Saturday, October 30, 2010

Gita Cinta- Milik Semua

Salam Kasih

Hanya hari ini

Karena Esok

Bukan milik kita


Kulepas Bajra...bermuatan cinta

Ke seluruh penjuru

Menyusup prana

Menembus kalbu


Ku mohon bhayu

Meniup wibhuti kama dan ratih

Menebar kasih


Getaran asmara

Milik Remaja


Gita cinta

Milik semua


Denting genta, mengantar dharma

menuai pahala atas karma

Dalam buaian kasihnya

Damai di bumi bukan impian

disunting dari: Akasa Pertiwi

Untukmu Ibu Pertiwi

Salam Kasih

Telah dianugerahkan bhuana dan semesta ini

Diciptakan sebelum bangsa manusia diturunkan

Entah berapa masa

Entah berapa juta turunan manusia telah menikmatinya

Ketika pikiran berkembang pesat

Indriya berpacu dalam kerakusan

Pertiwi diperbudak, dibongkar, dihisap....ditelantarkan

Di atas puingnya berdiri gugus bertema kemakmuran

Awidya (Kegelapan) menutup mata bathin manusia

Pertiwi hingga Akasa, adalah Maha Sumber

Dia dasyat juga lembut

Dia panas namun teduh

Dia berputar tapi tetap


Jika engkau hanya bisa mengambil saja

Memerah tetes demi tetes susu kehidupan Bunda Pertiwi hanya demi perutmu seorang

Atau demi nikmat sesaat keturunanmu

Tapi engkau lupa... mengasihinya

Jangan salahkan jika Ia Kecewa...Marah....Murka....

Bergetar....menggelegar

Gunung....Samudera...Angin....Api...Penyakit menebar bencana peringatan

Karena Ibu Pertiwi bukan bagi mereka yang tamak dan culas


Ia tetap akan memberi

Karenanya disebut Ibu atau Pertiwi

Yang terkikis dan lenyap adalah cinta

Kembalikan.....sambungkan tali cinta kepada Ibu Pertiwi

Dari situ akan bangkit kemuliaan


Bali, 24-10-2010
Dari Catatan pinggir Jalanku: Goes De

Sayu-Sayup Cinta

Salam Kasih

Sayup-sayup ku dengar renyah suaramu

Cairkan kelu beku hati menahan rindu

Walau celoteh manismu terkadang tersapu angin pegunungan

Tapi masih dapat ku tangkap isyarat tulus kasihmu

Ah...inikah cinta..?


Sayup-sayup ku dengar tertawamu bercanda riang dengan dewa pujaanmu

Bercengkrama menembus batas kesadaran manusiamu

Sambil menari gemulai persembahkan hati dan bhaktimu

Beriring nada tabuh penyambung sukma

Ahh...inikah cinta..?


Sayup-sayup ku dengar kidung mistismu mengalun

Bergandengan dengan sepoi angin malam

Lagumu lewat bahasa ibu

Sampaikan seluruh rasa dan asamu

Seraya bersimpuh sentuh kaki padma pertiwi

Ahh...inikah cinta..?


Sayup-sayup ku dengar doa khusukmu

Cakupan tanganmu tertuju menyentuh jagat sunya

Terjalin mesra mantramu terbawa semerbak harum asap dupa

Hantarkan rindu kasihmu menjumpanya

Ahh...inikah cinta..?


Sayup-sayup ku dengar suara manjamu

Bertutur manis penuh gelora

Walau dari balik selimut penahan dingin

Kau persembahkan renyah suaramu rindumu

Ahh...inilah cinta..!!


Kidung syahdu menusuk menembus relung sukma

Penuhi semua serambi dan bilik jantungku

Sengal nafas sesakkan dada penuh bulir-bulir kasih

Merambat merasuk ke seluruh nadi

...Bergemuruh riuh laksana spora di musim hujan

Bergegas tumbuh di ladang asmara


Walau cemas dan rindu silih berganti,

Gelisah dalam harapan

Menanti kencan dalam dekapan

...Kadangkala keresahanpun menyelinap

Walau untaian doa tak pernah putus

Namun Rasa takut bertepuk sebelah tangan tak jua segera menyingkir

Ahh...demikianlah...cinta...!!

karya: I Wayan Sudarma
30 Oktober 2010

Types Of Happiness

Salam Kasih
Dear Brothers & Sisters.

