Salam Kasih
Hanya hari ini
Karena Esok
Bukan milik kita
Kulepas Bajra...bermuatan cinta
Ke seluruh penjuru
Menyusup prana
Menembus kalbu
Ku mohon bhayu
Meniup wibhuti kama dan ratih
Menebar kasih
Getaran asmara
Milik Remaja
Gita cinta
Milik semua
Denting genta, mengantar dharma
menuai pahala atas karma
Dalam buaian kasihnya
Damai di bumi bukan impian
disunting dari: Akasa Pertiwi
Saturday, October 30, 2010
Untukmu Ibu Pertiwi
Salam Kasih
Telah dianugerahkan bhuana dan semesta ini
Diciptakan sebelum bangsa manusia diturunkan
Entah berapa masa
Entah berapa juta turunan manusia telah menikmatinya
Ketika pikiran berkembang pesat
Indriya berpacu dalam kerakusan
Pertiwi diperbudak, dibongkar, dihisap....ditelantarkan
Di atas puingnya berdiri gugus bertema kemakmuran
Awidya (Kegelapan) menutup mata bathin manusia
Pertiwi hingga Akasa, adalah Maha Sumber
Dia dasyat juga lembut
Dia panas namun teduh
Dia berputar tapi tetap
Jika engkau hanya bisa mengambil saja
Memerah tetes demi tetes susu kehidupan Bunda Pertiwi hanya demi perutmu seorang
Atau demi nikmat sesaat keturunanmu
Tapi engkau lupa... mengasihinya
Jangan salahkan jika Ia Kecewa...Marah....Murka....
Bergetar....menggelegar
Gunung....Samudera...Angin....Api...Penyakit menebar bencana peringatan
Karena Ibu Pertiwi bukan bagi mereka yang tamak dan culas
Ia tetap akan memberi
Karenanya disebut Ibu atau Pertiwi
Yang terkikis dan lenyap adalah cinta
Kembalikan.....sambungkan tali cinta kepada Ibu Pertiwi
Dari situ akan bangkit kemuliaan
Bali, 24-10-2010
Dari Catatan pinggir Jalanku: Goes De
Telah dianugerahkan bhuana dan semesta ini
Diciptakan sebelum bangsa manusia diturunkan
Entah berapa masa
Entah berapa juta turunan manusia telah menikmatinya
Ketika pikiran berkembang pesat
Indriya berpacu dalam kerakusan
Pertiwi diperbudak, dibongkar, dihisap....ditelantarkan
Di atas puingnya berdiri gugus bertema kemakmuran
Awidya (Kegelapan) menutup mata bathin manusia
Pertiwi hingga Akasa, adalah Maha Sumber
Dia dasyat juga lembut
Dia panas namun teduh
Dia berputar tapi tetap
Jika engkau hanya bisa mengambil saja
Memerah tetes demi tetes susu kehidupan Bunda Pertiwi hanya demi perutmu seorang
Atau demi nikmat sesaat keturunanmu
Tapi engkau lupa... mengasihinya
Jangan salahkan jika Ia Kecewa...Marah....Murka....
Bergetar....menggelegar
Gunung....Samudera...Angin....Api...Penyakit menebar bencana peringatan
Karena Ibu Pertiwi bukan bagi mereka yang tamak dan culas
Ia tetap akan memberi
Karenanya disebut Ibu atau Pertiwi
Yang terkikis dan lenyap adalah cinta
Kembalikan.....sambungkan tali cinta kepada Ibu Pertiwi
Dari situ akan bangkit kemuliaan
Bali, 24-10-2010
Dari Catatan pinggir Jalanku: Goes De
Sayu-Sayup Cinta
Salam Kasih
Sayup-sayup ku dengar renyah suaramu
Cairkan kelu beku hati menahan rindu
Walau celoteh manismu terkadang tersapu angin pegunungan
Tapi masih dapat ku tangkap isyarat tulus kasihmu
Ah...inikah cinta..?
Sayup-sayup ku dengar tertawamu bercanda riang dengan dewa pujaanmu
Bercengkrama menembus batas kesadaran manusiamu
Sambil menari gemulai persembahkan hati dan bhaktimu
Beriring nada tabuh penyambung sukma
Ahh...inikah cinta..?
Sayup-sayup ku dengar kidung mistismu mengalun
Bergandengan dengan sepoi angin malam
Lagumu lewat bahasa ibu
Sampaikan seluruh rasa dan asamu
Seraya bersimpuh sentuh kaki padma pertiwi
Ahh...inikah cinta..?
Sayup-sayup ku dengar doa khusukmu
Cakupan tanganmu tertuju menyentuh jagat sunya
Terjalin mesra mantramu terbawa semerbak harum asap dupa
Hantarkan rindu kasihmu menjumpanya
Ahh...inikah cinta..?
Sayup-sayup ku dengar suara manjamu
Bertutur manis penuh gelora
Walau dari balik selimut penahan dingin
Kau persembahkan renyah suaramu rindumu
Ahh...inilah cinta..!!
