Saturday, November 23, 2019

Makna Filosofi Penggunaan Busana Adat Bali Ke Pura


Om Swastyastu

Mutiara Dharma:
 "Nilai dari 'diri' ada pada bibir, sedangkan nilai dari 'raga' ada pada pakaian. Jadi berhati-hatilah, eling dalam berwacana demikian pula pandai-pandailah menempatkan diri dalam cara berbusana".
(I Wayan Sudarma)

Dewasa ini globalisasi sangat mempengaruhi jaman. Segala aspek menjadi berubah akibat dari arus globalisasi. Termasuk etika dalam menggunakan busana adat Bali. Sejak dahulu hingga sekarang busana adat Bali selalu berubah sesuai perkembangan jaman. Seharusnya dalam menggunakan busana adat Bali terutama untuk persembahyangan disesuaikan dengan tata cara yang berlaku.

Namun dewasa ini para umat Hindu terutama para remaja dalam menggunakan busana adat terkadang diluar jalur kesopanan. Belum mengerti akan makna dari busana adat Bali kita. Untuk itu agar tidak terus­ menerus keliru, ijinkan kami berbagai kepada masyarakat secara umum tentang tatwa dalam berbusana adat Bali.

Manusia sebenarnya sudah terlahir sebagai makhluk yang suci. Jadi sebenarnya secara logika, kita sembahyang telanjang bulat pun tidak masalah. Lalu mengapa harus berbusana?

Dalam Sarasamuscaya, sloka 82 dijelaskan :
SARVAM PASYATI CAKSUSMAN MANOYUKTENA CAKSUSA, MANASI VYAKULE JATE PASYANNAPI NA PASYATI
Artinya :
Mata dikatakan dapat melihat berbagai benda, tiada lain sebenarnya pikiranlah yang menyertai mata, sehingga jika pikiran bingung maka nafsulah yang menguasai; maka pikiranlah yang memegang peranan utama.

Pikiran yang akan mengantarkan sembah bhakti kita kepada Hyang Widhi, Jika dalam persembahyangan pikiran terfokus pada Hyang Widhi, maka sembah bhakti kita akan sampai pada-Nya, namun jika pikiran terpusat pada yang tidak patut, maka kesanalah angan kita dibawa.


Pakaian itu diciptakan dengan tujuan untuk menutupi badan, dan busana merupakan salah satu bagian dari alat upacara.
Manusia menciptakan sarana upakara dengan tujuan kita bisa lebih memahami ajaran agama kita.

Dasar konsep dari Busana adat Bali adalah konsep Tapak Dara (swastika).
Tubuh manusia dibagi menjadi tiga yang disebut dengan Tri Angga, yang terdiri dari:
• Dewa Angga : dari leher ke kepala
• Manusa angga : dari atas pusar sampai leher
• Butha Angga : dari pusar sampai bawah

Pada saat manusia tidak berbusana adat, tubuh manusia masih suci, belum dibagi­bagi menurut konsep Tri Angga berlaku.
Konsep ini baru terbentuk ketika manusia sudah berbusana adat. Sebenarnya tidak ada lontar­ lontar yang menunjukkan tentang busana adat Bali.
Namun secara estetika busana adat Bali dibagi tiga yaitu:
•Busana adat Alit : digunakan sehari, ngayah, dan tidak digunakan untuk persembahyangan (busana adat yang belum lengkap)
•Busana adat Madya : digunakan untuk persembahyangan (secara filosofis sudah lengkap)
•Busana adat Agung : untuk upacara pernikahan/pawiwahan (sudah lengkap termasuk aksesoris)

**Makna busana adat ke Pura untuk Putra
Dalam menggunakan busana adat Bali diawali dengan menggunakan kamen. Lipatan kain/kamen (wastra) putra melingkar dari kiri ke kanan karena laki­laki merupakan pemegang dharma.

Tinggi kamen putra kira­kira sejengkal dari telapak kaki karena putra sebagai penanggung jawab dharma harus melangkah dengan panjang.
Tetapi harus tetap melihat tempat yang dipijak adalah dharma.

Pada putra menggunakan kancut (lelancingan) dengan ujung yang lancip dan sebaiknya menyentuh tanah (menyapuh jagat), ujungnya yang kebawah sebagai symbol penghormatan terhadap Ibu Pertiwi. Kancut juga merupakan symbol kejantanan.

Untuk persembahyangan, sepatutnya kita tidak menunjukkan kejantanan kita, yang berarti pengendalian, tetapi pada saat ngayah kejantanan itu boleh kita tunjukkan.
Untuk menutup kejantanan itu maka kita tutup dengan saputan (kampuh). Tinggi saputan kira kira satu jengkal dari ujung kamen.
Selain untuk menutupi kejantanan, saputan juga berfungsi sebagi penghadang musuh dari luar.

Saput melingkar berlawanan arah jarum jam (prasawya). Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan selendang kecil (umpal) yang bermakna kita sudah mengendalikan hal­hal buruk. Pada saat inilah tubuh manusia sudah terbagi dua yaitu Butha Angga dan Manusa Angga.