There are three types of happiness. These correspond to the three forces which bind the body to the soul: peace-assertion-and passivity.

First there is the "Happiness" that comes from always doing what is right. This leads to the end af all sorrow. It may at first seem like bitter poisson; but eventually it turns out to be the wine of eternal sweetness. This type of happiness is pure; and it arises from "Peace".

Secondly there is "Happiness" which comes from the pleasures of the senses. At first this seem like sweet wine; but eventually it turns out to be bitter poison. This type of happiness arises from "Assertion".

Thirdly there is the "Happiness" that comes from the pleasures of sleep, indolence and intoxication. From beginning to end this happiness is delusion. It arises from "Passivity"

Inspirated From: The Bhagavadgita, XVIII.36-41
Bali, 11-01-1994

Doaku Menjelang Mati

Salam Kasih

Ya Tuhan.....

Ijinkan aku berdoa...!

Bukan agar aku terhindar dari bahaya..!

Tetapi agar aku tiada takut menghadapinya


Ijnkan aku memohon...!

Bukan agar penderitaanku ini hilang...!

Tetapi agar hatiku tabah menghadapinya


Ijnkan aku agar tidak mencari sekutu dalam perjuangan hidupku

Tetapi memperoleh kekuatanku sendiri


Ijinkan aku agar tidak berharap dalam ketakutan

Dan kegelisahan untuk diselamatkan

Tetapi berharap akan kesabaran

Untuk memenangkan kebebasanku


Berkatilah aku....Tuhan...!

Agar aku tidak menjadi seorang pengecut

Dengan merasakan kemurahan-Mu dalam keberhasilanku

Tetapi biarkanlah pula...!

Aku merasakan genggaman tangan-Mu dalam kegagalanku


Renungan...Sahabat....

"Manusia yang akan meninggalkan dunia dan kembali kepada Sang Pencipta tidak menangis. Tetapi sebaliknya anak manusia yang dilahirkan dan datang ke dunia menangis"

oleh: I Wayan Sudarma

Doa Para Pejuang Negeri

Salam Kasih

Ini adalah doaku untukmu..tuanku
Menembus akar kekikiran dalam hatiku
Beri aku kekuatan
Yang dengan ringan menanggung kegembiraan
Dan kedukaannya

Beri aku kekuatan
Untuk membuat cintaku bermanfaat dalam pelayanan

Beri aku kekuatan
Yang tak pernah memungkiri
Kemiskinan atau...
Bertekuk lutut di hadapan kekuatan angkara murka

Beri aku kekuatan
Untuk mengangkat akalku tinggi
Di atas hal-hal yang sia-sia dalam keseharian

Dan beri aku kekuatan
Untuk menyerahkan kekuatanku
Kepada kehendakmu dengan cinta

Karya: I Wayan Sudarma

Adalah Kau-Hanya Kau...

Salam Kasih

Yang ku inginkan adalah kau-hanya ka
Biarkan hatiku mengulanginya tanpa akhir
Semua gairah yang mengacaukanku

Siang dan malam
Adalah palsu dan kosong sampai ke intinya

Sementara malam tetap menyembunyikan
Dalam kemurungannya
Permohonan akan cahaya
Bahkan kedalaman ketaksadaranku
Tangisan memanggil
'Aku menginginkanmu, hanya kau'

Sementara badai masih mencari
Akhirnya di dalam damai

Ketika ia hendak menghentak
Melawan kedamaian dengan seluruh kekuatannya

Bahkan ketika...
Pemberontakanku menghentak
Melawan cintamu dan tetap tangisnya adalah
'Aku menginginkanmu, hanya kau'


Dari catatan harianku- I Wayan Sudarma

The Size of The Soul

Salam Kasih

Dear Brothers & Sisters

This note is taken from The Chandogya Upanisad, 3:14.1-4

The universe emerges from God, and will return to God; he is the beginning and the end. God is all, and all is God.

You are your deepest desire. Your deepest desire in this life will shape your next life. So direct your deepest desire to knowing the soul.

The soul can be known by those who are pure in heart. The soul is light and life, truth and space. The soul is the source of all activity, all desires, all fragrances and taste. The soul is beyond words. From the soul comes eternal joy-and the soul dwells within every heart.