Kidung syahdu menusuk menembus relung sukma
Penuhi semua serambi dan bilik jantungku
Sengal nafas sesakkan dada penuh bulir-bulir kasih
Merambat merasuk ke seluruh nadi
...Bergemuruh riuh laksana spora di musim hujan
Bergegas tumbuh di ladang asmara
Walau cemas dan rindu silih berganti,
Gelisah dalam harapan
Menanti kencan dalam dekapan
...Kadangkala keresahanpun menyelinap
Walau untaian doa tak pernah putus
Namun Rasa takut bertepuk sebelah tangan tak jua segera menyingkir
Ahh...demikianlah...cinta...!!
karya: I Wayan Sudarma
30 Oktober 2010
Sayup-sayup ku dengar renyah suaramu
Cairkan kelu beku hati menahan rindu
Walau celoteh manismu terkadang tersapu angin pegunungan
Tapi masih dapat ku tangkap isyarat tulus kasihmu
Ah...inikah cinta..?
Sayup-sayup ku dengar tertawamu bercanda riang dengan dewa pujaanmu
Bercengkrama menembus batas kesadaran manusiamu
Sambil menari gemulai persembahkan hati dan bhaktimu
Beriring nada tabuh penyambung sukma
Ahh...inikah cinta..?
Sayup-sayup ku dengar kidung mistismu mengalun
Bergandengan dengan sepoi angin malam
Lagumu lewat bahasa ibu
Sampaikan seluruh rasa dan asamu
Seraya bersimpuh sentuh kaki padma pertiwi
Ahh...inikah cinta..?
Sayup-sayup ku dengar doa khusukmu
Cakupan tanganmu tertuju menyentuh jagat sunya
Terjalin mesra mantramu terbawa semerbak harum asap dupa
Hantarkan rindu kasihmu menjumpanya
Ahh...inikah cinta..?
Sayup-sayup ku dengar suara manjamu
Bertutur manis penuh gelora
Walau dari balik selimut penahan dingin
Kau persembahkan renyah suaramu rindumu
Ahh...inilah cinta..!!
Kidung syahdu menusuk menembus relung sukma
Penuhi semua serambi dan bilik jantungku
Sengal nafas sesakkan dada penuh bulir-bulir kasih
Merambat merasuk ke seluruh nadi
...Bergemuruh riuh laksana spora di musim hujan
Bergegas tumbuh di ladang asmara
Walau cemas dan rindu silih berganti,
Gelisah dalam harapan
Menanti kencan dalam dekapan
...Kadangkala keresahanpun menyelinap
Walau untaian doa tak pernah putus
Namun Rasa takut bertepuk sebelah tangan tak jua segera menyingkir
Ahh...demikianlah...cinta...!!
karya: I Wayan Sudarma
30 Oktober 2010
Types Of Happiness
Salam Kasih
Dear Brothers & Sisters.
There are three types of happiness. These correspond to the three forces which bind the body to the soul: peace-assertion-and passivity.
First there is the "Happiness" that comes from always doing what is right. This leads to the end af all sorrow. It may at first seem like bitter poisson; but eventually it turns out to be the wine of eternal sweetness. This type of happiness is pure; and it arises from "Peace".
Secondly there is "Happiness" which comes from the pleasures of the senses. At first this seem like sweet wine; but eventually it turns out to be bitter poison. This type of happiness arises from "Assertion".
Thirdly there is the "Happiness" that comes from the pleasures of sleep, indolence and intoxication. From beginning to end this happiness is delusion. It arises from "Passivity"
Inspirated From: The Bhagavadgita, XVIII.36-41
Bali, 11-01-1994
Dear Brothers & Sisters.
There are three types of happiness. These correspond to the three forces which bind the body to the soul: peace-assertion-and passivity.
First there is the "Happiness" that comes from always doing what is right. This leads to the end af all sorrow. It may at first seem like bitter poisson; but eventually it turns out to be the wine of eternal sweetness. This type of happiness is pure; and it arises from "Peace".
Secondly there is "Happiness" which comes from the pleasures of the senses. At first this seem like sweet wine; but eventually it turns out to be bitter poison. This type of happiness arises from "Assertion".
Thirdly there is the "Happiness" that comes from the pleasures of sleep, indolence and intoxication. From beginning to end this happiness is delusion. It arises from "Passivity"
Inspirated From: The Bhagavadgita, XVIII.36-41
Bali, 11-01-1994
Doaku Menjelang Mati
Salam Kasih
Ya Tuhan.....
Ijinkan aku berdoa...!
Bukan agar aku terhindar dari bahaya..!
Tetapi agar aku tiada takut menghadapinya
Ijnkan aku memohon...!
Bukan agar penderitaanku ini hilang...!
Tetapi agar hatiku tabah menghadapinya
Ijnkan aku agar tidak mencari sekutu dalam perjuangan hidupku
Tetapi memperoleh kekuatanku sendiri
Ijinkan aku agar tidak berharap dalam ketakutan
Dan kegelisahan untuk diselamatkan
Tetapi berharap akan kesabaran
Untuk memenangkan kebebasanku
Berkatilah aku....Tuhan...!
Agar aku tidak menjadi seorang pengecut
Dengan merasakan kemurahan-Mu dalam keberhasilanku
Tetapi biarkanlah pula...!
Aku merasakan genggaman tangan-Mu dalam kegagalanku
Renungan...Sahabat....