Penggunaan umpal diikat menggunakan simpul hidup di sebelah kanan sebagai symbol pengendalian emosi dan menyama.

Pada saat putra memakai baju, umpal harus terlihat sedikit agar kita pada saat kondisi apapun siap memegang teguh dharma.

Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan baju (kwaca) dengan syarat bersih, rapi dan sopan. Baju pada busana adat terus berubah­rubah sesuai dengan perkembangan.

Pada saat ke pura kita sepatutnya menunjukkan rasa syukur kita, rasa syukur tersebut diwujudkan dengan membersihkan dan memperindah diri.

Kemudian dilanjutkan dengan penggunakan udeng (destar).
Udeng secara umum dibagi tiga yaitu
*udeng jejateran (udeng untuk persembahyangan) *udeng dara kepak (dipakai oleh raja)
*udeng beblatukan (dipakai oleh pemangku).

Pada udeng jejateran menggunakan simpul hidup di depan, disela­sela mata. Sebagai lambang cundamani atau mata ketiga, pemusatan pikiran.

Dengan ujung menghadap keatas sebagai symbol penghormatan pada Sang Hyang Aji Akasa.

Udeng jejateran memiliki dua bebidakan yaitu sebelah kanan lebih tinggi, dan sbelah kiri lebih rendah yang berarti kita harus mengutamakan Dharma.

Bebidakan yang dikiri symbol Dewa Brahma, yang kanan symbol Dewa Siwa, dan simpul hidup melambangkan Dewa Wisnu.

Pada udeng jejateran bagian atas kepala atau rambut tidak tertutupi yang berarti kita masih brahmacari dah masih meminta.
Sedangkan pada udeng dara kepak, masih ada bebidakan tepai ada tambahan penutup kepala yang berarti symbol pemimpin yang selalu melindungi masyarakatnya dan pemusatan kecerdasan.

Sedangkan pada udeng beblatukan tidak ada bebidakan, hanya ada penutup kepala dan simpulnya di belakang dengan diikat kebawah sebagai symbol lebih mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.

**Makna busana adat ke Pura untuk Putri
Sama seperti busana adat putra, pertama diawali dengan menggunakan kamen.
Lipatan kain/kamen melingkar dari kanan ke kiri karena sesuai dengan konsep sakti.

Putri sebagai sakti bertugas merawat dan menjaga agar si laki­laki tidak melenceng dari ajaran dharma.

Tinggi kamen putri kira­ kira setelapak tangan karena pekerjaan putri sebagai sakti itu sangat banyak jadi putri melangkah lebih pendek.

Setelah menggunakan kamen untuk putri memakai bulang yang berfungsi untuk menjaga rahim, dan mengendalikan emosi.

Pada putri menggunakan selendang/senteng dikiat menggunakan simpul hidup di kiri yang berarti sebagai sakti dan mebraya. Putri memakai selendang di luar, tidak tertutupi oleh baju, agar selalu siap membenahi putra pada saat melenceng dari ajaran dharma.

Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan baju (kebaya) dengan syarat bersih, rapi, dan sopan. Penggunaannya sama seperti baju pada putra. Kemudian dilanjutkan dengan menghias rambut.

Pada putri rambut dihias dengan pepusungan. Secara umum ada tiga pusungan yaitu
*pusung gonjer untuk putri yang masih lajang/belum menikah sebagai lambang putri tersebut masih bebas memilih dan dipih pasangannya. Pusung gonjer dibuat dengan cara rambut di lipat sebagian dan sebagian lagi di gerai. Pusung gonjer juga sebagai symbol keindahan sebagai mahkota dan sebagai stana Tri Murti.
*pusung tagel adalah untuk putri yang sudah menikah.
*pusung podgala/pusung kekupu, dipakai oleh peranda istri. Ada tiga bunga yang di pakai yaitu cempaka putih, cempaka kuning, sandat sebagai lambing dewa Tri Murti.

Dari uraian diatas, saat kita akan bersembahyang di pura, yang kita mulai dari bawah, mengingatkan akan bakti kepada Ibu Pertiwi. Kita rapikan dan kendalikan dahulu dari bawah lalu ke atas, menyiratkan bakti kita kepada Bapa Akasa. Dengan menghayati uraian diatas hendaknya kita bisa mewujudkan dalam keseharian, perwujudan suci kita berpakaian, berbusana menghaturkan rasa bakti kita kepada Ida Sang Hyang Widhi.

Semoga kita dapat memahami keindahan tata cara memasuki pura agar kita dapat merawat dan menjaga kesucian pura itu sendiri.
Dan dalam etika berbusana semestinya mengikuti norma-norma susila, etika, dan pertimbangan yang bijaksana.