The soul is smaller than a grain of rice, smaller than a grain of barley, smaller than a mustard seed, smaller tha a grain of millet, smaller even than the kernel of grain of millet. Thus the heart has room for the soul. The soul is also larger than the earth, larger than the sky,larger than the entire universe.

C. Cetho,15 Juli 1993

The Location of God

Salam Kasih

Dear Brothers & Sisters

This poem is taken from The Brihadaranyaka Upanisad 2:1.1-3, 6-7, 10, 12-13


There was once a priest called Gargya, who was proud of his learning. He went to King Ajatasatru, and said: 'I am willing to teach you abaut God.' The King replied: 'I shall give you a thousand cows if you can do that.'


Gargya said: 'There is a soul in the sun which shines by day; and that soul I venerate as God.' The King responded: 'How can you say that? I regard the sun only as the source of brightness.'


Gargya said: 'There is a soul in the moon which shines at night; and that soul I venerate as God.' The King responded: 'How you can say that? I venerate the moon only as the source of wine.'


Gargya said: 'There is a soul in wind and fire, and that soul I venerate as God.' The King responded: 'How can you say that? I regard the wind as like an army, and fire as like a powerful empire.'


Gargya said: 'There is a soul in the sound of people as they walk, and in their shadows, and that soul I venerate as God.' The King responded: 'How can you say that? I regard the sound of people's steps as a sign of life, and their shadows as a sign of death.'


Gargya said: 'There is a soul in the human body, and that soul I venerate as God.' The King responded: 'How can you say that? I regard the body simply as the covering of the soul.'

Gargya now fell silent.


C. Cetho, 13 Juli 1993

The Mind & Wisdom

Salam Kasih

Dear brothers & Sisters


When words try to approach God,

They are forced to turn back

Human thought can never reach God

Yet human beings can know the bliss of God,

And thereby be freed from all fear.


The mind is like a body

Thought is its skin

Faith its head

Righteousness its rigt arm

And truth its left

The practise of meditation is its heart

And discernment its feet.


Wisdom is like a body,

Contained within the mind

Bliss is its skin

Joy its head

Contentment its right arm

And delight its left

Selfless service is its heart

And spiritual understanding its feet.


Even the angels seek wisdom

Human beings can attain perfect wisdom

And thereby be free from all sin.


Inspirated from: The Taittiriya Upanisad 2:5

Bali, 17 April 1995---»Goes De

Tuesday, October 19, 2010

KEILAHIAN

Salam Kasih


Eksistensi seluruh keberadaan ini, ada dan berada dalam kekuasaan Brahman
Hidup dan kehidupan jagat raya ini, ditunjang kesadaran Brahman
Hidup dan kehidupan ini, ditopang oleh kesadaran Brahman
Hidup dan kehidupan ini, dipelihara kesadaran Brahman
Kehidupan ini, berada dalam kesadaran Brahman
Essensi hidup adalah kesadaran Brahman
Inti hidup ini kesadaran Brahman
Jika napas alam ini terhenti sementara, maka kehidupan ini akan hancur lebur
Sirnanya alam semesta raya ini, akan meniadakan hidup dan kehidupan
Alam semesta raya ini, merupakan wujud hidup dan kehidupan
Alam semesta raya ini, adalah manifestasi dari Brahman
Alam semesta raya ini, ada dalam kuasa Brahman
Alam semesta raya ini, menjadi badan fisik Brahman
Kesadaran Brahman, tidak mengalami kematian dan kehancuran
Kesadaran Brahman masih akan tetap ada, manakala jagat raya ini hancur
Kesadaran Brahman masih akan tetap ada, dengan sirnanya hidup dan kehidupan
Kesadaran Brahman kekal dan abadi
Kesadaran Brahman adalah awal tanpa akhir
Kesadaran Brahman bertransformasi secara emanasi
Kesadaran Brahman menyebar dan meresapi keberadaan ini
Kesadaran Brahman bermanifestasi menjadi alam semesta raya ini
Kesadaran Brahman meresapi, menjiwai, dan menguasai, alam semesta raya ini