"Manusia yang akan meninggalkan dunia dan kembali kepada Sang Pencipta tidak menangis. Tetapi sebaliknya anak manusia yang dilahirkan dan datang ke dunia menangis"
oleh: I Wayan Sudarma
Ya Tuhan.....
Ijinkan aku berdoa...!
Bukan agar aku terhindar dari bahaya..!
Tetapi agar aku tiada takut menghadapinya
Ijnkan aku memohon...!
Bukan agar penderitaanku ini hilang...!
Tetapi agar hatiku tabah menghadapinya
Ijnkan aku agar tidak mencari sekutu dalam perjuangan hidupku
Tetapi memperoleh kekuatanku sendiri
Ijinkan aku agar tidak berharap dalam ketakutan
Dan kegelisahan untuk diselamatkan
Tetapi berharap akan kesabaran
Untuk memenangkan kebebasanku
Berkatilah aku....Tuhan...!
Agar aku tidak menjadi seorang pengecut
Dengan merasakan kemurahan-Mu dalam keberhasilanku
Tetapi biarkanlah pula...!
Aku merasakan genggaman tangan-Mu dalam kegagalanku
Renungan...Sahabat....
"Manusia yang akan meninggalkan dunia dan kembali kepada Sang Pencipta tidak menangis. Tetapi sebaliknya anak manusia yang dilahirkan dan datang ke dunia menangis"
oleh: I Wayan Sudarma
Doa Para Pejuang Negeri
Salam Kasih
Ini adalah doaku untukmu..tuanku
Menembus akar kekikiran dalam hatiku
Beri aku kekuatan
Yang dengan ringan menanggung kegembiraan
Dan kedukaannya
Beri aku kekuatan
Untuk membuat cintaku bermanfaat dalam pelayanan
Beri aku kekuatan
Yang tak pernah memungkiri
Kemiskinan atau...
Bertekuk lutut di hadapan kekuatan angkara murka
Beri aku kekuatan
Untuk mengangkat akalku tinggi
Di atas hal-hal yang sia-sia dalam keseharian
Dan beri aku kekuatan
Untuk menyerahkan kekuatanku
Kepada kehendakmu dengan cinta
Karya: I Wayan Sudarma
Ini adalah doaku untukmu..tuanku
Menembus akar kekikiran dalam hatiku
Beri aku kekuatan
Yang dengan ringan menanggung kegembiraan
Dan kedukaannya
Beri aku kekuatan
Untuk membuat cintaku bermanfaat dalam pelayanan
Beri aku kekuatan
Yang tak pernah memungkiri
Kemiskinan atau...
Bertekuk lutut di hadapan kekuatan angkara murka
Beri aku kekuatan
Untuk mengangkat akalku tinggi
Di atas hal-hal yang sia-sia dalam keseharian
Dan beri aku kekuatan
Untuk menyerahkan kekuatanku
Kepada kehendakmu dengan cinta
Karya: I Wayan Sudarma
Adalah Kau-Hanya Kau...
Salam Kasih
Yang ku inginkan adalah kau-hanya ka
Biarkan hatiku mengulanginya tanpa akhir
Semua gairah yang mengacaukanku
Siang dan malam
Adalah palsu dan kosong sampai ke intinya
Sementara malam tetap menyembunyikan
Dalam kemurungannya
Permohonan akan cahaya
Bahkan kedalaman ketaksadaranku
Tangisan memanggil
'Aku menginginkanmu, hanya kau'
Sementara badai masih mencari
Akhirnya di dalam damai
Ketika ia hendak menghentak
Melawan kedamaian dengan seluruh kekuatannya
Bahkan ketika...
Pemberontakanku menghentak
Melawan cintamu dan tetap tangisnya adalah
'Aku menginginkanmu, hanya kau'
Dari catatan harianku- I Wayan Sudarma
Yang ku inginkan adalah kau-hanya ka
Biarkan hatiku mengulanginya tanpa akhir
Semua gairah yang mengacaukanku
Siang dan malam
Adalah palsu dan kosong sampai ke intinya
Sementara malam tetap menyembunyikan
Dalam kemurungannya
Permohonan akan cahaya
Bahkan kedalaman ketaksadaranku
Tangisan memanggil
'Aku menginginkanmu, hanya kau'
Sementara badai masih mencari
Akhirnya di dalam damai
Ketika ia hendak menghentak
Melawan kedamaian dengan seluruh kekuatannya
Bahkan ketika...
Pemberontakanku menghentak
Melawan cintamu dan tetap tangisnya adalah
'Aku menginginkanmu, hanya kau'
Dari catatan harianku- I Wayan Sudarma
The Size of The Soul
Salam Kasih
Dear Brothers & Sisters
This note is taken from The Chandogya Upanisad, 3:14.1-4
The universe emerges from God, and will return to God; he is the beginning and the end. God is all, and all is God.
You are your deepest desire. Your deepest desire in this life will shape your next life. So direct your deepest desire to knowing the soul.
The soul can be known by those who are pure in heart. The soul is light and life, truth and space. The soul is the source of all activity, all desires, all fragrances and taste. The soul is beyond words. From the soul comes eternal joy-and the soul dwells within every heart.