Om Santih Santih Santih Om
⚘ I Wayan Sudarma

Setiap Hal Adalah Unik dan Special

Om Swastyastu

"...De gati nyikut baju anak di awake..."
Begitu tetua Bali menyarankan: "Jangan mengukur baju orang lain di badan sendiri”

Maksudnya janganlah menetapkan sesuatu tentang orang lain dengan membandingkan dan mengukurnya dengan ukuran kita sendiri. Janganlah menghakimi perbuatan orang lain berdasarkan sebatas pengetahuan atau pemahaman kita sendiri.
Lagian, penghakiman, lebih menunjukkan kualitas orang yang menghakimi dibandingkan dengan orang yang dihakimi.

Setiap insan adalah unik….hal ini disebabkan karena beberapa alasan; setiap insan membawa karmanya masing-masing, secara genitas kita memang berbeda, lingkungan hidup juga tak kalah penting dalam mempengaruhi pola pikir, tata ucap dan prilaku kita, sumber hidup (makan, minum, sandang); bagaimana kita mendapatkan semua itu juga berkontribusi besar dalam hidup ini, pendidikan, dan tentunya adalah kesempatan itu sendiri.
Namun apapun itu, yang pasti setiap insan memang unik…karena keunikannya inilah kita tidak bisa memperlakukan mereka secara sama, setiap insan harus didekati dengan cara yang berbeda pula ….istilah ngetrennya “One Man One Method”

Photo: Bersama Guru-Guru di Lereng Lempuyang

Setiap insan tidak ada memiliki pikiran yang sama…karena itulah secara rohani setiap insan memang berbeda.
Setiap insan secara phisik berbeda…tak ada rupa manusia yang sama….karena ia merupakan hasil ‘kelonan’ bukan hasil ‘kloningan’….makanya menjadi diri sendiri adalah yang terbaik…

Keinginan meniru untuk menjadi orang lain atau membandingkan diri kita dengan yang lain, bahkan menghakimi orang lain hanya akan berakhir pada kesia-siaan…
Photo: Bersama Saudara Se-Nusantara

Renungkan bahwa setiap insan digerakkan oleh sumber yang sama yakni ATMAN. 
Jika kita kembali ke esensi yang paling hakiki ini….kita akan selalu mendapati bahwa perbedaan nama, rupa, profesi, dan kedudukan sebagai sebuah kebenaran.

Karena ternyata memang hanya perbedaan itulah kebenaran.  Tuhan Yang Maha Esa menciptakan perbedaan agar kita dapat saling melengkapi dan menjalin komunikasi dengan yang lain.

Eling di perjalanan kehidupan merawat ukuran diri sendiri dan memahami ukuran yang lain dengan ketulusan kasih sayang.

Om Santih Santih Santih Om
⚘I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

Wednesday, November 20, 2019

RAME-RAME (Menyama Braya)

Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu
Merdah: "Nang....Icang kar metakon ken Nanang, kene Nang....apa manfaat dari hidup gotong royong, bersama-sama saling asah-asih asuh...??"
Tualen: "Beh....melah sajan petakon caine.....kene tho Dah....ne Nanang memberi cai Pratiwimba alias Example....!"

Tualen pun mulai bercerita....

Kene Tho Dah....Kenapa hujan itu menyenangkan ?
Karena turunnya rame-rame ...
Pasti sepi kalau hujan itu turunnya hanya satu.

Kenapa nasi itu lezat dan mengenyangkan?
Karena dihidangkan rame-rame ...
Pasti bengong kalau hanya satu butir saja di atas piring.

Kenapa gigi itu berguna?
Karena rame-rame berbaris rapi.
Pasti ompong nyebutnya kalau cuma satu. Tidak bisa buat mengunyah.

.......Dan ...Sejatinya,
Di dunia ini sesuatu yang positif selalu spesial saat rame-rame atau bersama-sama dilakukan.
Itu makanya....Gotong royong, rame-rame tentu lebih oke.....
Belajar, rame-rame saling bantu lebih banyak yang dipelajari.
Bekerja, rame-rame saling tolong menolong lebih cepat selesai.
Itulah gunanya teman-teman terbaik.
Teman-teman yang saling menasehati dan mengingatkan.
Rame-rame atau bersama-sama selalu menjadi lebih seru.

Kenapa keyboard laptop atau HP harus lengkap ?
Karena hilang satu saja, rasanya tidak utuh lagi.
Begitulah pertemanan yang baik.
Hilang satu, terasa kosong semuanya.
Rame-rame atau bersama-sama selalu lebih menyenangkan.

Tetap berada dalam pertemanan itu lebih baik, daripada sendirian.

Saudaraku
Semoga hari ini semua bersukacita menikmati hidup ini.

