namah swaha

5. Om Siwa Dewa Madhya desaya, wiswa warna wiswa rupam, Pamuput tirthaya nityam, sarwa papa pataka lara rogha winasanam, Sarwa karya sampurnam. Om Ing Isana bhyo namah swaha.


Dasar mantra ini pula yang kemudian digubah menjadi kidung warga sari turun  tirtha:

Tutrun tirtha saking luhur,
Tirtha panca dewatane,
Wisnu tirtha Kamandalu,
Hyang Iswara Sanjiwani,
Mahadewa Kundalini,
Hyang Brahma Tirtha Pawitra,
Hyang Siwa Pamuput,
Amertha kinardi

Demikian dapat saya jelaskan, semoga bermanfaat bagi umat sedharma

Suksma

❤️ Jero Mangku Danu

Saturday, August 20, 2016

LUNGSURAN vs PRASADAM

LUNGSURAN vs PRASADAM

Om Swastyastu

"Orang saleh yang memakan makanan yang sudah dipersembahkan terlebih dahulu sebagai persembahan suci, terbebas dari segala jenis dosa , Sedangkan mereka yang memasak makanan untuk kenikmatan diri sendiri sesungguhnya mereka hanya mereka hanya memakan dosa". (Bhagavadgita III.13)

Tiap kali sehabis melakukan persembahyangan, maka kita selalu disuguhkan sisa persembahan yang disebut dengan ”Lungsuran” dimana satu hal yang kita tahu itu adalah ”sisa persembahan”.

Sejak kita mengenal saudara-saudara kita umat Hindu dari India mulai dikenal istilah ”Prasadam” yang maknanya lebih diperjelas sebagai sesuatu yang sudah disucikan lewat persembahan kepada Hyang Widhi.

Dua istilah diatas (prasadam dan lungsuran) dimaksudkan mempunyai makna yang sama namun dalam praktiknya tidak sama.

LUNGSURAN; istilah yang dikenal lebih dulu pengertiannya sudah kesana kemari, sehingga pakain bekas, makanan bekas, dan lainnya yang bukan hasil persembahan kepada Hyang Widldhi bisa diberi arti sebagai lungsuran.

Istilah PRASADAM yang muncul kemudian seperti memurnikan kembali makna persembahan kepada Hyang Widhi ini menjadi lebih spesifik sehingga maknanya bisa dipahami lebih dalam, dengan demikian umat menjadi faham, bahwa dengan memakan prasadam, maka kita telah menikmati makanan yang sudah disucikan. Berbeda sekali dengan istilah lungsuran, yang oleh sebagian masyarakat telah diartikan keliru sejalan dengan kelirunya pengertian akan kesetaraan manusia.

Ada yang tidak mau memakan lungsuran dari persembahan di Pura keluarga orang lain walaupun itu teman baiknya karena teman itu dari keluarga yang berbeda (beda soroh). Sisa persembahan yang sudah disucikan ini menjadi dikalahkan oleh pemahaman keliru karena beda soroh tadi.

Prasadam semoga bisa menjernihkan kekeliruan ini, bahkan tidak terbatas pada makanan saja, bahkan apapun hasil persembahan adalah prasadam, seperti : sisa canang, bambu, daun kelapa, kelapa, dan lain sebagainya adalah prasadam.

Sisa persembahan yang selama ini bagi umat Hindu kurang berharga hanya berupa sampah, bisa diberi pengertian prasadam sehingga lebih bermakna.

Di Jawa seperti Solo karena kepercayaan mereka pada hal yang terkait dengan kraton, sampai-sampai kotoran kerbau milik kraton dipercaya sebagai rabuk dan bagi mereka ini adalah prasadam, juga umum terjadi rebutan ”Gunungan” yaitu nasi yang disusun berbentuk Gunung dengan sayur mayur menjadi rebutan masyarakat karena mereka percaya ini adalah prasadam.

Selanjutnya bagaimana dengan persembahan sisa ”Caru” apakah itu prasadam? Di Bali Caru ada yang mengartikan persembahan kepada Bhuta Kala sehingga jangankan prasadam, kembang saat sembahyang saja tidak boleh ditempatkan di telinga/kepala (suntingang), disisi lain ada yang mengartikan Caru yang berarti : harmonis, seimbang adalah permohonan kepada Hyang Widhi untuk keseimbangan alam sehingga sisa persembahyangan jelas adalah prasadam.