The soul is smaller than a grain of rice, smaller than a grain of barley, smaller than a mustard seed, smaller tha a grain of millet, smaller even than the kernel of grain of millet. Thus the heart has room for the soul. The soul is also larger than the earth, larger than the sky,larger than the entire universe.
C. Cetho,15 Juli 1993
Dear Brothers & Sisters
This note is taken from The Chandogya Upanisad, 3:14.1-4
The universe emerges from God, and will return to God; he is the beginning and the end. God is all, and all is God.
You are your deepest desire. Your deepest desire in this life will shape your next life. So direct your deepest desire to knowing the soul.
The soul can be known by those who are pure in heart. The soul is light and life, truth and space. The soul is the source of all activity, all desires, all fragrances and taste. The soul is beyond words. From the soul comes eternal joy-and the soul dwells within every heart.
The soul is smaller than a grain of rice, smaller than a grain of barley, smaller than a mustard seed, smaller tha a grain of millet, smaller even than the kernel of grain of millet. Thus the heart has room for the soul. The soul is also larger than the earth, larger than the sky,larger than the entire universe.
C. Cetho,15 Juli 1993
The Location of God
Salam Kasih
Dear Brothers & Sisters
This poem is taken from The Brihadaranyaka Upanisad 2:1.1-3, 6-7, 10, 12-13
There was once a priest called Gargya, who was proud of his learning. He went to King Ajatasatru, and said: 'I am willing to teach you abaut God.' The King replied: 'I shall give you a thousand cows if you can do that.'
Gargya said: 'There is a soul in the sun which shines by day; and that soul I venerate as God.' The King responded: 'How can you say that? I regard the sun only as the source of brightness.'
Gargya said: 'There is a soul in the moon which shines at night; and that soul I venerate as God.' The King responded: 'How you can say that? I venerate the moon only as the source of wine.'
Gargya said: 'There is a soul in wind and fire, and that soul I venerate as God.' The King responded: 'How can you say that? I regard the wind as like an army, and fire as like a powerful empire.'
Gargya said: 'There is a soul in the sound of people as they walk, and in their shadows, and that soul I venerate as God.' The King responded: 'How can you say that? I regard the sound of people's steps as a sign of life, and their shadows as a sign of death.'
Gargya said: 'There is a soul in the human body, and that soul I venerate as God.' The King responded: 'How can you say that? I regard the body simply as the covering of the soul.'
Gargya now fell silent.
C. Cetho, 13 Juli 1993
Dear Brothers & Sisters
This poem is taken from The Brihadaranyaka Upanisad 2:1.1-3, 6-7, 10, 12-13
There was once a priest called Gargya, who was proud of his learning. He went to King Ajatasatru, and said: 'I am willing to teach you abaut God.' The King replied: 'I shall give you a thousand cows if you can do that.'
Gargya said: 'There is a soul in the sun which shines by day; and that soul I venerate as God.' The King responded: 'How can you say that? I regard the sun only as the source of brightness.'
Gargya said: 'There is a soul in the moon which shines at night; and that soul I venerate as God.' The King responded: 'How you can say that? I venerate the moon only as the source of wine.'
Gargya said: 'There is a soul in wind and fire, and that soul I venerate as God.' The King responded: 'How can you say that? I regard the wind as like an army, and fire as like a powerful empire.'
Gargya said: 'There is a soul in the sound of people as they walk, and in their shadows, and that soul I venerate as God.' The King responded: 'How can you say that? I regard the sound of people's steps as a sign of life, and their shadows as a sign of death.'
Gargya said: 'There is a soul in the human body, and that soul I venerate as God.' The King responded: 'How can you say that? I regard the body simply as the covering of the soul.'
Gargya now fell silent.
C. Cetho, 13 Juli 1993
The Mind & Wisdom
Salam Kasih
Dear brothers & Sisters
When words try to approach God,
They are forced to turn back
Human thought can never reach God
Yet human beings can know the bliss of God,
And thereby be freed from all fear.
The mind is like a body
Thought is its skin
Faith its head
Righteousness its rigt arm
And truth its left
The practise of meditation is its heart
And discernment its feet.
Wisdom is like a body,
Contained within the mind
Bliss is its skin
Joy its head
Contentment its right arm
And delight its left
Selfless service is its heart
And spiritual understanding its feet.
Even the angels seek wisdom
Human beings can attain perfect wisdom
And thereby be free from all sin.
Inspirated from: The Taittiriya Upanisad 2:5
Bali, 17 April 1995---»Goes De
Dear brothers & Sisters
When words try to approach God,
They are forced to turn back
Human thought can never reach God
Yet human beings can know the bliss of God,
And thereby be freed from all fear.
The mind is like a body
Thought is its skin
Faith its head
Righteousness its rigt arm
And truth its left
The practise of meditation is its heart
And discernment its feet.
Wisdom is like a body,
Contained within the mind
Bliss is its skin
Joy its head
Contentment its right arm
And delight its left
Selfless service is its heart
And spiritual understanding its feet.
Even the angels seek wisdom
Human beings can attain perfect wisdom
And thereby be free from all sin.