Tetap bertahan dalam indahnya kebersamaan dan kebaikan.
Nah...amonto Nanang ngasi Cai pratiwimba pang Cai sayan tatas betapa pentingnya hidup Menyama Braya, saling pekedek pekenyem...saling tulungin, saling asah-asih-asuh.....
Merdah: "Buihhh....luwih gati yen idupe setata guyub....suksma Nang, icang kar megae malu....!" Bye Nang....:) :)

Rahajeng Siang semeton Dumay....
Om Santih Santih Santih Om
19 November 2019

Sunday, October 20, 2019

Menginstal 4G Network Dalam Kehidupan


Om Swastyastu

"Gītā Gangga ca gayatre, 
govindeti hrdhi sthite, 
catur gakara samyukte, 
punar-janma na vidyate" (Mahabharata, Bhishma parva, 40.78)

Artinya:
"Seseorang yang merenungkan dan mengidungkan (penuh bhakti 4G ('ga' kara) di dalam hatinya empat hal yaitu, Gita (Kitab Suci), sungai suci Gangga,  mantra Gayatri dan Tuhan Govinda, tidak ada lagi kelahiran baginya."

"One who installs in his heart the four things 'ga' kara (4G) namely  the Gītā, the holy river Gangga, Gayatri mantra and Lord Govinda, there is no more birth for him."

Hidup kita saat ini sangat singkat, kematian tidak pernah memberitahu, berkirim WA, email, SMS. Maka ada hal sederhana tetapi Uttama yang bisa kita lakukan dalam rangka menyiapkan, mengisi diri di era yang serba cepat ini, yakni dengan Meng-instal 4G ( catur ga kara), yang direkomendasikan oleh Veda, agat kita memiliki kesempatan mencapai kesujatian bahkan Pembebasan dari lingkaran ikatan Samsara, yakni:
1. Setiap saat  membaca/melantunkan Bhagavadgīta dan pustaka suci Veda lainnya.
2. Menyucikan diri melalui tirta suci Gangga dan merenungkan Gangga pada tiap kali kita menikmati air dalam kehidupan, seperti saat minum, saat melukat/mandi, dan lain sebagainya. Gangga juga bermakna setiap hari menyucikan diri melalui Tirtha Gocara (memuja Tuhan  melalui persembahyanfan seraya memohon  Tirtha Amertha).
3. Mengucapkan Gayatri Mantram secara rutin penuh bhakti.
4. Mengidungkan nama-nama suci Tuhan  melalui praktik namasmaranam atau berjapa.

Ke-4 formula ini mulai dari diri sendiri mulai saat ini mesti menjadi menu wajib bagi kita, jika kita menginginkan pembebasan (punar-janma).


Di era teknologi IT sekarang bukan saja cukup memiliki HP berteknologi 4G, tapi hidup kita juga wajib memiliki design hidup berteknologi 4G (Catur 'Ga' Kara)

Demikian yang dapat saya jelaskan secara singkat, semoga bermanfaat bagi kita semua. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om
🙏 I Wayan Sudarma

Pesan Semesta

Om Swastyastu
Orang yang telah memiliki tingkat kesadaran kosmis, ia akan mampu bertanya kepada ombak dan matahari walaupun ia nampak bisu. 


Tetapi rumput yang bergoyang mampu memberikan isyarat bahwa udara dari suatu tempat sedang migran ke tempat lainnya.

Itulah wujud fisik dari bahasa alam yang harus dipahami oleh manusia agar manusia mampu berkomunikasi dengan alam.
Om Santih Santih Santih Om
🙏 I Wayan Sudarma

Alasan Uttama Meraih Kekakayaan

Om Swastyastu
"Setiap manusia diberi anugerah yang berbeda-beda yang disebut: 'beda-beda panduming dumadi', sementara KESADARAN menerima perbedaan tersebut dinamakan 'narima ing pandum'.


Dengan demikian kita sudah sepatutnya; 'Tidak mengatakan ini milikmu dan itu milikku', tetapi katakan saja, 'ini datang padamu dan itu datang padaku', sehingga
kita tidak akan menyesal kehilangan kemilau dari semua benda megah yang telah lenyap'.

Itu sebabnya Susastra Veda menyatakan demikian alasan utama seseorang dalam meraih kekakayaan, yakni: 'Kekayaan yang
diperoleh karena bekerja dengan giat, dikumpulkan dengan kekuatan tangan & cucuran keringat sendiri dengan landasan Dharma (Kebenaran), dimanfaatkan untuk menyenangkan & mempertahankan kebahagiaan dirinya sendiri, untuk memelihara & membuat
orangtua & Keluarganya bahagia;
membahagiakan para karyawan & anak buahnya, dan demi kesejahteraan bersama (masyarakat). Inilah alasan pertama untuk
mengejar KEKAYAAN'.

Om Santih Santih Santih Om
❤ I Wayan Sudarma
#CatatanpinggirJalan
#percikandharma
Purwani Purnama Sasih Kapat 2019

Stempel Devata

Stempel Devata

Om Swastyastu
"...Sebongkah batu biasa, tdk ada harganya bagi Anda & Anda bisa saja mencampakkannya. Tetapi apabila Anda memandang sebuah arca (murti) batu deva Siva atau sebuah arca devata lainnya, atau simbol Tuhan lainnya di tempat suci; Anda membungkukkan kepala, mencakupkan tangan, karena ada "STEMPEL DEVATA atau manifestasi TUHAN" pada benda tersebut..."