Juga contoh dimana sisa persembahyangan dari Pura keluarga (leluhur orang lain), sebagian masyarakat feodal mengatakan ini beda leluhur sehingga tidak mau makan sisa persembahyangan itu, artinya mereka menganggap ini bukan prasadam. Disisi lain para penganut sudut pandang tattwa mengartikan orang yang sudah meninggal karena: panca maha bhuta sudah lebur lewat Ngaben, dan badan astral (badan halus) sudah lebur dengan Memukur (Atma wedana) sehingga tinggal Atma yang merupakan bagian dari Paramatma dan dilinggihkan di kemulan sebagai Dewa Hyang, maka sesungguhnya sisa persembahan ini adalah prasadam juga.

Dengan penajaman makna dari lungsuran menjadi prasadam, sebenarnya ini sudah baik namun untuk di Bali hal itu belum cukup, perlu pengertian yang lebih tajam dan spesifik dan akan selalu ditafsirkan secara berbeda. 

Ada suatu renungan bagi kita, bahwa dengan mempersembahkan diri kita kepada Hyang Widhi dengan menjaga kesucian (Tri Kaya Parisudha), melakukan fungsi sesuai dengan ”Guna (bakat)” dan ”Karma (laku/perbuatan) sesuai dengan ajaran Catur Warna, juga melakukan tapa-brata-yoga-samadi (pengendalian diri), dan bentuk pensucian lainnya, sesungguhnya kita telah menyiapkan diri menjadi prasadam bagi orang lain.

Kehadiran kita akan dinantikan orang, bukan karena kita rajin memberi uang pada orang lain, atau bantuan pamrih lainnya, tetapi karena kehadiran kita memancarkan kedamaian bagi orang lain. Hal ini tidak mudah, tetapi harus diperjuangkan oleh kita semua sehingga seru sekalian alam memperoleh manfaat yang baik karena keberadaan kita. Di era perpolitikan di negeri kita sering kita dengar kumandang para calon legislatif sampai calon presiden yang mengatakan ”mereka bekerja untuk rakyat” bahkan dengan berbagai cara sampai kepada pemberian materiil dilakukan untuk menarik simpati rakyat, bahwa mereka melakukan semua ini untuk rakyat, padahal seharusnya yang perlu menjadi pegangan mereka adalah ”Mereka seharusnya melakukan segalanya untuk Tuhan/Hyang Widhi”. Orang yang mempersembahkan dirinya untuk Hyang Widhi sesungguhnya telah memberi kebaikan pada orang lain dan dalam sekala besar adalah kebaikan buat rakyat, kenapa ? karena orang seperti ini akan tumbuh empati pada sesama karena telah menyadari hakikat dirinya dan hakikat rakyat yang sama.

Para motivator modern dari Andri Wongso, Mario Teguh, Gede Prama, Erbe Sentanu, dan lain-lain menterjemahkan makna prasadam ini dalam komuniukasi modern, sehingga sering kita dengar kalimat: Kita adalah apa yang kita pikirkan, Succes is my right (sukses adalah hak saya), dan sebagainya dimana semuanya bertumpu kepada pikiran yang positif (positif thinking) yang juga berarti pikiran yang suci, kesucian baru bisa diperoleh jika kita masuk kepada kesadaran Tuhan dengan menjadikan diri kita sebagai ”persembahan” melalui penyerahan diri yang utuh kepada Hyang Widhi, inilah makna lain dari ”Prasadam”. 

Kembali ke topik tentang Prasadam. Bahwa perlu difahami bahwa  segala hal yang ada di semesta ini merupakan Yajna yang dilakukan oleh Hyang Widhi, yang kemudian kita kenal Beliau sebagai Sang Pencipta. Sebagai insan yang diciptakan melalui Yajna, kita kemudian diwajibkan melakukan Yajna, agar Cakra Dharma kehidupan ini berlangsung terus menerus. Segala hal tanpa kecuali yang kita nikmati wajib hukumnya kita haturkan kepada satu-satunya SANG PEMILIK yakni Hyang Widhi, dan setelahnya baru layak kita nikmati, agar kita tidak bertindak sebagai seorang pencuri.

Jika kita mendapati ada saudara kita yang mempersembahkan Daging, itu dikarenakan ia masih memakan dan menikmati daging. Namun ada juga saudara kita yang hidup vegetarian, entah karena anjuran gurunya, kesadarannya....maka ia tidak perlu mempersembahkan  daging, cukup menghaturkan apa-apa yang ia makan atau nikmati. Bahkan kalau ada yang sudah bisa hanya makan setangkai kembang, sehelai daun, sebiji buah dan seteguk air, maka sudah cukup baginya untuk mempersembahkan daun, bunga, buah dan air saja. Disinilah Keluasan dan keluwesan Hindu yang diajarkan melalui Veda.