Inspirated from: The Taittiriya Upanisad 2:5
Bali, 17 April 1995---»Goes De
Tuesday, October 19, 2010
KEILAHIAN
Salam Kasih
Eksistensi seluruh keberadaan ini, ada dan berada dalam kekuasaan Brahman
Hidup dan kehidupan jagat raya ini, ditunjang kesadaran Brahman
Hidup dan kehidupan ini, ditopang oleh kesadaran Brahman
Hidup dan kehidupan ini, dipelihara kesadaran Brahman
Kehidupan ini, berada dalam kesadaran Brahman
Essensi hidup adalah kesadaran Brahman
Inti hidup ini kesadaran Brahman
Jika napas alam ini terhenti sementara, maka kehidupan ini akan hancur lebur
Sirnanya alam semesta raya ini, akan meniadakan hidup dan kehidupan
Alam semesta raya ini, merupakan wujud hidup dan kehidupan
Alam semesta raya ini, adalah manifestasi dari Brahman
Alam semesta raya ini, ada dalam kuasa Brahman
Alam semesta raya ini, menjadi badan fisik Brahman
Kesadaran Brahman, tidak mengalami kematian dan kehancuran
Kesadaran Brahman masih akan tetap ada, manakala jagat raya ini hancur
Kesadaran Brahman masih akan tetap ada, dengan sirnanya hidup dan kehidupan
Kesadaran Brahman kekal dan abadi
Kesadaran Brahman adalah awal tanpa akhir
Kesadaran Brahman bertransformasi secara emanasi
Kesadaran Brahman menyebar dan meresapi keberadaan ini
Kesadaran Brahman bermanifestasi menjadi alam semesta raya ini
Kesadaran Brahman meresapi, menjiwai, dan menguasai, alam semesta raya ini
Ini
Hidup
Kehidupan
Hidup dan kehidupan
Hidup dan kehidupan jagat raya
Hidup dan kehidupan berwujud sebagai jagat raya
Hidup dan kehidupan berbentuk sebagai alam semesta raya
Hidup dan kehidupan ini adalah seluruh eksistensi keberadaan ini
Hidup dan kehidupan ini berawal dan berasal dari sumber yang tunggal
Hidup dan kehidupan ini terjadi, melalui transformasi kesadaran Brahman
Hidup dan kehidupan ini terjadi, berkat manifestasi dari kesadaran Brahman
Hidup dan kehidupan ini ada, karena lila atau kridha dari kesadaran Brahman
Hidup dan kehidupan ini terwujud, karena manifestasi dari kesadaran Brahman
Hidup dan kehidupan ini adalah cinta
Hidup dan kehidupan ini adalah kasih
Hidup dan kehidupan ini adalah sayang
Hidup dan kehidupan ini adalah pohon
Hidup dan kehidupan ini adalah buah
Hidup dan kehidupan ini adalah akibat
Hidup dan kehidupan ini adalah berkah
Hidup dan kehidupan ini adalah anugerah
Apabila napas alam terhenti sementara, maka napas badan akan terhenti selamanya
Jika napas badan terhenti sementara, maka napas alam akan tetap ada dan berjalan
Ketika napas alam terhenti selamanya, maka seluruh jagat raya akan sirna dan tiada
Manakala napas badan terhenti selamanya, maka keberadaan akan tetap eksis
Jika napas badan terhenti selamanya, maka badan ini akan kaku dan mati
Kematian pada badan ini, akan mempengaruhi hidup dan kehidupan
Walau badan ini mati, hidup dan kehidupan akan jalan dan berlanjut
Meskipun badan mengalami kematian, kesadaran ini akan tetap ada
Tatkala badan ditimpa kematian, atman akan tetap ada dan hidup
Walau badan telah mati dan hancur, kesadaran ini masih tetap ada
Meski badan telah sirna dan tiada, tetapi atman masih tetap eksis
Badan tidak menghidupi atman dan alam semesta raya ini
Justru terjadi sebaliknya, atman menghidupi badan ini
Badan sangat tergantung alam semesta raya ini
Badan ditopang oleh alam semesta raya ini
Badan ditunjang alam semesta raya ini
Badan hanya bagian kecil dari alam
Badan adalah debu bagi alam
Badan adalah tanah
Badan adalah air
Badan adalah api
Badan adalah udara
Badan adalah hampa
Badan hanyalah unsur
Badan hanyalah molekul
Badan hanyalah material
Badan hanyalah pradhana
Badan hanyalah baju atman
Badan hanyalah sthana atman
Bdan hanyalah wahana atman
Badan hanyalah kendaraan atman
Badan bersifat lembam dan acetana
Badan tersusun dari unsur sarining bumi
Badan terdiri dari unsur makanan dan minuman
Badan tersusun dari unsur-unsur panca mahabhuta
Saat badan mati, akan terurai lagi menjadi sarining bumi
Ketika badan hancur, kembali menjadi makanan dan minuman
Manakala badan terurai, akan kembali menjadi unsur panca mahabhuta
Manakala badan mati, terurai, dan tiada, atman masih eksis dan tetap ada
Hidup adalah inti dari kehidupan, maka hiduplah dalam dharma
Kesadaran adalah essensi dari hidup ini, maka sadarlah hidup sebagai manusia
Kemanusiaan adalah sifat hidup, maka berprilakulah manusiawi dalam hidup
Keilahian adalah hakekat hidup ini, maka wujudkan pada hidup dan kehidupan ini
Karena kita hidup berstatus sebagai umat manusia, maka hormatilah kemanusiaan
Hakekat hidup ini adalah keilahian, maka lakukan sifat-sifat ilahi dalam hidup ini
Hidup dalam jenis kehidupan sebagai manusia, mestinya hidup sangat manusiawi
Hidup berstatus manusia, seharusnya memenuhi standar kemanusiaan
Manusia yang kemanusiaannya manusiawi, akan meningkat menjadi keilahian
Brahmamuhurta Catur Dasi Krsna Paksa Magha Masa, Wrehaspati 14-01-2010