Sepotong kertas putih biasa atau kertas berwarna lainnya, tidak memiliki nilai apapun dan kita mungkin akan melemparkannya. Tetapi bila ada stempel atau cap pemerintah pada kertas tersebut, misalnya sebagai alat pembayaran yang sah, tentu kita menyimpannya dengan hati-hati di dalam saku atau kotak uang.....


Kekuatan keyakinan mengalahkan segalanya, bagi orang yang yakin mereka akan melakukan banyak hal untuk menghormati atau mengagungkan apa yang diyakini, tapi beda yang tidak meyakini akan menyebut "just decorations"

disamping keyakinan...kenyataaan juga akan mengajarkan kita banyak hal untuk menerima sesuatu itu bukan saja semata-mata karena yang tampak secara kasat mata....tapi juga karena sesuatu yang menjadikan sesuatu itu menjadi 'special'.....

hanya karena keterbatasan Indera kitalah yang membedakan semua penampakan ini-jika ditelusuri maka akan kita temukan jawabannya: "All in God n God in All" atau " All is God n God is All"
Rahayu
Om Santih Santih Santih Om
🙏 I Wayan Sudarma

KEBERADAAN

Om Swastyastu

"Na avastunah vastu-siddhih; A thing cannot be produced. from nothing; Sebuah keberadaan tidak dapat tercipta dari ketidakberadaan" (Samkhya I.78)

KAU ada di setiap langkah kakiku
KAU hadir di setiap detik waktuku
KAU menyatu disetiap tarikan nafasku
KAU bergema disetiap denyut otakku
KAU mengalir di setiap mili darahku
KAU bergerak di setiap detak jantungku
KAU ada karena aku ada karena KAU ada

Tanpa keberadaanNya kita tidak memiliki eksistensi, dan tanpa kita maka eksistensiNya pun siapa yang mengakui?.
Tanpa keberdaan mahluk lain (baik yang bergerak maupun tidak bergerak) maka kita juga tidak punya eksistensi, makanya menghargai-menghormati dan menjaga keberadaan mahluk lain semata-mata agar kita punya eksistensi

Bagi manusia yang sadar ia tidak akan pernah kehilangan kemanusiaannya walau ia hidup sendiri di tengah hutan, banyak para sidha/yogi menghabiskan dirinya sendiri tanpa manusia lainnya dan tidak kehilangan kemanusiaannya, mengapa karena ia tidak saja belajar dari manusia melainkan dari semua yang ada disekitarnya.

Saat ini kita sudah bergaul dengan manusia lainnya, dengan alam, dan keberadaan mahluk lainnya, apa yang terjadi?, Apakah kita mejadi lebih manusiawi? (Silahkan renungkan dan Jawab Sendiri!)


Patut direnungkan kembali-lagi dan lagi, bahwasanya Hidup ini adalah perjuangan dari sekian banyak kelahiran dari berbagai level kehidupan, jadi bukan semata-mata anugrah. Namun demikian kita memang harus selalu berterimakasih/bersyukur karena diberi hidup menjadi manusia yang diberikan kelebihan berupa daya pemilah dan pemilih berupa budhi dan manah, tapi ucapanTERIMA KASIH belumlah cukup, harus ditambah dengan kata MAAF: berani meminta maaf atas segala kesalahan baik yang disengaja maupun yang berasal dari luar kesadaran kita, dan mau dan mampu memaafkan kesalahan yang lainnya. Yang berikutnya adalah TOLONG; hidup tidak bisa sendiri jadi mintalah tolong kepada mahluk lain dan tolong juga mahluk yang lain dengan kasih, dan yang tidak kalah penting adalah pakai ketiga hal tersebut: TERIMA KASIH, MAAF dan TOLONG dengan mengunakan HATI NURANI, bukan saja memakai otak, apalagi otot dan kekuasaan.

Keberlangsungan sebuah eksistensi bergantung pada kemampuan masing-masing menjaga Relasi, baik dalam tataran ideasi, ucapan dan tindakan. Semoga bermanfaat. Manggalamastu.⚘

Om Santih Santih Santih
Rahayu 🙏
~I Wayan Sudarma

Saturday, July 20, 2019

KEJAMNYA RAJA PISUNA (FITNAH)

Om Swastyastu

Seorang murid meminta maaf kepada gurunya yang telah difitnahnya.
Mendengar itu Sang guru hanya tersenyum sambil bertanya: "Apa kau serius?"

"Saya serius, Guru" jawab sang Murid.

Guru terdiam sejenak, Lalu bertanya: "Apakah kamu punya sebuah kemoceng ?"

"Ya Guru, saya punya. Apa yang harus saya lakukan dengan kemoceng itu?"

"Berjalanlah Berkeliling lapangan sambil mencabuti bulu-bulu kemoceng itu. Setiap kali kamu mencabut sehelai bulu, ingat-ingat perkataan burukmu tentang aku, lalu jatuhkan di jalanan yang kamu lalui".