Ini
Hidup
Kehidupan
Hidup dan kehidupan
Hidup dan kehidupan jagat raya
Hidup dan kehidupan berwujud sebagai jagat raya
Hidup dan kehidupan berbentuk sebagai alam semesta raya
Hidup dan kehidupan ini adalah seluruh eksistensi keberadaan ini
Hidup dan kehidupan ini berawal dan berasal dari sumber yang tunggal
Hidup dan kehidupan ini terjadi, melalui transformasi kesadaran Brahman
Hidup dan kehidupan ini terjadi, berkat manifestasi dari kesadaran Brahman
Hidup dan kehidupan ini ada, karena lila atau kridha dari kesadaran Brahman
Hidup dan kehidupan ini terwujud, karena manifestasi dari kesadaran Brahman
Hidup dan kehidupan ini adalah cinta
Hidup dan kehidupan ini adalah kasih
Hidup dan kehidupan ini adalah sayang
Hidup dan kehidupan ini adalah pohon
Hidup dan kehidupan ini adalah buah
Hidup dan kehidupan ini adalah akibat
Hidup dan kehidupan ini adalah berkah
Hidup dan kehidupan ini adalah anugerah

Apabila napas alam terhenti sementara, maka napas badan akan terhenti selamanya
Jika napas badan terhenti sementara, maka napas alam akan tetap ada dan berjalan
Ketika napas alam terhenti selamanya, maka seluruh jagat raya akan sirna dan tiada
Manakala napas badan terhenti selamanya, maka keberadaan akan tetap eksis
Jika napas badan terhenti selamanya, maka badan ini akan kaku dan mati
Kematian pada badan ini, akan mempengaruhi hidup dan kehidupan
Walau badan ini mati, hidup dan kehidupan akan jalan dan berlanjut
Meskipun badan mengalami kematian, kesadaran ini akan tetap ada
Tatkala badan ditimpa kematian, atman akan tetap ada dan hidup
Walau badan telah mati dan hancur, kesadaran ini masih tetap ada
Meski badan telah sirna dan tiada, tetapi atman masih tetap eksis
Badan tidak menghidupi atman dan alam semesta raya ini
Justru terjadi sebaliknya, atman menghidupi badan ini
Badan sangat tergantung alam semesta raya ini
Badan ditopang oleh alam semesta raya ini
Badan ditunjang alam semesta raya ini
Badan hanya bagian kecil dari alam
Badan adalah debu bagi alam
Badan adalah tanah
Badan adalah air
Badan adalah api
Badan adalah udara
Badan adalah hampa
Badan hanyalah unsur
Badan hanyalah molekul
Badan hanyalah material
Badan hanyalah pradhana
Badan hanyalah baju atman
Badan hanyalah sthana atman
Bdan hanyalah wahana atman
Badan hanyalah kendaraan atman
Badan bersifat lembam dan acetana
Badan tersusun dari unsur sarining bumi
Badan terdiri dari unsur makanan dan minuman
Badan tersusun dari unsur-unsur panca mahabhuta
Saat badan mati, akan terurai lagi menjadi sarining bumi
Ketika badan hancur, kembali menjadi makanan dan minuman
Manakala badan terurai, akan kembali menjadi unsur panca mahabhuta
Manakala badan mati, terurai, dan tiada, atman masih eksis dan tetap ada

Hidup adalah inti dari kehidupan, maka hiduplah dalam dharma
Kesadaran adalah essensi dari hidup ini, maka sadarlah hidup sebagai manusia
Kemanusiaan adalah sifat hidup, maka berprilakulah manusiawi dalam hidup
Keilahian adalah hakekat hidup ini, maka wujudkan pada hidup dan kehidupan ini
Karena kita hidup berstatus sebagai umat manusia, maka hormatilah kemanusiaan
Hakekat hidup ini adalah keilahian, maka lakukan sifat-sifat ilahi dalam hidup ini
Hidup dalam jenis kehidupan sebagai manusia, mestinya hidup sangat manusiawi
Hidup berstatus manusia, seharusnya memenuhi standar kemanusiaan
Manusia yang kemanusiaannya manusiawi, akan meningkat menjadi keilahian


Brahmamuhurta Catur Dasi Krsna Paksa Magha Masa, Wrehaspati 14-01-2010

Menuju Kuil Terdalam

Salam Kasih

Waktu yang ditempuh perjalananku
Adalah panjang dan arahnya jauh...