Eksistensi seluruh keberadaan ini, ada dan berada dalam kekuasaan Brahman
Hidup dan kehidupan jagat raya ini, ditunjang kesadaran Brahman
Hidup dan kehidupan ini, ditopang oleh kesadaran Brahman
Hidup dan kehidupan ini, dipelihara kesadaran Brahman
Kehidupan ini, berada dalam kesadaran Brahman
Essensi hidup adalah kesadaran Brahman
Inti hidup ini kesadaran Brahman
Jika napas alam ini terhenti sementara, maka kehidupan ini akan hancur lebur
Sirnanya alam semesta raya ini, akan meniadakan hidup dan kehidupan
Alam semesta raya ini, merupakan wujud hidup dan kehidupan
Alam semesta raya ini, adalah manifestasi dari Brahman
Alam semesta raya ini, ada dalam kuasa Brahman
Alam semesta raya ini, menjadi badan fisik Brahman
Kesadaran Brahman, tidak mengalami kematian dan kehancuran
Kesadaran Brahman masih akan tetap ada, manakala jagat raya ini hancur
Kesadaran Brahman masih akan tetap ada, dengan sirnanya hidup dan kehidupan
Kesadaran Brahman kekal dan abadi
Kesadaran Brahman adalah awal tanpa akhir
Kesadaran Brahman bertransformasi secara emanasi
Kesadaran Brahman menyebar dan meresapi keberadaan ini
Kesadaran Brahman bermanifestasi menjadi alam semesta raya ini
Kesadaran Brahman meresapi, menjiwai, dan menguasai, alam semesta raya ini
Ini
Hidup
Kehidupan
Hidup dan kehidupan
Hidup dan kehidupan jagat raya
Hidup dan kehidupan berwujud sebagai jagat raya
Hidup dan kehidupan berbentuk sebagai alam semesta raya
Hidup dan kehidupan ini adalah seluruh eksistensi keberadaan ini
Hidup dan kehidupan ini berawal dan berasal dari sumber yang tunggal
Hidup dan kehidupan ini terjadi, melalui transformasi kesadaran Brahman
Hidup dan kehidupan ini terjadi, berkat manifestasi dari kesadaran Brahman
Hidup dan kehidupan ini ada, karena lila atau kridha dari kesadaran Brahman
Hidup dan kehidupan ini terwujud, karena manifestasi dari kesadaran Brahman
Hidup dan kehidupan ini adalah cinta
Hidup dan kehidupan ini adalah kasih
Hidup dan kehidupan ini adalah sayang
Hidup dan kehidupan ini adalah pohon
Hidup dan kehidupan ini adalah buah
Hidup dan kehidupan ini adalah akibat
Hidup dan kehidupan ini adalah berkah
Hidup dan kehidupan ini adalah anugerah
Apabila napas alam terhenti sementara, maka napas badan akan terhenti selamanya
Jika napas badan terhenti sementara, maka napas alam akan tetap ada dan berjalan
Ketika napas alam terhenti selamanya, maka seluruh jagat raya akan sirna dan tiada
Manakala napas badan terhenti selamanya, maka keberadaan akan tetap eksis
Jika napas badan terhenti selamanya, maka badan ini akan kaku dan mati
Kematian pada badan ini, akan mempengaruhi hidup dan kehidupan
Walau badan ini mati, hidup dan kehidupan akan jalan dan berlanjut
Meskipun badan mengalami kematian, kesadaran ini akan tetap ada
Tatkala badan ditimpa kematian, atman akan tetap ada dan hidup
Walau badan telah mati dan hancur, kesadaran ini masih tetap ada
Meski badan telah sirna dan tiada, tetapi atman masih tetap eksis
Badan tidak menghidupi atman dan alam semesta raya ini
Justru terjadi sebaliknya, atman menghidupi badan ini
Badan sangat tergantung alam semesta raya ini
Badan ditopang oleh alam semesta raya ini
Badan ditunjang alam semesta raya ini
Badan hanya bagian kecil dari alam
Badan adalah debu bagi alam
Badan adalah tanah
Badan adalah air
Badan adalah api
Badan adalah udara
Badan adalah hampa
Badan hanyalah unsur
Badan hanyalah molekul
Badan hanyalah material
Badan hanyalah pradhana
Badan hanyalah baju atman
Badan hanyalah sthana atman
Bdan hanyalah wahana atman
Badan hanyalah kendaraan atman
Badan bersifat lembam dan acetana
Badan tersusun dari unsur sarining bumi
Badan terdiri dari unsur makanan dan minuman
Badan tersusun dari unsur-unsur panca mahabhuta
Saat badan mati, akan terurai lagi menjadi sarining bumi
Ketika badan hancur, kembali menjadi makanan dan minuman
Manakala badan terurai, akan kembali menjadi unsur panca mahabhuta
Manakala badan mati, terurai, dan tiada, atman masih eksis dan tetap ada
Hidup adalah inti dari kehidupan, maka hiduplah dalam dharma
Kesadaran adalah essensi dari hidup ini, maka sadarlah hidup sebagai manusia
Kemanusiaan adalah sifat hidup, maka berprilakulah manusiawi dalam hidup
Keilahian adalah hakekat hidup ini, maka wujudkan pada hidup dan kehidupan ini
Karena kita hidup berstatus sebagai umat manusia, maka hormatilah kemanusiaan
Hakekat hidup ini adalah keilahian, maka lakukan sifat-sifat ilahi dalam hidup ini
Hidup dalam jenis kehidupan sebagai manusia, mestinya hidup sangat manusiawi
Hidup berstatus manusia, seharusnya memenuhi standar kemanusiaan
Manusia yang kemanusiaannya manusiawi, akan meningkat menjadi keilahian
Brahmamuhurta Catur Dasi Krsna Paksa Magha Masa, Wrehaspati 14-01-2010
Menuju Kuil Terdalam
Salam Kasih
Waktu yang ditempuh perjalananku
Adalah panjang dan arahnya jauh...