Esoknya, sang murid menemui Guru dengan sebuah kemoceng yang sudah tak memiliki sehelai bulu pun.

"Guru... bulu-bulu kemoceng ini sudah saya jatuhkan satu per satu sepanjang perjalanan. Saya berjalan lebih dari tiga kilo sambil mengingat semua perkataan buruk saya tentang Guru. Maafkan saya, Guru...."

Sang Guru terdiam sejenak, lalu berkata: "Kini pulanglah dengan kembali berjalan kaki dan menempuh jalan yang tadi kamu lalui. Di sepanjang jalan kepulanganmu, pungutlah kembali bulu-bulu kemoceng yang tadi kau cabuti satu per satu. Esok hari, laporkan kepadaku berapa banyak bulu yang bisa kamu kumpulkan".

Sepanjang perjalanan pulang, sang murid berusaha menemukan bulu-bulu kemoceng yang tadi dilepaskan di sepanjang jalan. Hari yang terik. Perjalanan yang melelahkan. Betapa sulit menemukan bulu-bulu itu. Bulu-bulu itu tentu saja telah tertiup angin, atau menempel di bangunan-bangunan Atau tersapu ke tempat yang kini tak mungkin ia ketahui. Sang murid terus berjalan berjam-jam, dengan pakaian yang dibasahi keringat. Nafasnya terasa berat. Tenggorokannya kering. Hanya lima helai bulu kemoceng yang berhasil ditemukan di sepanjang perjalanan.

Hari berikutnya sang murid menemui Sang Guru dengan wajah yang murung. "Guru, hanya ini yang berhasil saya temukan." Disodorkannya lima bulu kemoceng ke hadapan sang Guru.

"Kini kamu telah belajar sesuatu," kata sang Guru.

"Apa yang telah aku pelajari, Guru?"

"Tentang fitnah-fitnah itu," jawab Sang Guru.

"Bulu-bulu yang kamu cabuti dan kamu jatuhkan sepanjang perjalanan adalah fitnah-fitnah yang kamu
 

sebarkan. Mereka dibawa angin ke mana saja, ke berbagai tempat yang tak bisa kamu duga, itu telah menjadi dosa yang terus beranak-pinak tak ada ujungnya. Meskipun aku atau siapa pun saja yang kamu fitnah telah memaafkanmu sepenuh hati, fitnah-fitnah itu terus mengalir hingga kau tak bisa membayangkan ujung dari semuanya."

"Bahkan meskipun kau telah meninggal dunia, fitnah-fitnah itu terus hidup karena angin waktu telah membuatnya abadi. Maka kamu tak bisa menghitung lagi berapa banyak fitnah-fitnah itu telah memberatkan timbangan keburukanmu kelak".

Itulah sebabnya kenapa tak salah para tetua kita berujar: "FITNAH ITU LEBIH KEJAM DARI PEMBUNUHAN".
Semoga bermanfaat bagi kita semua.
 Om Santih Santih Santih Om
~I Wayan Sudarma


Wednesday, June 26, 2019

VEDA Mengajarkan Kesederajatan Antara Semua Mahluk Hidup dan Cinta Kasih Sesama

Om Swastyastu




Oleh: I Wayan Sudarma





Dalam upanisad Brahman, Tuhan, ada di dalam seluruh ciptaannya. Dengan  demikian setiap ciptaan, khususnya semua mahluk  hidup terutama manusia mengandung kesucian Tuhan (Brahman) di dalam diri setiap mahluk  hidup, yang sering kita sebut dengan atman (percikan terkecil  dari parama Atman/ Brahman  itu sendiri). Sehingga Veda mengajarkan setiap umatnya untuk saling mengasihi khususnya setiap mahluk  hidup baik itu hewan, tumbuhan dan alam sekitar. Filosopi veda berputar di sekitar persaudaraan dan dan kesederajatan. Tidak ada istilah dalam Veda mengenai konsep penggolongan  manusia menjadi manusia yang beriman dengan manusia kar,  agama langit dan bumi, system jithad, perang suci, ada tuan ada budak  dan lain sebagainya yang menggolongkan manusia untuk membedakan antara yang satu dengan yang lainnya. Ajaran dalam Veda tidak menggolongkan manusia atau agama seperti itu, seperti halnya apakah sinar Matahari hanya  menyinari orang  orang  atau golongan tertentu yang layak untuk disinari, akan tetapi sinar matahari tidak memandang siapa yang akan  disinari olehnya bahkan ia tidak memalingkan sinarnya dari kotoran sekalipun. Serta  alam ini memperlakukan semuannya sama, apakah dia coklat  atau hijau ataupun hitam, tinggi atau rendah, Tuhan (Sang Hyang Widhi) telah  menetapkan cara  yang sama bagi kelahiran dan kematian semua manusia di atas bumi ini. Semua jiwa adalah sederajat seperti bunyi seloka dalam Bhagawad Gita dan Rgveda  berikut;



“Samo ham sarvo bhutesu na me devasyo stina pryah

Ye bhajanti tu man  bhaktya mayite  tesu ca pyaham” (Bhagawad Gita IX.29).