Jadi mari kita fahami sastra Veda tidak secara farsial atau sepotong-sepotong.
Ingat.....tidak ada satu hal pun yang menjadi milik kita seutuhnya, selain balutan karma-karma kita.

Satu renungan sebelum saya akhiri tulisan singkat ini:

"Engkau persembahkan bunga~bunga ciptaanKu
Engkau persembahkan buah~buah ciptaanKu
Engkau persembahkan hewan~hewan ciptaanKu
Engkau persembahkan mantra~mantram ciptaanKu
Bahkan tatkala engkau mempersembahkan dirimu sekalipun~dirimu adalah ciptaanKu". (Vedanta)

Semoga pemahaman singkat ini, bisa memberi kita cahaya dan ruang yang lebih leluasa dalam memahami Hindu lebih jernih. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

I Wayan Sudarma (Jro Mangku Danu)
Bekasi, 11 Maret 1998

Tuesday, March 1, 2016

Penjor Galungan

Ring patunge sane ngenjor
Magantung uparengga
Kaiket trepti
Ngulati asti

Pala bungkah, pala gantung
Kober ONGKARA ring tung tung
Tamiang geganggangan jangkep
Karasmin kadharman atep

GELUNG Sang Aji Dharma
NGELUNGAN Adharma
Busana Baru LUWUNG
MELAKSANA LUWUNG

GALUNGAN Rahinan Jagat,
PENAMPAHAN, RAH Lawar  Momo angkarane Musna
JUKUT BALUNG  Basa Gedene Ngeraketang sane Mabinayan,
Busunge MERINGIT Ngalusang Budhi
Penjore Ring Lebuh Gumanti Amertane Mesambeh,
Gantung-Gantungan anggen Panimbang Wirasa,
Cenigane Nincapang Rasa Angen GUNUNG AGUNG linggih Ida Maha Suci
Witing Jagat Bali Santih
_______
♡ I Wayan Sudarma (Jro Mangku Danu)
06/02/2016

Thursday, September 3, 2015

TANPA ORANG LAIN~KITA BUKAN SIAPA-SIAPA

Om Swastyastu
Seorang ayah, yang memiliki putri yang berusia kurang lebih 5 tahun, memasukkan putrinya tersebut ke sekolah musik untuk belajar piano. Ia mengharapkan anaknya kelak menjadi seorang pianis yang terkenal. Selang beberapa waktu kemudian, di kota tersebut datang seorang pianis yang sangat terkenal. Karena ketenarannya, dalam waktu yang sangat singkat tiket konser telah terjual habis.

Sang ayah membeli 2 buah tiket pertunjukan, untuk dirinya dan anaknya. Pada hari pertunjukan, satu jam sebelum konser dimulai, kursi telah terisi penuh, sang ayah duduk dan putrinya tepat berada di sampingnya. Seperti layaknya seorang anak kecil, anak ini pun tidak bisa betah duduk diam terlalu lama, tanpa pengetahuan ayahnya, ia menyelinap pergi.

Ketika lampu gedung mulai diredupkan, sang ayah terkejut menyadari bahwa putrinya tidak ada di sampingnya. Ia lebih terkejut lagi ketika melihat anaknya berada dekat panggung pertunjukan dan sedang berjalan menghampiri piano yang akan dimainkan pianis tersebut.

Didorong oleh rasa ingin tahu, tanpa rasa takut anak tersebut duduk di depan piano dan mulai memainkan sebuah lagu, lagu yang sederhana, Twinkle-Twinkle Little Star. Operator lampu sorot, yang terkejut mendengar adanya suara piano mengira bahwa konser telah dimulai tanpa aba-aba lebih dahulu dan ia langsung menyorotkan lampunya ke arah panggung.

Seluruh penonton terkejut, melihat yang ada di panggung bukan seorang pianis, tetapi hanyalah seorang anak kecil. Sang pianis juga terkejut, bergegas naik ke atas panggung. Melihat anak tersebut sang pianis tidak menjadi marah, ia tersenyum dan berkata "Teruslah bermain" dan sang anak yang mendapat ijin, meneruskan permainannya.