Aku keluar dengan kereta tempur dalam pancaran sinar pertama
Dan meneruskan perjalananku
Melalui hutan belantara dunia
Meninggalkan jejakku pada bintang-bintang dan planet
Ini adalah jalan yang paling jauh
Yang datang paling dekat pada diriku sendiri
Dan latihan itu
Adalah paling berliku yang menuntun kepada kesederhanaan dari sebuah lagu
Sang pengembara
Harus mengetuk setiap pintu asing
Untuk datang pada pintunya sendiri
Dan seseorang harus mengembara
Melalui semua dunia luar
Untuk mencapai kuil terdalam
Pada akhir perjalanannya
Mataku berkeliaran
Jauh dan luas
Sebelum aku menutupnya dan berkata "Di sinilah kau!"
Pertanyaan dan teriakan....
Oh, dimana?
Melebur menjadi air mata dari seribu anak sungai
Dan menggenangi dunia dengan banjir kedamaian "Aku!"
karya: I Wayan Sudarma
Waktu yang ditempuh perjalananku
Adalah panjang dan arahnya jauh...
Aku keluar dengan kereta tempur dalam pancaran sinar pertama
Dan meneruskan perjalananku
Melalui hutan belantara dunia
Meninggalkan jejakku pada bintang-bintang dan planet
Ini adalah jalan yang paling jauh
Yang datang paling dekat pada diriku sendiri
Dan latihan itu
Adalah paling berliku yang menuntun kepada kesederhanaan dari sebuah lagu
Sang pengembara
Harus mengetuk setiap pintu asing
Untuk datang pada pintunya sendiri
Dan seseorang harus mengembara
Melalui semua dunia luar
Untuk mencapai kuil terdalam
Pada akhir perjalanannya
Mataku berkeliaran
Jauh dan luas
Sebelum aku menutupnya dan berkata "Di sinilah kau!"
Pertanyaan dan teriakan....
Oh, dimana?
Melebur menjadi air mata dari seribu anak sungai
Dan menggenangi dunia dengan banjir kedamaian "Aku!"
karya: I Wayan Sudarma
Untuk-Mulah Aku Menunggu
Salam Kasih
Di mana kau berdiri di belakang mereka semua
Kekasihku....!
Menyembunyikan dirimu sendiri dalam bayangan?
Mereka mendorongmu dan melewatimu di jalan yang berdebu
Menganggapmu bukan apa-apa
Aku menunggu di sini selama jam-jam yang meletihkan
Menyebarkan persembahanku untukmu
Sementara mereka yang lewat datang dan mengambil bunga-bungaku
Satu demi satu....dan
Keranjangku hampir kosong
Pagi hari telah lewat, juga siang
Dalam teduhnya malam mataku mengantuk
Para pria pulang ke rumah memandangku sekilas...dan
Tersenyum dan membuatku malu
Aku duduk seperti gadis pengemis
Menarik bajuku menutupi wajahku....dan
Ketika mereka menanyaiku
Apa yang aku inginkan?
Aku menundukkan pandanganku dan tidak menjawab
Oh...sungguh....
Bagaimana aku dapat memberitahu mereka
Bahwa untukmulah aku menunggu...dan
Bahwa kau telah berjanji akan datang
Bagaimana aku dapat mengucapkan dengan malu
Bahwa aku mendapat kemiskinan ini sebagai maharku
Ah.....aku memeluk kebanggan ini dalam kerahasiaan hatiku
Aku duduk di rumput....dan
Memandang langit ...dan
Memimpikan kedatanganmu yang tiba-tiba....dan
Megah kilat-kilat menyambar
Panji-panji keemasan beterbangan di atas keretamu...dan
Di tepi jalan mereka berdiri termangu
Ketika mereka melihatmu turun...
Dari tempat dudukmu untuk mengangkatku dari debu...dan
Mendudukkan di sampingmu pria peminta-minta yang compang camping ini
Yang gemetar oleh rasa malu...dan kebanggaan
Seperti penyelinap dalam angin sepoi musim panas.
karya: I Wayan Sudarma
Di mana kau berdiri di belakang mereka semua
Kekasihku....!