Artinya: Aku adalah sama bagi semua mahluk, bagi-Ku tidak ada yang terbenci dan terkasihi, namun bagi yang berbhakti dengan penuh dedikasi, mereka ada pada-Ku dan Aku ada pada mereka.



Hendaknya hati kita dalam kesederajatan dan persatuan. (Rgveda 10.191.4).



Dari sloka di atas, yang dikutip melalui pustaka suci/ kitab Bhagawad Gita dan Rgveda  adalah gambaran sempurna dari sifat dan prinsip Tuhan (Brahman) Hindu. Tuhan ini, Tuhan  yang bukanlah Tuhan yang hanya  duduk di singgasana di sebuah lapisan langit dengan cambuk api di satu tangan dan hadiah di tangan yang lainnya, dimana ia akan  siap mengayunkan cambuknya pada siapa yang tidak percaya kepadanya atau sebaliknya menghambur hadiah penuh kenikmatan kepada mereka yang memujanya.



Hindu terbebas dari doktrin seperti ini yang dapat mengakibatkan timbulnya suatu kebencian di antara manusia dan bertindak “mengatas namakan Tuhan atau agama”. Konsep Veda juga banyak mengajarkan mengenai persaudaraan antara umat manusia, menurut filosofi Veda, seluruh manusia di atas bumi adalah bersaudara satu sama lain. Sang Hyang Widhi adalah ibaratkan ayah yang baik hati bagi semua. Di mata Ida Sang Hyang Widhi Wasa tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah. Dia memperlakukan semua sama menganugrahkan kebahagiaan suci dan rasa syukur kepada semua, tidak peduli suku bangsa, warna  kulit dan keyakinan, sebab veda mengajarkan banyak  jalan untuk menuju jalan-Nya itu seperti yang tertuang dalam Bhagawad Gita dijelaskan;



“ye yatha  mam prapadyante tamstathaiva bhajamy aham,

Mama  vartmanuvartante manusyah partha sarvasyah” (Bhagawad Gita IV.11)



Artinya: Jalan apapun orang  memuja-Ku, pada jalan yang sama

Aku memenuhi keinginannya, Wahai  partha, karena semua jalan yang ditempuh mereka semua adalah jalan-Ku.



Maka ajaran Hindu tidak menekankan umatnya untuk “harus” ada satu jalan yang benar tetapi umat Hindu bebas memilih jalannya msing masing sesuai dengan kemampuan dan keyakinannya, “jalan” dalam artian disini kaitannya dengan Catur Marga Yoga yang meliputi, Jnana Marga Yoga, Bhakti Marga Yoga,Karma Marya Yoga dan Raja Marga Yogadengan latihan atau disiplin  astangga yoga.  Sehingga dari pada itu mengenai persaudaraan, ajaran Veda didasarkan atas persaudaraan yang universal. Seluruh  manusia memi‐ liki hak yang sama di atas bumi, semunya milik alam semesta dan alam semesta milik semuanya. Bila alam baik ke pada semua, mangapa manusia membenci satu sama lainnya atas dalih perbedaan agama?



Karenyanya Veda secara empatik mendorong seluruh manusia di atas bumi untuk mencintai satu sama lainnya dari lubuk hatinya seperti yang dinyatakan dalam kitab Atharvaveda sebagai berikut ;



“cintai satu sama lain seperti  sapi mencintai anaknya yang baru lahir” (Atharvaveda 3.30.1)



Konsep veda juga banyak  mengajarkan danmenekankan bahwa jiwa dari semua orang, burung, binatang buas dan serangga memiliki sinar suci yang sama. Tidak ada satupun yang kosong dari kemurnian hati, keagungan dan kemulian Sang Hyang Widhi. Seluruh  mahluk  berasal dari Sang Paramatman (mahluk  utama, supreme being) yang adalah ayah bagi semua anak aanak-Nya. Bila demikian halnya, mengapa semua manusia saling menghina satu sama lain? Ida Sang Hyang Widhi menyusupi segala mahluk hidup, apakah tinggi atau rendah, pendosa atau suci, dan juga  Hindu tidak membatasi Tuhan  hanya  ada di suatu tempat yang jauh dari jangkauan manusia atau yang duduk disinggasananya yang megah, dalam ajaran veda Tuhan  mengisi ruang  dan waktu dan menyusupi semua mahluk  hidup yang ada seperti dijeaskan dalam kitab Yajur Veda sebagai berikut;



Dia yang menyusupi segalanya meliputi seluruh mahluk di dalam maupun di luar” (Yajurveda 32.8)