Sang pianis lalu duduk disamping anak itu dan mulai bermain mengimbangi permainan anak itu. Ia mengisi semua kelemahan permainan anak itu dan akhirnya tercipta suatu komposisi permainan yang sangat indah. Bahkan mereka seakan menyatu dalam permainan piano tersebut. Ketika mereka berdua selesai, seluruh penonton menyambut dengan meriah, karangan bunga dilemparkan ke tengah panggung.

Sang anak menajdi agak GR, pikirnya: "Wahhh, baru belajar sebulan saja sudah hebat!". Ia lupa bahwa yang disoraki oleh penonton adalah sang pianis yang duduk disebelahnya, yang telah mengisi semua kekurangannya dan menjadikan permainannya sempurna. 


Semeton sinamian, apa implikasinya dalam hidup kita ???

Kadang kita terlena oleh prestasi besar tersebut, membuat kita menjadi cepat berpuas diri dan menganggap diri kita hebat.....Dan terutama kita sering lupa....bahwa semua itu terjadi karena kita. 


Padahal kita tak ubahnya seperti   anak kecil tadi, tanpa ada orang lain di samping kita, KITA BUKANLAH SIAPA-SIAPA. Tanpa orang lain dan atau mahluk lainnya~eksistensi kita sejatinya tidak ada. Tapi apabila ada orang lain disamping kita...sesederhana apapun yang kita lakukan, hal itu akan menjadi hebat dan baik, bukan saja buat diri kita sendiri tapi juga baik bagi orang di sekitar kita.

Semoga saja kita tidak pernah lupa bahwa ada orang lain di samping kita. Semoga kita juga tidak lupa untuk melangkah lebih dan lebih lagi dan tidak cepat berpuas diri oleh prestasi besar yang telah kita capai. Marilah kita bahu membahu satu sama lain untuk menjadikan segala sesuatunya lebih sempurna.

Simpulan

Tanpa mereka, kita tiada artinya. Baik seorang terkenal, prihal itu harus benar-benar disadari dengan baik. Tanpa adanya dukungan dan partisipasi orang disekitarnya, adakah semua yang berhasil dicapai hari ini dan bisa direalisasikan? Adalah suatu kesalahan yang sangat fatal, jika ada suatu pernyataan yang mengatakan bahwa TANPA DIRIKU, ITU TIDAK AKAN BERHASIL. Yang benar adalah KESUKSESAN YANG BERHASIL KURAIH, TIDAKLAH TERLEPAS DARI KONTRIBUSI DAN DUKUNGAN ANDA-ANDA SEMUA. 

Menyadari kebenaran ini, maka sudah seyogianya/sepantasnya manusia memberikan perhatian yang penuh kepada semua orang terutama orang-orang terdekatnya baik dari segi materi, waktu maupun nasehat / bimbingan. Seseorang  yang berhasil, bukanlah seeorang  yang berhasil mencari kelemahan / kesalahan orang lain tetapi ialah orang  yang mampu memberikan solusi serta motivasi agar kesalahan / kelemahan ini tidak muncul untuk selanjutnya. 

Semoga semua mahluk hidup terbebas dari derita dan semoga semuanya senantiasa berbahagia. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

~ Jro Mangku Danu
Bali, 23 Februari 2010

Friday, May 17, 2013

Meditasi & Makanan Kesukaan

Salam Kasih
Objek meditasi untuk mencapai ketenangan, jika tidak sesuai dengan karaktermu, tidak akan menghasilkan timbulnya kebebasan akan nafsu atau menghilangkan kecemasan.

Objek yang sesuai dengan sifatmu adalah hal yang kamu rasa paling sering kamu pikirkan. Seringkali kita tidak menyadarinya, tetapi kita harus menyadari hal ini agar kita bisa mengambil manfaat darinya.

Hal ini sama seperti berbagai macam makanan
100 yang disusun di atas sebuah meja. Kamu mencicipi makanan dari setiap mangkok, setiap jenis makanan, dan kamu akan menemukan bagi dirimu sendiri makanan mana yang paling kamu suka, mana yang tidak kamu suka. Kamu akan mengatakan bahwa makanan yang kamu suka lebih enak dibandingkan yang lainnya.





Ini yang saya katakan mengenai makanan. Kamu dapat membandingkannya dengan meditasimu. Objek manapun yang sesuai dengan karaktermu akan membuatmu merasa nyaman.

Namun demikian, meditasi selalu berurusan dengan pikiran, napas, badan & jiwa.

Rahayu _/|\_ I W Sudarma (Jro Mangku Danu)
-16052013