Menyembunyikan dirimu sendiri dalam bayangan?
Mereka mendorongmu dan melewatimu di jalan yang berdebu
Menganggapmu bukan apa-apa
Aku menunggu di sini selama jam-jam yang meletihkan
Menyebarkan persembahanku untukmu
Sementara mereka yang lewat datang dan mengambil bunga-bungaku
Satu demi satu....dan
Keranjangku hampir kosong
Pagi hari telah lewat, juga siang
Dalam teduhnya malam mataku mengantuk
Para pria pulang ke rumah memandangku sekilas...dan
Tersenyum dan membuatku malu
Aku duduk seperti gadis pengemis
Menarik bajuku menutupi wajahku....dan
Ketika mereka menanyaiku
Apa yang aku inginkan?
Aku menundukkan pandanganku dan tidak menjawab
Oh...sungguh....
Bagaimana aku dapat memberitahu mereka
Bahwa untukmulah aku menunggu...dan
Bahwa kau telah berjanji akan datang
Bagaimana aku dapat mengucapkan dengan malu
Bahwa aku mendapat kemiskinan ini sebagai maharku
Ah.....aku memeluk kebanggan ini dalam kerahasiaan hatiku
Aku duduk di rumput....dan
Memandang langit ...dan
Memimpikan kedatanganmu yang tiba-tiba....dan
Megah kilat-kilat menyambar
Panji-panji keemasan beterbangan di atas keretamu...dan
Di tepi jalan mereka berdiri termangu
Ketika mereka melihatmu turun...
Dari tempat dudukmu untuk mengangkatku dari debu...dan
Mendudukkan di sampingmu pria peminta-minta yang compang camping ini
Yang gemetar oleh rasa malu...dan kebanggaan
Seperti penyelinap dalam angin sepoi musim panas.
karya: I Wayan Sudarma
Kau Panggil Aku Kala Senja Sepi
Salam Kasih
Hari siang perlahan beranjak....lalu tak ada lagi
Bayangan di atas bumi
Sudah waktunya aku pergi
Ke sungai untuk mengisi kendi tabungan karmaku yang kian mengering
Udara malam riang bersama musik sedih air
Ah...ia memanggilku ke luar ke dalam senja
Di jalan yang kesepian tidak ada orang lewat
Angin betiup
Riak-riak merajalela di sungai
Aku tidak tahu...
Apakah aku akan kembali ke rumah?
Aku tidak tahu...
Siapa yang akan kebetulan ku temui....Di sana tempat yang dangkal?
Dalam perahu kecil orang tak dikenal sambil menorehkan pena asanya
~ I Wayan Sudarma
Dari catatan harianku 12 -12 2007
Hari siang perlahan beranjak....lalu tak ada lagi
Bayangan di atas bumi
Sudah waktunya aku pergi
Ke sungai untuk mengisi kendi tabungan karmaku yang kian mengering
Udara malam riang bersama musik sedih air
Ah...ia memanggilku ke luar ke dalam senja
Di jalan yang kesepian tidak ada orang lewat
Angin betiup
Riak-riak merajalela di sungai
Aku tidak tahu...
Apakah aku akan kembali ke rumah?
Aku tidak tahu...
Siapa yang akan kebetulan ku temui....Di sana tempat yang dangkal?
Dalam perahu kecil orang tak dikenal sambil menorehkan pena asanya
~ I Wayan Sudarma
Dari catatan harianku 12 -12 2007
Monday, October 18, 2010
Hadir-Mu Samar di Udara Wangi
Salam Kasih
Aku tidak tahu
Dari jarak waktu apa kau akan datang
Lebih dekat untuk bertemu denganku
Matahari dan bintang-bintangmu
Tak pernah dapat membuatmu tersembunyi dariku
Dalam banyak pagi dan malam
langkah-langkah kakimu telah terdengar...dan
Pembawa beritamu telah datang ke dalam hatiku...dan
memanggilku diam-diam
Aku tidak tahu
Hanya kenapa hari ini hidupku semua bergolak
Dan perasaan riang yang gemetar melintas melalui hatiku
Seakan-akan waktu datang
Untuk menyudahi pekerjaanku
Dan aku merasakan di udara wangi
samar-samar dari kehadiranmu yang manis.
oleh: I Wayan Sudarma
Aku tidak tahu
Dari jarak waktu apa kau akan datang
Lebih dekat untuk bertemu denganku
Matahari dan bintang-bintangmu
Tak pernah dapat membuatmu tersembunyi dariku
Dalam banyak pagi dan malam
langkah-langkah kakimu telah terdengar...dan
Pembawa beritamu telah datang ke dalam hatiku...dan
memanggilku diam-diam
Aku tidak tahu
Hanya kenapa hari ini hidupku semua bergolak
Dan perasaan riang yang gemetar melintas melalui hatiku
Seakan-akan waktu datang
Untuk menyudahi pekerjaanku
Dan aku merasakan di udara wangi
samar-samar dari kehadiranmu yang manis.
oleh: I Wayan Sudarma
Subscribe to:
Posts (Atom)