Di dalam memahami filsafat emas yang di sebutkan di atas mengenai kemahahadiran Tuhan  dan menyadari kilatan cahaya sang Hyang Widhi dalam semua mahluk di atas bumi, tidak akan  membenci mahluk lain apapun. Dia yang matanya melihat pada semua orang  sebagai saudara yang sederajat yang memiliki percikan suci yang sama, yang dia rasakan dalam dirinya sendiri, bebas dari kebencian, kedengkian

dan fanatisme. Mantram Yajurveda berikut ini menjelaskan ide tersebut :



“Dia yang melihat seluruh mahluk dalam dirinya sendiri dan menemukan refleksi dari dirinya sendiri dalam semua mahluk tidak pernah memandang rendah siapapun” (Yajurveda 40.6)



Jadi sudah jelas bahwa Filosofi Hindu (Filosofi Veda) bergantung atas kesederajatan dan persaudaraan. Ia didasarkan atas persaudaraan universal-persaudaraan bukan  hanya  antara orang  orang  Hindu saja tetapi seluruh manusia di atas bumi, karena semua hati adalah singgasana dari Yang Mahakuasa.



“O Arjuna, Sang Hyang paramatma tinggal dalam hati semua mahluk  hidup” (Bhagavad Gita 18.6).



Sehingga banyak  para sarjana barat mengemukakan kekagumannya pada veda damn berikut kutipan  dari beberapa sarjana barat mengenai Veda;



1.        Max Mueller, indologis asal jerman mengungkapkan “konsep dunia sebagaimana di simpulkan dari veda dan utamanya dari upanisad sungguh sungguh menggumkan’.

2.        Prof. Heern, sarjana barat terkemuka, menulis “Veda berdiri sendiri dan kemegahannya tersendiri berlaku  sebagai mercusuar bagi gerak maju kemanusiaan”

3.        Lord Morly menyatakan tanpa ragu ”apa yang di temukan dalam veda, tidak ada di tempat lain manapun”

4.        Henry D Thoreau, filsup Amerika, mengungkap‐ kan “kapanpun saya membaca bagian manapun dari Veda, saya merasakan bahwa beberapa cahaya tak dikenal dan bukan  dari bumi ini menerangi saya. Di dalam ajaran agung dari veda, tidak ada sentuhan sektarianisme. Ia adalah untuk segala jaman, cuaca dan nasionalitas dan jalan agung untuk pencapaian pengetahuan besar. Ketika saya ada padanya, saya merasa bahwa saya ada di bawah kelap kelip surga surga di suatu malam musim panas”.

5.        Julius Robert Oppenheimer, ilmuan ( pencipta bom atom AS )dan Filsuf berpendapat bahwa “ akses kepada veda adalah hak istimewa terbesar dari abad ini yang dapat di klaim selama abad abad sebelumnya”.



Maka sudah jelas ditegaskan dalam veda, bahwa hendaknya mahluk  di atas bumi baik itu manusia, hewan dan tumbuhan atau alam sekitar untuk saling mengasihi antara sesama dengan tidak memandang kelebihan atau kekurangan dari mahluk  lainnya dan  juga veda menegaskan bahwa tentang ajran ahimsa yang sangat universal. Terangilah mata yang memancarkan pandangan kasih dan cinta pada yang lain. Veda mengajarkan bahwa semuanya bersahabat, tidak seorangpun musuh. Cinta melahirkan cinta, kebencian melahirkan racun. Bila engkau melihat kepada yang lain dengan mata yang bersahabat dan penuh cinta kasih, mereka akan  mengembalikan pandangan kasih kepadamu. Oleh karena itu adalah merupakan tugas kita yang utama untuk menciptakan atmosfir rasa cinta kasih, kesederajatan dan kekeluargaan antara semua mahluk  yang ada.  Untuk mencapai keseimbangan cinta kasih dapat diwujudkan melalui garis vertical dan horizontal. Terlebih lagi memsuki abad moderen dan global dibutuhkan pemikiran yang arif dan bijaksana. Disuatu sisi dituntut bersikap rasional, namun disisi lain masih diperlukan curahan emosi spiritual terutama hubungan manusia dengan Tuhan sebagai maha pencipta alam semesta beserta isinya. Jalan terbaik  adalah bagaimana cara mensinergikan emosi spiritual dengan sikap rasional. Dalam hal ini relefasi keseimbangan cintakasih dengan abad moderen lebih lebih difokuskan kepada peningkatan kualitas sumber daya manusia Yang memegang teguh  nilai nilai ke Tuhanan, kemanusiaan dan kealaman. Saling mencintai dan mengasihi satu sama lain dan siapa saja tanpa memandang perbedaan fisik akan  memberikan keseimbangan cinta kasih. Dalam Yajurveda 32.8 dinyatakan “Sa’atah Protasca Wibhuh Prajasu” yang artinya: Tuhan terjalin dalam mahluk  yang diciptakannya.



Semoga semua bahagia,

Semoga semua sehat,

Semoga semua senang,

Semoga tidak ada yang menderita dari kesengsaraan

dan kemalangan.



Om Santih Santih Santih Om