Aku keluar dengan kereta tempur dalam pancaran sinar pertama
Dan meneruskan perjalananku
Melalui hutan belantara dunia
Meninggalkan jejakku pada bintang-bintang dan planet

Ini adalah jalan yang paling jauh
Yang datang paling dekat pada diriku sendiri
Dan latihan itu
Adalah paling berliku yang menuntun kepada kesederhanaan dari sebuah lagu

Sang pengembara
Harus mengetuk setiap pintu asing
Untuk datang pada pintunya sendiri
Dan seseorang harus mengembara
Melalui semua dunia luar
Untuk mencapai kuil terdalam
Pada akhir perjalanannya

Mataku berkeliaran
Jauh dan luas
Sebelum aku menutupnya dan berkata "Di sinilah kau!"

Pertanyaan dan teriakan....
Oh, dimana?
Melebur menjadi air mata dari seribu anak sungai
Dan menggenangi dunia dengan banjir kedamaian "Aku!"

karya: I Wayan Sudarma

Untuk-Mulah Aku Menunggu

Salam Kasih

Di mana kau berdiri di belakang mereka semua
Kekasihku....!
Menyembunyikan dirimu sendiri dalam bayangan?
Mereka mendorongmu dan melewatimu di jalan yang berdebu

Menganggapmu bukan apa-apa
Aku menunggu di sini selama jam-jam yang meletihkan
Menyebarkan persembahanku untukmu

Sementara mereka yang lewat datang dan mengambil bunga-bungaku
Satu demi satu....dan
Keranjangku hampir kosong

Pagi hari telah lewat, juga siang
Dalam teduhnya malam mataku mengantuk
Para pria pulang ke rumah memandangku sekilas...dan
Tersenyum dan membuatku malu

Aku duduk seperti gadis pengemis
Menarik bajuku menutupi wajahku....dan

Ketika mereka menanyaiku
Apa yang aku inginkan?
Aku menundukkan pandanganku dan tidak menjawab

Oh...sungguh....
Bagaimana aku dapat memberitahu mereka
Bahwa untukmulah aku menunggu...dan
Bahwa kau telah berjanji akan datang

Bagaimana aku dapat mengucapkan dengan malu
Bahwa aku mendapat kemiskinan ini sebagai maharku
Ah.....aku memeluk kebanggan ini dalam kerahasiaan hatiku

Aku duduk di rumput....dan
Memandang langit ...dan
Memimpikan kedatanganmu yang tiba-tiba....dan
Megah kilat-kilat menyambar
Panji-panji keemasan beterbangan di atas keretamu...dan

Di tepi jalan mereka berdiri termangu
Ketika mereka melihatmu turun...
Dari tempat dudukmu untuk mengangkatku dari debu...dan
Mendudukkan di sampingmu pria peminta-minta yang compang camping ini
Yang gemetar oleh rasa malu...dan kebanggaan
Seperti penyelinap dalam angin sepoi musim panas.

karya: I Wayan Sudarma

Kau Panggil Aku Kala Senja Sepi

Salam Kasih

Hari siang perlahan beranjak....lalu tak ada lagi
Bayangan di atas bumi
Sudah waktunya aku pergi
Ke sungai untuk mengisi kendi tabungan karmaku yang kian mengering

Udara malam riang bersama musik sedih air
Ah...ia memanggilku ke luar ke dalam senja
Di jalan yang kesepian tidak ada orang lewat
Angin betiup
Riak-riak merajalela di sungai

Aku tidak tahu...
Apakah aku akan kembali ke rumah?

Aku tidak tahu...
Siapa yang akan kebetulan ku temui....Di sana tempat yang dangkal?
Dalam perahu kecil orang tak dikenal sambil menorehkan pena asanya

~ I Wayan Sudarma
Dari catatan harianku 12 -12 2007

Monday, October 18, 2010

Hadir-Mu Samar di Udara Wangi

Salam Kasih


Aku tidak tahu
Dari jarak waktu apa kau akan datang
Lebih dekat untuk bertemu denganku
Matahari dan bintang-bintangmu
Tak pernah dapat membuatmu tersembunyi dariku

Dalam banyak pagi dan malam
langkah-langkah kakimu telah terdengar...dan
Pembawa beritamu telah datang ke dalam hatiku...dan
memanggilku diam-diam

Aku tidak tahu
Hanya kenapa hari ini hidupku semua bergolak
Dan perasaan riang yang gemetar melintas melalui hatiku

Seakan-akan waktu datang
Untuk menyudahi pekerjaanku
Dan aku merasakan di udara wangi
samar-samar dari kehadiranmu yang manis.

oleh: I Wayan Sudarma